The Hidden Prince

The Hidden Prince
Bertemu Kembali


__ADS_3

Malam itu Renji mempersiapkan beberapa barang yang akan dibawanya ke Yokohama. Karena besok sore dia berencana akan berangkat ke Yokohama untuk mengunjungi Kana dan keluarga Kana.


Namun sebuah ritme teratur mulai terdengar dari pintu kamarnya diikuti oleh suara seorang wanita paruh baya.


"Renji, apakah kamu sudah tidur?"


Renji yang menyadari jika itu adalah suara sang nenek, akhirnya segera bergegas untuk membukakan pintu kamarnya.


"Nenek belum tidur?" tanya Renji setelah membuka pintu kamarnya.


Namun alih-alih menjawabnya, Mamo Aizen malah celingukan menatap isi kamar Renji penuh curiga.


"Apa kamu akan meninggalkan nenek lagi? Apakah kamu akan meninggalkan rumah ini? Mengapa kamu tidak menetap saja disini, Renji?!ajak Kana untuk tinggal disini, Renji." ucap sang nenek terlihat sangat keberatan dan bersedih karena lagi-lagi sang cucu harus meninggalkannya sendirian.


Renji tersenyum hangat dan meraih jemari Mamo Aizen lalu berkata, "Nenek, aku hanya mengunjungi Kana saat di akhir pekan kok. Lagipula Kana juga masih belum menyelesaikan kuliahnya. Mungkin setelah menyelesaikan S1 nya, aku akan mengajaknya untuk menetap disini. Dan itu sebentar lagi kok ..." bujuk Renji.


Mamo Aizen hanya bisa pasrah dan menerima semua itu. Karena dia tak akan mampu untuk menahan Renji, lagipula dia juga sangat memahami, pasti Renji juga merindukan Kana.


"Baiklah-baiklah. Tapi kamu harus selalu berhati-hati di jalan. Nenek sungguh khawatir jika mengingat perbuatan Akashi saat itu." ucap Mamo Aizen sangat mengkhawatirkan Renji.


"Hhm. Nenek tenang saja. Aku akan selalu berhati-hati. Nenek juga hati-hati ya."


"Ya ... tentu saja." sahut Mamo Aizen tersenyum hangat sembari mengusap lembut sisi samping wajah Renji.


...🍁🍁🍁...


The State Of The Art Bungalow Eden, Yokohama Tokyo.


Kedatangan Renji disambut hangat oleh Kana, namun rupanya keluarga Zaraki juga sudah menunggu kedatangannya.

__ADS_1


Setelah memberikan kecupan singkat dan sebuah pelukan sebagai ritual baru mereka setiap bertemu kembali, Kana segera menggandeng sang suami untuk memasuki kediamannya.


Di dalam ruangan utama sudah ada Tetsuya, Yoshi dan bibi Kana yang sedang duduk menunggu mereka berdua.


"Selamat malam, Papa mertua, paman, bibi." sapa Renji dengan nada rendah dan oenuh hormat seperti biasanya.


Dia sama sekali tidak berubah dan masih tetap sama seperti dirinya yang sebelumnya. Selalu rendah hati dan tidak pernah dendamnya untuk mereka yang pernah menghina dan meremehkannya.


"Selamat malam. Duduklah, Renji!" sapa Tetsuya mengukir senyum tipis di bibirnya.


Renji dan Kana segera duduk di salah satu sofa panjang. Dan tepat di seberang sang paman dan bibi yang sudah memasang ekspresi sungkan dan senyum kaku.


"Aku membawakan oleh-oleh untuk papa mertua, paman dan juga bibi. Semoga kalian menyukainya." tiga buah bingkisan berbentuk tote bag mulai diserahkan untuk mereka.


"Tentu saja kami akan sangat menyukainya. Terima kasih, Renji." sahut Tetsuya dengan ramah.


"Kakak benar. Kami pasti akan sangat menyukainya." tambah Yoshi tersenyum kaku.


Renji tersenyum hangat menanggalinya, "Nenek Mamo Aizen juga menitipkan salam untuk keluarga Zaraki. Nenek juga meminta maaf karena belum bisa untuk ikut bersama denganku datang mengunjungi keluarga Zaraki. Karena saat ini nenek masih cukup sibuk untuk mengurus beberapa hal sebelum nenek benar-benar beristirahat." ucap Renji dengan suara jernihnya.


"Tidak masalah. Kami sangat memahami jika nyonya besar Mamo Aizen adalah orang besar yang memiliki segudang kesibukan. Jangan khawatir!" ucap Tetsuya tidak mempermasalahkannya.


"Baiklah. Ini juga sudah larut. Dan kamu pasti juga sangat lelah setelah menempuh perjalanan dari Ginza seorang diri. Kana, antarkan suamimu beristirahat dan temanilah dia ..." imbuh Tetsuya beralih menatap putri tunggalnya.


"Baik, Papa. Ayo, Sayang ..." ucap Kana dengan patuh dan segera menggandeng tangan Renji untuk meninggalkan ruangan utama setelah berpamitan.


...🍁🍁🍁...


Di dalam salah satu kamar di kediaman Zaraki.

__ADS_1


"Huft ... untung saja Renji Aizen tidak dendam kepada kita dan masih memperlakukan kita dengan baik." bibi Kana merasa sangat beruntung akan situasi saat ini karena Renji tidak memoeraulit ataupun membalas perbuatannya selama ini.


"Kamu benar! Kita masih sangat beruntung. Biar bagaimanapun keluarga Aizen jauh lebih terpandang jika dibandingkan dengan keluarga Zaraki. Aizen Group sudah cukup diakui dan dikenal hampir semua orang di segala penjuru kota dan dunia! Jika sampai Renji menendang kita, habislah riwayat kita." celutuk sang paman.


"Lalu bagaimana dengan keluarga Kiro? Kita bahkan sudah berjanji kepada mereka akan membuat Kana berpisah dengan suaminya? Mereka akan benar-benar marah kepada kita." ucap sang bibi mulai khawatir.


"Jangan khawatir! Renji pasti akan melindungi kita dengan kekuatan dan kekuasaannya. Yang terpenting saat ini adalah kita harus bisa mengambil hatinya. Ingat! Dia adalah pewaris sah keluarga Aizen Group! Dia satu-satunya pangeran dan pewaris tunggal di dalam keluarga yang sangat terpandang itu! Dapatkan hatinya!" ucap sang paman menatap lekat sang istri.


"Hhm. Kamu benar, Sayang! Baiklah ... semoga saja tidak terjadi hal buruk untuk kita ..."


...🍁🍁🍁...


Sementara itu di kamar lain di rumah besar Zaraki, terlihat Kana dan Renji yang sedang duduk bersama di sofa sambil berbincang dengan obrolan-obrolan ringan.


Hal-hal seperti ini adalah salah satu yang selalu mereka rindukan satu sama lain ketika sedang berjauhan. Karena biasanya hampir di setiap malam menjelang akan tidur, mereka selalu melakukannya bersama.


"Bagaimana kuliahnya?" tanya Renji sangat ingin tau hal-hal yang dialami oleh Kana disaar mereka sedang tidak bersama selama 1 pekan ini.


"Sama seperti biasa. Dan saat ini aku sedang disibukkan dengan mengerjakan beberapa tugas skripsi. Maaf jika aku jadi lebih sering untuk menghubungimu akhir-akhir ini." ucap Kana merasa bersalah.


"Tidak masalah kok. Jika kamu memang sibuk dan membutuhkan wakfu itu, aku akan memahaminya. Dan aku juga minta maaf, karena sering tidak menjawab panggilanmu saat itu. Bukan karena aku tidak mau menjawabnya atau melupakanmu. Tapi karena aku sedang berada di kantor dan tidak boleh sembarangan saat itu. Karena aku masih sangat baru di tempat itu. Dan aku juga harus memberi contoh yang baik untuk mereka. Maaf, Sayang ..."


Kana tersenyum hangat dan mengangguka pelan menandakan dia tidak marah ataupun kesal. Namun sebenarnya saat itu Kana merasa sangat gelisah dan sedih karena tidak biasanya suaminya mengabaikannya berkali-kali seperti itu. Namun dia segera menepis semua pemikiran negatifnya itu, karena dia sangat mengenali sosok suaminya.


"Aku ... merindukanmu, Kana ... sangat merindukanmu. Ini adalah pertama kalinya aku berjauhan denganmu. Tidak aku sangka, rasanya akan begitu berat seperti ini ..." ucap Renji dengan jujur.


Jantung Kana berdetak semakin cepat mendengar pengakuan dari suaminya. Namun dia juga merasa bahagia tak terkira saat mendengarnya.


"Aku juga merasakan hal yang sama. Aku ... juga sangat merindukanmu ..." ucap Kana dengan jujur dan sudah mulai beralih menatap Renji.

__ADS_1


Tentu saja Renji juga merasa bahagia saat mendengarnya. Perlahan dia mendekati wajah ayu Kana yang sudah merona dan mulai memagut lembut bibir kemerahan yang sudah menjadi candu untuknya.


Cukup lama pagutan itu terjadi dengan hangat dan lembut. Hingga akhirnya Renji mulai menggendong depan Kana dan memindahkannya di atas pembaringan.


__ADS_2