The Hidden Prince

The Hidden Prince
Kalung Yang Hilang


__ADS_3

Kana memberikan sebuah amplop kecoklatan untuk Kyo, membuat Kyo menggantung ucapannya dan menatap amplop kecoklatan itu dengan kening berkerut.


"Apa ini, Kana?" tanya Kyo masih menatap rumit amplop kecoklatan itu.


"Bukalah, Kak. Dan kakak akan segera mengetahuinya." sahut Kana lirih dan terlihat sangat lesu.


Karena merasa sangat penasaran, akhirnya Kyo segera memeriksa isi dari dalam amplop kecoklatan itu. Dia mulai mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam amplop kecoklatan itu.


Sepasang mata Kyo mulai membulat saat menyaksikan lembaran demi lembaran dari foto itu. Sebenarnya Kyo tidak terlalu terkejut saat menyaksikan semua itu, karena dia sudah mengira jika seharusnya hal semacam ini memang terekam oleh rekaman CCTV.


Namun yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, siapakah yang dengan sangat sengaja dan sangat berniat untuk melakukan semua ini? Apakah itu juga sang paman?


"Kana, apa kamu percaya dengan semua ini?" tanya Kyo lirih dan menatap lekat Kana. Dia juga meraih kedua bahu Kana dan menghadapkannya padanya kembali


"Aku ingin sekali tidak mempercayainya. Namun bagaimana? Aku melihat kakak mendatangi wanita itu ke Richmond hotel, padahal saat itu kakak mengatakan jika kakak tidak bisa menjemputku karena ada sebuah urusan. Dan ... kini aku sudah paham, jika sebenarnya kakak ingin menemui wanita itu ..." ucap Kana tak berdaya, raut penuh kekecewaan sudah cukup nyata terlukis menghiasi wajah ayunya.


Kyo kembali meraih kedua jemari Kana dan mulai mengatakan sesuatu, "Tidak ada yang terjadi antara aku dan dia. Bahkan aku sama sekali tidak mengenalnya. Saat itu ... aku hanya mengantarkan sesuatu untuknya karena diperintahkan oleh seseorang. Dan aku sungguh tidak mengira jika rupanya mereka berniat untuk menjebakku saat itu. Namun aku masih sangat beruntung, karena saat itu aku bisa segera pergi dari tempat itu dan akhirnya bisa pulang." ucap Kyo dengan jujur.


"Benarkah itu? Siapa yang memerintahkan kakak untuk menemui wanita itu?" tanya Kana yamg seketika merubah ekspresi wajahnya.


Kyo terdiam dan tak segera menjawabnya, namun dia malah tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Kana.


"Kamu tidak perlu tau siapa orang itu, Kana. Asalakan kamu percaya padaku saja ..." ucap Kyo dengan hangat.


Aku tidak ingin merusak hubunganmu dengan keluargamu, Kana. Jadi sebaiknya kamu tidak mengetahui semua hal ini.


Batin Kyo masih mengusap lembut rambut Kana.


"Apakah itu paman dan bibiku? Ataukah ... Kiro?" ucap Kana berusaha untuk menerka-nerka.

__ADS_1


"Eh?? Sebaiknya kita tak terlalu memikirkan kembali hal ini. Di dunia ini selain ada papamu dan kamu yang selalu baik, tentu masih akan ada orang yang tidak menyukai dengan hubungan kita. Terlebih aku yang sangat rendah yang tiba-tiba bisa menikahi putri secantik kamu. Dan tidak akan menutup kemungkinan jika kelak akan ada hal-hal semacam ini lagi. Pesanku untukmu adalah, jika kita masih ingin tetap mempertahankan bahtera rumah tangga kita, maka sebaiknya kita saling terbuka dan saling percaya satu sama lain." ucap Kyo dengan hangat.


Meskipun sebenarnya Kana masih sangat ingin tau siapakah orang yang ingin menjebak suaminya, namun pada akhirnya Kana memutuskan untuk mengikuti saran dari Kyo. Hingga akhirnya Kana hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


"Aku percaya padamu, Kak. Aku tau kamu bukan orang yang seperti itu ..." ucap Kana sembari melemparkan tubuhnya pada pelukan Kyo.


Kyo merasa sangat lega karena akhirnya Kana lebih memilih untuk mempercayainya. Dari sejak pertama bertemu hingga sekarang, sebenarnya Kana sudah cukup memahami perilaku Kyo. Dan sebenarnya dia juga tidak mempercayai foto-foto yang telah diberikan oleh paman dan bibinya. Hal itu sangat bertolak belakang dengan pribadi Kyo selama ini.


"Kakak? Sampai kapan kamu akan memanggilku seperti itu, Istriku?" sebuah kalimat tanya dengan nada jenaka mulai dilontarkan oleh Kyo untuk menggoda dan mengjibur Kana.


"Maaf. Aku akan mulai membiasakannya besok ..." jawab Kana lirih dan tersenyum tipis.


"Besok?"


"Hhm. Iya, besok ..."


"Janji?"


"Baiklah-baiklah. Aku akan menantikannya ..." jawab Kyo yang tak bisa menahan rasa bahagia ini, hingga dia juga tersenyum penuh binar dan kembali mengusap rambut Kana. "Oh iya. Sepertinya besok pagi aku belum diperbolehkan untuk pulang. Jadi aku belum bisa mengantarmu pergi bekerja. Maaf ya ..."


"Tidak masalah kok, Kak. Setelah jam kuliah selesai, aku akan datang mengunjungi kakak lagi." ucqp Kana sangat antusias dan wajahnya penuh binar.


"Hhm. Baiklah ..."


Perbincangan hangat mereka berdua masih terus berlanjut, bahkan hingga Kana tertidur. Karena merasa tak tega saat melihat Kana tertidur di kursi samping brankarnya, akhirnya Kyo mulai memindahkan Kana di pembaringan empuk yang ada di ruangan VIP ini, dan sebenarnya juga sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit.


Cukup lama Kyo duduk di kursi sebelah pembaringan dan menatap hangat Kana yang sudah terlelap. Kyo merasa sungguh sangat beruntung karena memiliki seorang istri yang sangat baik dan pengertian seperti Kana.


Setelah beberapa saat, Kyo malah tertidur di kursi itu dengan jemari yang masih menggenggam jemari Kana. Sementara tangan kirinya malah memeluk tubuh Kana.

__ADS_1


...🍁🍁🍁...


Keesoka harinya ...


Kana yang terbangun dalam kondisi yang seperti itu, tentu saja sangat merasa bersalah terhadap suaminya. Siapa yang sakit, tapi siapa yang malah tertidur di pembaringan yang nyama?


"Ma-maafkan aku ... ini salahku! Seharusnya aku tidak tidur disini ... maaf ..." ucap Kana setelah terbangun dan malah melihat suaminya malah tertidur di kursi, sementara dirinya malah di atas pembaringan yang empuk dan nyaman.


Kyo tertawa kecil melihat ekspresi Kana saat ini, baginya Kana sangat menggemaskan.


"Sudah, tidak masalah kok. Ayo segera bersiaplah untuk pergi ke kampus." ucap Kyo dengan manis dan lembut seperti biasanya.


"Ehh? Jam berapa sekarang, Kak?"


"Kak?? Bukankah kamu sudah berjanji untuk merubah panggilanmu hari ini, Istriku?" sahut Kyo mengulum senyum gemas.


"Ehh ... i-iya ... mak-maksudku ... sa-sayang ... kalau begitu aku akan segera bersiap dan pergi ke kampus dulu." ucap Kana terburu dengan wajah yang sudah merona malu.


Kyo menatap punggung Kana yang sudah semakin menjauh dengan tawa kecilnya karena gemasmelihat tingkah Kana.


.


.


.


Hari ini Kyo hanya seorang diri di ruangan rawat itu. Paman maupun bibinya sama sekali tak ada yang darang untuk mengunjunginya. Sebenarnya dia tidak mengharapkan kunjungan itu. Bahkan dia tak ingin dirawat di rumah sakit.


Karena selama ini Kyo sudah twrbiasa hidup keras dan busa dikatakan sangat jarang berurusan dengan rumah sakit. Dia akan sebisa mungkin mengobati luka-lukanya sendiri, ataupun hanya membeli obat di apotek saja jika memang merlukan obat.

__ADS_1


Kyo meraba-raba lehernya, namun dia merasakan ada seauatu yang sedikit aneh yang telah hilang dari dirinya. Karena masih belum menemukannya, dia mulai membuka dua kancing atasnya untuk memastikan sesuatu.


Dan betapa terkejutnya dia saat tidak melihat kalung peninggalan dari mendiang orang tuanya pada lehernya.


__ADS_2