
Hari ini adalah akhir pekan, Kana dan Kyo memutuskan untuk pergi ke Nagano bersama dengan menaiki kereta ali, dan menempuh waktu kira kira 1 jam 40 menit. Mereka memutuskan untuk mendatangi sebuah alamat yang telah diberikan oleh Ellios setelah melakukan penyelidikan mengenai nenek dari pihak ibu Kyo.
Namun mereka berdua memutuskan untuk mencari tempat tinggal sementara di hotel, karena mereka sampai disana saat senja. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di Chisun Grand Nagano Hotel yang tak terlalu jauh dari stasiun dan memesan sebuah kamar.
"Kana, segeralah mandi dan kita akan segera makan malam. Kamu sudah lapar kan?" ucap Kyo yang baru saja mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk di atas sebuah sofa panjang.
"Hhm. Iya, Kak. Lalu apakan nanti malam kita akan langsung mengunjungi nenek Yu, Kak?"
"Kita akan mengunjunginya besok saja. Hari ini sebaiknya kita beristirahat saja dulu. Seharian ini kamu bahkan masih beraktifitas penuh saat di kampus. Kamu pasti sangat lelah. Lagipula kita masih punya waktu sampai beberapa hari untuk berada di Nagano kok." sahut Kyo yang sebenarnya juga terlihat cukup lelah.
Karena hari ini dia juga masih bekerja. Kyo dan Kana hanya pulang untuk bersiap dan langsung berangkat ke Nagano dengan menaiki kereta api. Mereka juga mengambil cuti selama beberapa hari.
"Baik, Kak."
.
.
.
Setelah membersihkan diri mereka segera mendatangi salah satu restoran yang berada di Chisun Grand Nagano Hotel. Setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka segera kembali ke kamar untuk segera beristirahat karena sudah merasa lelah dan mengantuk.
Mereka berdua duduk saling membelakangi di tepian pembaringan berukuran king itu. Meskipun sudah beberapa bulan menikah dan sudah beberapa kali tidur bersama, namun mereka berdua terkadang masih merasa canggung dan kikuk seperti ini pada situasi tertentu seperti ini.
__ADS_1
Raut wajah keduanya mulai bersemu merah, dan suasana masih begitu hening. Namun kini jemari Kyo mulai mendekati jemari Kana yang berada di atas pembaringan itu. Dan disaat kedua jemari itu sudah saling bertaut, mereka berdua tak bisa lagi untuk menahan senyumannya.
"Kana. Terima kasih karena sudah bersedia untuk membantuku hingga sampai disini." ucap Kyo dengan tulus.
"Hhm. Aku akan terus mendukung kakak apapun yang akan terjadi. Dan apapun hasil akhirnya nanti, aku akan tetap.akan selalu ada untuk kakak ..." ucap Kana masih dengan wajah yang memerah malu karena genggaman tangan itu.
"Hmm. Bagaimana jika kita segera tidur?" ucap Kyo mengusulkan dan sudah beralih menatap Kana.
Kana hanya tersenyum tipis dan mengangguk samar
"Baiklah. Ayo ..." ucap Kyo sambil membenarkan letak bantal lalu segera mematikan lampu kamar dan berbaring dengan melentangkan tangan kanannya. "Kemarilah, Kana ..." imbuh Kyo sambil menepuk-nepuk sisi sebelahnya dan meminta Kana untuk berbaring disisinya.
Dengan patuh Kana segera berbaring di samping Kyo. Bahkan dia juga menggunakan lengan Kyo untuk bantalan kepalanya. Namun dia malah menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya karena terlalu malu untuk menatap wajah Kyo. Karena saat ini wajahnya masih bersemu merah.
Dan sebenarnya berada di dalam pelukan Kyo adalah salah satu cara yang bisa menenangkan hatinya di kala gundah. Berada di dalam pelukannya dan hanya mendengarkan ritme indah dari jantung Kyo membuatnya merasa lebih nyaman dan melupakan beban hidupnya, meskipun hanya sesaat.
"Ya, Kana?"
"Apa kakak tau? Papa pernah bercerita kepadaku, jika dulu sebelum aku terlahir di dunia ini ... nenek Mamo Aizen dan nenekku pernah berniat untuk menjodohkan cucuk pertama mereka, jika saat itu cucu yang terlahir dari keluarga Zaraki adalah perempuan. Dan ternyata cucu dari keluarga Zaraki memang adalah perempuan. Dan itu adalah aku, Kak. Tapi perjodohan itu tertunda atau bahkan bisa dikatakan gagal, karena cucu pertama keluarga Aizen yang tak lain adalah kakak malah menghilang sejak kakak berusia 1 bulan setelah kecelakaan tragis saat itu.." ucap Kana mulai bercerita.
Sebenarnya Kyo merasa cukup terkejut saat mendengarkan cerita dari Kana. Dia sungguh tidak menyangka jika keluarga Aizen dan keluarga Zaraki rupanya sudah sangat dekat sejak dulu. Bahkan Kyo sungguh tidak menyangka jika dirinya dan Kana pernah dijodohkan oleh kedua nenek mereka semenjak mereka masih bayi. Bahkan sebelum Kana terlahir di dunia ini. Ini sungguh sangat mengejutkan untuk Kana maupun Kyo.
Namun Kyo masih terdiam dan terus mendengarkan cerita Kana dengan seksama. Sesekali dia mengusap lembut kepala Kana dan mengecupnya dengan lembut. Ada rasa bahagia dibalik keterkejutannya setelah mendengar cerita dari Kana.
__ADS_1
"Namun suatu ketika, keluarga Aizen dan keluarga Zaraki ingin melanjutkan perjodohan yang tertunda itu kembali, Kak. Lebih tepatnya 2 tahun yang lalu, kedua keluarga ini ingin melanjutkan perjodohan itu kembali. Namun bukan kakak yang akan menikah denganku, melainkan Ryuma. Dan entah mengapa saat itu ... aku tiba-tiba menolak perjodohan itu. Karena saat itu aku benar-benar sedang sibuk dan ingin fokus karena baru akan memasuki sebuah universitas."
Ucap Kana kembali bercerita, sementara Kyo masih saja terdiam dan mendengarkannya saja. Namun Kyo juga kembali terkejut sekaligus merasa beruntung karena Kana menolak perjodohannya dengan Ryuma 2 tahun yang lalu.
"Dan kini aku merasa sangat beruntung, Kak. Karena aku tidak benar-benar menerima perjodohan dengan Ryuma saat itu. Aku senang karena aku malah bertemu dengan kakak malam itu. Bukan karena kakak adalah Renji Aizen-cucu pertama dari keluarga Aizen. Melainkan karena kakak adalah kakak apa adanya ... aku juga suka kakak sebagai Kyo Shigeta yamg berhati lembut, penolong dan rendah hati."
Imbuh Kana penuh haru dan semakin menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan hangat Kyo.
Kyo mulai mengukir senyuman hangatnya menghiasi wajah tampannya. Dia kembali mengecup lembut rambut Kana yang harum, harum khas dari shampo Kana yang lembut dan selalu dirindukannya.
"Aku juga sangat suka padamu, Kana. Kamu adalah wanita cantik yang berhati lembut, baik, selalu rendah hati dan tulus. Sejujurnya akulah yang paling behagia dan beruntung karena telah menjadi suamimu." ucap Kyo dengan tulus.
"Aku juga sangat berterima kasih, karena saat itu kamu sudah menolak perjodohanmu bersama dengan Ryuma. Andai saja saat itu kamu menerima perjodohan itu, mungkin saja saat ini kamu sudah benar-benar menikah dengannya. Dan aku tak akan pernah bisa bersamamu. Terima kasih, Kana ..."
"Hhm. Mungkin sejak awal kita memang ditakdirkan untuk bersama, Kak. Seperti perjodohan yang telah ditetapkan oleh kedua nenek kita sejak awal." jawab Kana tersenyum lebar di dalam pelukan Kyo.
Kyo mengusap kepala Kana gemas dan mulai memejamkan matanya.
"Hmm. Kamu benar, Kana. Oyasuminasai, Kana-chan ..."
"Oyasuminasai ..."
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Bonus visual Kana ya. Bonus visual Kyo next time ya, nyusul. Hehe ...