The Hidden Prince

The Hidden Prince
Harapan Yang Pupus


__ADS_3

Kyo masih terlihat sangat kebingungan ketika kalung yang merupakan satu-satunya peninggalan dari mendiang kedua orang tuanya kini menghilang begitu saja. Padahal dia merasa sangat yakin dia masih memakainya beberapa saat yang lalu.


"Dimana kalung itu? Apa kalung itu terjatuh saat aku bertarung melawan para berandalan itu." gumamnya sambil berusaha untuk mengingat-ingat kembali.


Dia menuruni brankar dan masih berusaha untuk mencari kalung itu, dan berharap kalung itu terjatuh di sekitar tempat ini. Namun Kyo tak menemukan apapun setelah beberapa saat mencarinya.


Dan disaat dia menatapa pantulan dirinya melalui sebuah cermin di dalam ruangan kamar rawat ini, dia melihat lehernya yang sedukit memar dengan bekas luka memerah memanjang horisontal.


Dan dari sini Kyo bisa menyimpulkan sesuatu, jika seseorang sudah mengambil kalung itu secara paksa. Namun anehnya dia sama sekali tak menyadarinya. Ataukan itu terjadi disaat dia sedang tidak sadarkan diri? Mungkin seperti itulah yang sedang Kyo pikirkan saat ini.


"Tidak! Aku harus menemukan kalung itu! Karena kalung itu adalah satu-satunya yang bisa membuktikan jika aku adalah Renji Aizen! Cucu pertama keluarga Aizen yang telah menghilang 25 tahun yang lalu!" gumamnya berusaha untuk memikirkan sebuah cara untuk mendapatkan kembali kalung berliontin kristal kebiruan itu.


CEKLEK ...


Pintu ruangan rawat tiba-tiba terbuka setelah terdengar suara ketukan dengan ritme pelan dan teratur. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan penampilan formal, elegan dan karismatik tinggi mulai memasuki ruangan rawat ini.


Wajahnya terlihat tegas dan bijak, sanggat menggambarkan kepribadiannya yang juga tehgas dan bijak.


"Nyonya besar Mamo Aizen, selamat sore."


Kyo yang menyadari sosok yang sedang datang berkunjung itu rupanya adalah Mamo Aizen, kini segera memberikan penghormatan untuk menyambutnya.


Wanita paruh baya itu tersenyum tipis dan meletakkan sebuah bingkisan di atas nakas. Lalu dia segera menarik kursi dan duduk di sebelah brankar.


"Bagaimana keadaanmu, Kyo? Apakah sudah merasa lebih baik?" tanya Mamo Aizen dengan ramah.

__ADS_1


"Iya, Nyonya Besar. Aku sudah merasa lebih baik." jawab Kyo sangat kikuk. Karena biar bagaimanapun saat ini status wanita paruh baya yang sedang duduk dekatnya saat ini adalah bos besar dimana dia sedang bekerja saat ini.


"Syukurlah ..." Mamo Aizen tersenyum lega, dan wajahnya hari ini terlihat penuh binar saat dia datang dan mengunjungi Kyo.


Afito putraku memiliki golongan darah O, sedangkan istrinya memiliki golongan darah O. Dan dokter yang memeriksa Kyo juga mengatakan jika Kyo juga memiliki golongan darah O. Dan entah mengapa aku merasa jika anak muda di hadapanku ini adalah benar-benar Renji Aizen, cucuku yang hilang 25 tahun yang lalu. Matanya, juga parasnya juga begitu mirip dengan Afito.


Batin Mamo Aizen menatap hangat Kyo. Wajahnya benar-benar penuh dengan binar. Terlebih disaat mengingat ketika Kyo pernah memanggilnya dengan panggilan nenek. Hal itu semakin membuatnya merasa bahagia.


"Terima kasih karena malam itu kamu telah menyelamatkan aku dan Ryuma. Aku benar-benar tidak tau jika saja kamu tidak ada saat itu. Mungkin aku dan Ryuma-lah yang akan terluka. Terima kasih, Kyo." ucap Mamo Aizen dengan tulus.


"Aku hanya melakukan hal yang seharusnya aku lakukan, Nyonya besar Aizen." jawab Kyo dengan nada rendah.


Lagi-lagi Mamo Aizen dibuat takjub karena melihat kepribadian pemuda itu yang suka merendah dan suka menolong.


"Kyo, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?" tanya Mamo Aizen masih dengan suasana hati yang baik.


"Mengapa saat itu, kamu memanggilku nenek?"


DEGH ...


Pertanyaan itu sempat membuat nafas Kyo tercekat dan membulatkan sepasang matanya. Dia bahkan tidak menyadari jika saat itu dia bisa melakukan hal seperti itu. Semuanya refleks terjadi begitu saja karena saat itu Kyo sangat panik luar biasa.


Dan kini Kyo sangat kebingungan harus menjawab seperti apa? Tentu saja dia sangat ingin mengakui dan menceritakan semuanya yang dialaminya selama ini. Tentu saja dia ingin mengatakan hal itu!


Namun Kyo baru saja kehilangan kalung peninggalan dari mendiang kedua orang tuanya. Satu-satunya benda yang bisa membuktikan siapa dirinya saat ini. Lalu, kini apa yang bisa dia lakukan tanpa kalung itu?

__ADS_1


Seolah-olah kepercayaan di dalam dirinya lenyap begitu saja karena Kyo merasa jika tak akan ada yang bisa mempercayai dirinya jika mengatakan semua itu. Mungkin semua orang akan mengiranya membual dan terlalu tinggi bermimpi!


"Kyo ..." ucapan Mamo Aizen membuyarkan angan Kyo.


"Uhm ... maaf, Nyonya besar ... aku ... sebenarnya ... aku ..."


Belum sempat Kyo melanjutkan ucapannya dengan sempurna, tiba saja sebuah melodi indah mulai terdengar dan berasal dari ponsel Mamo Aizen. Setelah melihat nama si pemanggil, akhirnya Mamo Aizen mulai mengangkat panggilan itu.


"Hallo. Ada apa, Akashi?" tanya Mamo Aizen setelah mengangkat panggilan itu dan dia juga menjauh dari Kyo saat mengangkat panggilan itu.


"Ibu! Aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan, Ibu! Aku sudah berhasil menemukan cucu ibu yang menghilang sejak 25 tahun yang lalu!" ucap Akashi dari seberang line telpon.


"Apa?? Bagaimana kamu bisa yakin, Akashi?" tanya Mamo Aizen yang tak bisa menutupi keterkejutannya saat ini.


"Dia memiliki bukti yang kuat, Ibu! Dia memiliki sebuah kalung yang hanya dimiliki oleh keluarga inti Aizen saja. Ibu cepatlah pulang. Aku akan segera membawa Renji ke rumah besar, Ibu!" ucap Akashi sangat bersemangat.


"Baiklah. Aku akan segera mengajaknya ke rumah besar untuk bertemu dengan ibu. Sampai jumpa" imbuh Akashi bersemangat.


"Hhm ..."


Setelah mengakhiri panggilan itu, Mamo Aizen terdiam cukup lama. Dia sedang merasa begitu kebingungan dan tidak mengerti. Padahal dia merasa cukup yakin dan berharap jika Kyo adalah Renji Aizen, cucunya yang selama ini menghilang sejak 25 tahun yang lalu.


Namun kini tiba-tiba saja putra angkatnya malah mengatakan jika dia sudah menemukan Renji Aizen sekaligus kalung yang hanya dimiliki oleh 3 keluarga inti Aizen juga.


Dengan sangat berat hati akhirnya Mamo Aizen segera berpamitan dan meningalkan Kyo kembali. Karena biar bagaimanapun Renji yang selama ini ditindukannya telah kembali.

__ADS_1


Sebenarnya Kyo merasa cukup kecewa karena kepergian Mamo Aizen. Karena wanita paruh baya itu seakan tiba-tiba melupakan kembali sebuah pertanyaan yang beberapa saat yang lalu telah diajukan untuk Kyo.


Padahal sebenarnya pada awalnya Kyo berharap Mamo Aizen akan mempercayai dirinya meskipun tanpa kalung milik mendiang orang tuanya. Namun pada akhirnya semua harapan itu pulus seketika. Bahkan wajah hangat Mamo Aizen yang selalu terlihat olehnya, berubah menjadi sedikit berbeda ketika Mamo Aizen meninggalkan kamar rawat Kyo.


__ADS_2