The Hidden Prince

The Hidden Prince
Mengunjungi Kyo


__ADS_3

"Nyonya besar Mamo Aizen ... selamat malam." wanita muda yang tak lain adalah Kana segera memberikan salam dengan membungkukkan badannya.


"Kana? Apa kabar, Sayang? Mengapa kamu berada di rumah sakit semalam ini? Apakah kamu sedang sakit?" jawab Mamo Aizen malah memberikan beberapa pertanyaan untuk Kana.


Terlebih Kana terlihat sedang terburu-buru dan tanpa ada pengawalan sama sekali. Dan hal ini berarti sedang ada sesuatu yang sangat serius yang sedang terjadi.


"Kabarku baik, Nyonya besar Mamo Aizen. Bagaimana kabar nyonya besar?" sahut Kana dengan ramah.


Namun meskipun begitu, masih saja terlukis dengan sangat jelas ada sebuah kekhawatiran yang terlukis pada wajahnya.


"Kabarku juga sangat baik, Sayang. Apa yang sedang kamu lakukan di rumah sakit tanpa pengawal? Apa kamu sedang sakit, Sayang?" tanya Mamo Aizen lagi.


"Aku mendengar kabar dari pihak rumah sakit jika suamiku sedang dirawat disini. Jadi aku segera datang kesini, Nyonya. Bagaimana dengan nyonya besar Mamo Aizen? Apakah juga sedang menjenguk seseorang?" sahut Kana balik bertanya.


Namun belum sempat ada perbincangan diantara mereka berdua lagi, seorang tenaga medis terlihat baru saja keluar dari ruangan ICU. Dia menghampiri Kana dan Mamo Aizen.


"Nyonya, tuan Kyo Shigeta sudah sadar. Nyonya sudah bisa masuk." ucap wanita yang mengenakan seragam tenaga medis putih lengkap dengan bandana yang dipakai di rambutnya.


"Syukurlah. Baiklah ... aku akan segera masuk." sahut Mamo Aizen merasa lega.


Sementara Kana yang saat ini mengetahui jika wanita paruh baya yang begitu terhormat itu saat ini rupanya sedang menunggu suaminya, seketika merasa terkejut dan dipenuhi denga rasa bingung.


"Jadi nyonya besar Mamo Aizen sedang menunggu kak Kyo? Uhm ... maksudku Kyo Shigeta?" tanya Kana memastikan jika dia memang tidak salah dengar.


"Benar sekali, Sayang. Apa kamu mengenalnya? Atukah jangan-jangan dia adalah ... suamimu?" tanya Mamo Aizen ragu-ragu.

__ADS_1


Kana mengangguk pelan dan tersenyum tipis mengiyakan pertanyaam itu.


"Ahh ... begitu ya. Aku sungguh sangat tidak menyangka sebelumnya. Pada saat digelar acara pesta pernikahanmu, aku sedang berada di luar negeri untuk mengurus beberapa pekerjaan. Jadi aku tidak bisa menghadiri pesta kamu saat itu. Maaf ya, Sayang. Dan aku sungguh sangat tidak menyangka jika ternyata kamu menikah dengan Kyo." ucap Mamo Aizen dengan hangat.


"Hm. Tidak masalah kok, Nyona besar. Aku tau kamu adalah orang yang sangat sibuk." jawab Kana dengan ramah.


"Baillah. Karena sudah sangat larut, maka aku akan pulang saja. Temanilah Kyo. Besok pagi aku akan datang lagi." ucap Mamo Aizen berpamitan.


"Baik, Nyonya besar Aizen."


"Ayo kita segera kembali saja, Ryuma!" seru Mamo Aizen mulai melenggang meninggalkan Kana.


"Baik, Nenek." sahut Ryuma segera mengikuti Mamo Aize.


Namun sebelum Ryuma meninggalkan tempat itu, dia sempat memberikan tatapan yang sangat tajam untuk Kana.


Namun Kana segera menepis pemikiran buruknya tentang Ryuma dan bergegas untuk segera melihat suaminya. Dan sebenarnya keadaan hati Kana sebelumnya masih belum baik karena foto-foto yang memperlihatkan saat Kyo mengunjungi seoramg gadis di Richmond hotel. Namun Kana mengesampingkan semua itu dan rasa sakitnya dan lebih memilih untuk mengunjungi dan menjaga suaminya.


Namun belum sempat Kana memasuki ruangan ICU itu, rupanya beberapa tenaga medis segera memindahkan Kyo ke ruangan rawat VIP, seperti pesan dari Mamo Aizen sebelumnya.


CEKLEK ...


Kana menyusul Kyo ke ruangan rawat VIP dan mulai memasuki ruangan tersebut. Seperti yang telah dikatakan oleh salah satu tenaga medis sebelumnya, jika Kyo memang sudah sadar. Namun pria itu masih terbaring di atas brankarnya.


"Kana ..." pekiknya lirih saat melihat kehadiran Kana.

__ADS_1


Ada rasa bahagia saat melihat kehadiran Kana saat ini. Kana masih menatapnya nanar dan penuh kesedihan, lalu segera duduk di kursi samping brankar.


"Kana ... maaf sudah merepotkan kamu. Padahal ini sudah terlalu larut dan sudah waktunya kamu untuk beristirahat. Tapi kamu malah harus datang ke rumah sakit seperti ini ... tapi kamu bisa kembali dan beristirahan di rumah saja. Aku tidak masalah kok jika harus sendirian disini." ucap Kyo yang sebenarnya merasa segan terhadap Kana. Dan tentu saja dia tak ingin merepotkan Kana.


"Kenapa? Apa kamu tidak senang saat melihatku datang, Kak? Ataukah ... kamu lebih menginginkan wanita itu yang menemanimu malam ini disini?" ucap Kana tanpa sadar karena seberapapun keras dia berusaha untuk menutupi kekesalannya, tetap saja setiap kata dan sikap lembut Kyo seakan malah sedang berusaha untuk menutup-nutupi sesuatu.


"Apa maksud kamu, Kana? Wanita itu? Maksud kamu siapa?" tanya Kyo menatap Kana rumit.


Kana menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan kembali mengatur nafasnya, "Sudahlah, Kak. Bukan apa-apa kok. Bagaimana kabar kakak? Mengapa semua ini bisa terjadi? Bukankah selama ini kakak selalu terampil dalam bela diri? Lalu mengapa kali ini kakak lengah?" ucap Kana berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


Kyo terdiam dan hanya menatap Kana selama beberapa saat. Lalu dia mulai merubah poisisnya untuk duduk dan meraih jemari Kana.


'Kana, katakan padaku. Apa ada sesuatu yang sedang mengganggumu saat ini?" tanya Kyo dengan hangat dan menatap lekat Kana.


"Tidak ada, Kak." sahut Kana datar dan singkat. Raut wajahnya juga begitu datar dan malas, sangat berbeda dengan biasanya yang selalu berbinar saat mereka sedang bersama.


"Tidak. Aku tau ... saat ini ada yang sedang mengganggu dirimu. Katakan padaku, Sayang ..."


Mendengar kata sayang yang begitu lembut dan tulus diucapkan oleh Kyo membuat raut wajah Kana sedikit berubah. Namun dia masih saja terdiam.


"Di dalam bahtera rumah tangga, kita harus saling terbuka. Jika ada masalah apapun sebaiknya kita saling menyampaikan, memikirkannya bersama dan mencari solusi bersama. Dan satu yang terpenting untuk selalu menjaga bahtera rumah tangga itu adalah sebuah kepercayaan." ucap Kyo dengan hangat dan mengusap lembut jemari Kana yang masih berada di dalam genggamannya.


"Sekarang katakan padaku. Seberapa kamu percaya dan yakin padaku? Melihatmu seperti ini ... sepertinya kamu memang sedang sangat meragukanku." imbuh Kyo masih berkata dengan hangat.


Kana masih terdiam dan hanya menatap Kyo dalam diam saja.

__ADS_1


"Kana, kamu tentu tau bukan? Bagaimana aku? Aku hanyalah pria biasa yang memiliki banyak kekurangan. Di dunia ini tidak ada yang bisa menerima diriku, kecuali kamu. Aku sangat tau diri dan aku tidak akan ..."


Belum sempat Kyo melanjutkan kata-katanya dengan sempurna, Kana sudah memberikan sebuah amplop kecoklatan untuk Kyo, membuat Kyo menggantung ucapannya dan menatap amplop kecoklatan itu dengan kening berkerut.


__ADS_2