The Hidden Prince

The Hidden Prince
Bercerai ?


__ADS_3

Hubungan Kana dan Kyo menjadi semakin dekat karena akhir-akhir ini Kana juga sering mengajari Kyo dalam beberapa pemrograman maupun managenent.


Namun kedekatan mereka ini sungguh semakin membuat sang bibi dan sang paman merasa semakin muak dan membenci Kyo. Hingga akhirnya disaat Tetsuya Zaraki sedang bepergian ke luar negeri karena sebuah pekerjaan, sang paman dan bibi berniat untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk memisahkan Kana dan Kyo.


Sore itu disaat Kana meminta Kyo untuk menemaninya keluar dari rumah besar, betapa terkejutnya mereka disaat melihat ruang utama sudah ada paman, bibi, serta Kiro yang sudah berpenampilan rapi dengan jasnya. Bahkan ada pasangan lain paruh baya yang tak lain adalah kedua orang tua Kiro.


"Kana sayang ..." sang bibi segera menghampiri Kana yang baru saja turun dari tangga sembari menarik tangam Kana dan membuatnya terjauh dari Kyo.


"Ada apa, Bibi? Apakah sedang ada sebuah acara saat ini?" tanya Kana karena melihat mereka semua telah berpakaian formal, seakan sedang akan membahas sesuatu yang penting.


"Benar, Sayang. Hari ini kamu harus bercerai dengan dia!" tandas sang bibi sambil menatap tajam Kyo. "Dan kamu juga harus segera bertunangan dengan Kiro! Hanya dia yang pantas untukmu, Keponakanku." imbuh sang bibi membujuk Kana.


Selembar surat juga mulai dia serahkan untuk Kana. Betapa syoknya Kana setelah membaca isi di dalam lembaran itu adalah sebuah surat perceraian. Selama ini Kana hanya mengira jika selama ini bibinya hanya mengancamnya saja. Namun rupanya bibinya tak main-main untuk meinta dirinya bercerai dengan suaminya.


Sang bibi tiba-tiba saja melakukan hal senekat ini untuk memaksanya bercerai dengan Kyo, dan kini memaksanya untuk menikah dengan Kiro. Sungguh sangat mengejutkan.


"Ayo cepat tanda tangani, Kana! Jangan membuat keluarga Masahiro menunggu ..." sang paman yang masih duduk bersama para tamunya kali ini ikut menandaskan.


Jemari Kana bergetar memegangi surat cerai itu. Dia masih menunduk menatap selembar kertas putih dengan coretan-coretan tinta hitam itu.


"Ayo, Sayang. Hidupmu akan menjadi lebih baik saat kamu menikah dengan Kiro. Tidak seperti saat kamu menikah dengannya!" bujuk sang bibi dengan manis, namun pada kalimat akhirnya dia menatap Kyo dengan penuh ketidaksukaan.


Kyo masih saja terdiam dan mengeluarkan sepatah kata apapun. Karena saat ini dia tak berkuasa ataupun tak berhak untuk melarang Kana. Bahkan Kyo sangat tau diri, jika dirinya memang belum bisa menjadi suami yang baik untuk Kana.


Kyo hanya bisa pasrah akan keputusan dari Kana. Jika Kana memang menginginkan untuk berpisah, maka dia akan menerima keputusan itu.


"Ayo, Sayang. Segera tanda tanganilah ..." bujuk sang bibi kembali.


"Bibi ... maaf ... tapi aku tak akan melakukan semua ini. Aku tak akan menceraikan suamiku. Tidak akan pernah ..." ucap Kana lirih dan masih menunduk.

__ADS_1


Ucapannya terlihat begitu yakin dan tanpa ada keraguan sedikitpun. Kyo yang mendengarkan keputusan dari Kana cukup merasa tenang. Tidak seperti paman, bibi, serta keluarga Kiro yang terlihat mulai geram.


"Kana! Apa kamu sadar dengan apa yang telah kamu katakan? Jangan main-main dan segera tanda tangani surat ini!" kali ini sang bibi meraih tangan Kana dan berusaha memaksanya untuk menandatanganinya.


"Aku tidak mau, Bibi! Aku tidak mau bercerai dan menikah lagi!" tandas Kana menghempaskan tangan sang bibi dengan cukup kasar.


"Beraninya kamu seperti ini kepada bibi, Kana! Semenjak kamu mengenal pria itu, kamu menjadi sangat kasar dan tidak penurut seperti ini! Kamu bukan Kana yang selama ini! Pria liar itu sudah sangat meracunimu hingga membuatmu berubah menjadi seperti ini!" geram sang bibi dengan wajah yang sudah memerah.


"Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, Bibi! Dan aku menikah dengan kak Kyo bukan hanya karena perintah papa! Tapi sejak awal aku memang sudah suka menyukai kak Kyo! Aku ... tidak akan pernah mau bercerai!" tandas Kana menegaskan.


Setelah mengatakan hal itu Kana segera meninggalkan ruangan serta rumah besar Zaraki. Kyo juga segera melangkah cepat untuk menyusul Kana.


Sementara bibi, paman, Kiro dan kedua orang tua Kiro terlihat cukup terkejut setelah mendengarkan keputusan dari Kana.


"Kiro! Ayo kita pulang!" ajak papa Kiro terlihat sudah dipenuhi oleh amarah. Karena wajahnya yang putih dan sedikit berjambang itu, kini sudah memerah menahan amarah.


"Lakukan dengan benar terlebih dulu baru mengundangku!" tandas pria paruh baya itu penuh rasa kecera dan amarah.


Setelah mengatakannya, papa Kiro, mama Kiro dan Kiro segera meninggalkan rumah besar Zaraki. Sementara paman dan bibi Kana terlihat cukup frustasi saat ini.


...🍁🍁🍁...


Tepat saat Lexus hitam metalik itu melaju dan melewati Rainbow bridge, Kana meminta Kyo untuk menepikan mobilnya. Setelah itu gadis cantik itu langsung turun dari mobil dan melihat keindahan pemandangan di hadapannya yang cukup menakjubkan.


Kyo juga segera turun lalu berdiri tepat di samping Kana yang pandangannya masih menatap lurus ke depan. Rambutnya yang indah dan harum menari-nari di udara dan menyapu wajah Kyo.


"Kak, maafkan aku ... keluargaku selalu saja jahat dengan kakak seperti ini. Maaf jika mereka selalu saja seperti ini ..." ucap Kana lirih dan masih menatap nanar lurus ke depan.


Kyo tersenyum tipis dan masih menatap lurus ke depan juga yang berisi dengan lautan luas yang indah.

__ADS_1


"Hmm. Jangan khawatir, aku baik-baik saja kok." ucapnya mulai tersenyum penuh binar karena mengingat sebuah ucapan dari Kana yang mengatakan jika Kana sudah menyukainya sejak awal mereka bertemu.


"Uhm ... ngomong-ngomong apakah ucapanmu tadi adalah benar, Kana?" tanya Kyo memberanikan diri untuk bertanya.


"Tentu saja, Kak. Semua yang aku katakan adalah jujur." jawab Kana seadanya.


"Tentang kamu yang menyukaiku saat kita pertama kali bertemu, apakah itu juga benar?" tanya Kyo dengan sangat hati-hati.


"Tentu saj ... ehhh??" seketika Kana berhenti dan wajah putihnya mulai merona karena malu. "It ... itu ..." ucapnya gugup.


"Kana, terima kasih ..." ucap Kyo dengan tulus dan memberanikan diri untuk meraih jemari Kana yang lembut dan hangat.


"Terima kasih untuk apa, Kak?" tanya Kana tak mendongak dengan sepasang alis indahnya yang berkerut.


"Karena kamu selalu baik padaku dan bisa menerimaku apa adanya. Aku berjanji aku akan berusaha untuk menjaga dan membuatmu bahagia. Meskipun aku masih belum memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan ... namun aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga dan membahagiakanmu ..." ucap Kyo dengan tulus.


Terdengar begitu sederhana, namun sejujurnya untaian kata dari Kyo sungguh membuat hati Kana menjadi lebih tenang.


"Kak, malam ini aku tidak mau pulang." ucap Kana entah terdengar sedikit manja.


"Eh? Lalu ... kemana kita akan pergi? Tempat tinggal lamaku bahkan pasti akan sangat kotor dan tak terawat saat ini." gumam Kyo kebingungan.


"Tidak masalah. Kita menginap disana saja yuk malam ini! Aku sedang tidak ingin bertemu dengan paman dan bibi!" pinta Kana memohon dengan memperlihatkan wajah manisnya.


"Tapi, Kana ... rumah itu sangat kecil dan jelek. Aku khawatir kamu ..."


"Aku tidak peduli, Kak. Asal bersama kakak, maka aku akan senang!" imbuh Kana dengan manis.


Tak ada pilihan lain. Dan Kyo tak bisa menolak permintaan manis dari Kana. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah lama Kyo.

__ADS_1


__ADS_2