
Kediaman rumah besar Aizen, Kichijoji, Tokyo.
Kichijoji memiliki sebuah taman yang besar dengan udara yang segar. Tempat ini seringkali dijadikan para ibu untuk membawa anaknya jalan-jalan dan berbelanja. Dan kawasan ini adalah salah satu tempat tinggal elit di Tokyo, dimana keluarga besar Aizen tinggal.
Seorang wanita paruh baya terlihat mulai turun dari mobil mewahnya setelah pengawalnya membukakan pintu mobil untuknya. Dan dia segera memasuki rumah besar nan mewah itu dengan langkah yang sedikit tergesa.
Begitu banyak pertanyanyaan muncul di dalam benaknya dan membuatnya semakin tak sabar untuk segera sampai di dalam kediaman utama keluarga besar Aizen.
Hingga akhirnya setelah wanita paruh baya itu memasuki ruang utama, dia mulai melihat ada seorang pria paruh baya dan dua orang pemuda yang mulai menyambut kedatangannya.
Dua orang diantara mereka sudah tak asing untuknya. Namun salah satu pemuda lainnyamasih cukup asing untuk wanita paruh baya itu, hingga dia masih saja terus menatapnya cukup lama.
"Selamat datang, Ibu." sambut pria paruh baya itu menyambut sang ibu dan diikuti oleh kedua pemuda itu yang juga mulai membyngkukkan badannya.
"Akashi ... apakah dia ..." ucap Mamo Aizen menatap sosok pemuda tampan yang berdiri ke belakang Akashi.
"Benar, Ibu. Dia adalah Renji Aizen." sahut Akashi mulai mengulurkan tangan kanannya dan memberikan isyarat untuk pemuda itu agar sedikit maju dan menyambut Mamo Aizen.
"Nenek. Salam hormat dariku." pemuda itu kembali memberikan penghormatan untuk Mamo Aizen.
Mamo Aizen masih saja terdiam dan hanya menatap lekat pemuda itu. Pemuda tampan dan perparas rupawan itu ternyata mengenakan sebuah kalung berliontin kristal biru, yang merupakan kalung yang dimiliki oleh keluarga inti Aizen saja.
"Bolehkah aku melihat kalungmu?" tanya Mamo Aizen masih dengan hati-hati.
"Baik, Nenek." ucap pemuda itu tersenyum dan mengangguk sembari melepaskan kalung yang masih melilit pada lehernya. Lalu dia mulai memberikannya kepada Mamo Aizen.
Mamo Aizen menelisik kalung itu dan mengamatinya dengan seksama.
Kalung ini benar-benar asli, dan hanya dimiliki oleh 3 keluarga Aizen saja. Apakah itu artinya pemuda ini adalah cucuku Renji Aizen?
Batin Mamo Aizen kembali menatap lekat pemuda di hadapannya yang juga berpenampilan super rapi dan harum.
__ADS_1
"Nenek ... nenek apa kabar?" ucap pemuda itu lirih dan bergetar. Bahkan sepasang manik-manik hitam legam itu kini juga mulai berkaca-kaca.
"Cucuku Renji Aizen." ucap Mamo Aizen penuh haru dan mulai merentangkan kedua tangannya lebar.
Pemuda itu memberanikan diri untuk semakin mendekati Mamo Aizen dan akhirnya memeluknya haru. Suasana haru menyelimuti suasana di kediaman Aizen saat ini.
Bahkan Akashi dan Ryuma yang melihat semua ini juga terlihat berbahagia dan ikut terharu. Seakan mereka dengan senang hati menerima kehadiran Renji Aizen, cucu pertama dari keluarga Aizen.
"Ayo, nenek akan mengajakmu berkeliling untuk melihat-lihat rumah ini. Selama ini nenek juga sudah mempersiapkan kamar untukmu, Cucuku sayang. Karena nenek selalu menunggumu kembali. Dan nenek selalu yakin jika suatu saat kamu akan kembali. Dan hari itupun kini telah tiba. Nenek senang sekali. Ayo ceritakan kepada nenek tentang dirimu dan apa saja yang selama ini kamu alami. Dan selama ini dimana saja kamu, Renji cucuku sayang?"
Beberapa pertanyaan bertubi dilontarkan begitu saja oleh Mamo Aizen dan terlihat sangat bahagia dan tak sabaran. Dia juga mulai mengajak Renji Aizen untuk melihat-lihat rumah besar ini.
Sementara Akashi dan Ryuma terlihat saling berpandangan setelah kepergian Mamo Aizen dan Renji Aizen. Mereka saling tersenyum penuh makna, namun hanya saling terdiam.
...🍁🍁🍁...
Sementara itu di salah satu ruangan rawat VIP di St. Luke's International Hospital, terlihat Kyo yang sedang berada di balkon kamar rawatnya. Wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat ketika mengingat beberapa pernyataan dari para dokter dan tenaga medis yang menanganinya saat itu.
Ucapan seorang dokter saat itu membuatnya kehilangan salah satu dari semangat hidupnya. Memang selama ini Kyo selalu menerima bagaimanapun keadaan dirinya sendiri dengan hati yang lapang.
Namun bagaimana jika seseorang berniat untuk mengambil kalung itu darinya? Lalu siapa? Dan mengapa dia melakukan hal itu? Kalung yang menyimpan sebuah bukti sebagai keluarga inti Aizen.
"Apakah kalung itu benar-benar terjatuh di depan restoran itu? Atau terjatuh disaat dalam perjalanan ke rumah sakit? Atau ..." kini pandangan Kyo mula beralih menatap sebuah CCTV yang berada si sudut balkon.
"Kamera rekaman CCTV? Sebaiknya aku meminta tolong untuk memeriksa beberapa rekaman CCTV di rumah sakit kerika aku baru saja tiba malam itu."
Gumam Kyo berniat untuk meninggalkan kamarnya. Namun dia malah bertemu dengan Kana yang baru saja datang. Senyuman penuh binar terlihat menghiasi wajah sang istri saat melihat Kyo kembali.
Namun perlahan senyuman Kana mulai memudar karena menyadari jika Kyo berniat untuk meningggalkan kamar rawatnya.
"Kana ..."
__ADS_1
"Apa yang sedang ingin kakak lakukan? Ingin pergi kemana?"
Kyo masih saja terdiam dan kebingungan harus menjawab apa. Namun Kana menganggap diamnya Kyo karena karena kesalahannya kali ini.
"Maksudku adalah ... uhm ... kamu mau pergi kemana, Sayang?" ucap Kana yang terdengar masih sangat kaku dan canggung.
Wajah bingung Kyo seketika mulai berubah, dan seketika sebuah senyuman tipis dan gemas mulai menghiasi wajahnya.
"Kana, begini ... aku sudah kehilangan sebuah kalung dengan liontin kristal berwarna biru. Apa kamu melihatnya?" tanya Kyo berharap jika Kana pernah melihatnya sebelumnya.
Kana terdiam selama beberapa saat dan berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu. Namun dia sama sekali tak tau dimana keberadaan kalung itu. Sebelumnya Kana pernah melihat kalung itu dipakai oleh Kyo saat mereka bersama malam itu. Namum dia tidak tau jika kalung itu kini sudah hilang.
"Aku tidak melihatnya semenjak datang kemarin. Dimana terakhir kali kakak melihat kalung itu? Apa kakak menjatuhkannya?"
"Kana oh Kana ... sepertinya kamu akan selalu memanggilku dengan panggilan kakak ya ... apakah pangilan itu lebih kamu sukai?" ucap Kyo malah menggoda Kana.
"Ehh? Ano ... uhm ... maksudmu ..."
"Tidak perlu memaksakan diri. Kamu boleh memanggil apapun asalkan kamu merasa nyaman." sahut Kyo dengan tulus.
"Benarkah?" tanya Kana penuh binar, karena dia memang belum terbiasa dengan panggilan lain selain kakak.
"Hhm. Tentu saja ..."
"Tapi aku tak akan memanggil seperti itu saat di depan semua orang!"
"Baiklah ... asal kamu nyaman dan bahagia saja."
"Uhm. Soal kalung ... aku akan membantu kakak untuk mencarinya. Aku akan meminta bantuan pihak rumah sakit untuk mencarinya juga!"
"Hhm. Terima kasih, Kana."
__ADS_1
"Iya, Kak." sahut Kana penuh binar menatap Kyo.