
Kana terlihat mulai gelisah karena suaminya tak juga kembali setelah menerima panggilan telpon itu. Namun beberapa rekan kerjanya terlihat biasa saja dan masih menikmati pesta itu.
Hingga akhirnya Kana berinisiatif untuk menghubungi Renji setelah dia mencari tempat yang lebih sepi, lebih tepatnya di sebuah koridor yang berada tak jauh dari restoran tersebut.
Tak butuh waktu lama untuk panggilan itu diangkat oleh Renji, bahkan Kana tak sempat mendengar suara tut saat menunggunya.
"Moshi-moshi ..." sapa Renji dari seberang line telpon.
"Kamu ada dimana? Mengapa begitu lama? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Kana mencemaskan Renji.
"Hanya ada sedikit masalah saja kok. Tapi sekarang sudah selesai."
"Syukurlah jika memang seperti itu. Lalu? Sekarang kamu ada dimana?" tanya Kana sangat ingin tau.
"Aku? Aku ... ada dibelakangmu. Coba berbaliklah ..."
Ucapan Renji sempat membuat Kana terkejut, namun dia segera berbalik dan melihat seorang pria dengan setelan jas super rapi dan mewah sudah bersiri dengan tegap di hadapannya. Senyuman indah dan hangat juga menghiasi wajah tampannya itu.
Kana juga tersenyum penuh binar dan menurunkan tangannya yang masih menggenggam ponsel berlogo strawberry itu. Dia juga segera melangkah cepat mendekati Renji.
"Ada apa, Sayang? Aku baru saja meninggalkanmu selama 15 menit tapi kamu sudah sangat merindukanku." celutuk Renji menggoda Kana hingga membuat wajah Kana merona.
"Aku sangat mengkhawatirkan kamu karena tiba-tiba menghilang ..." kilah Kana menunduk malu dan berusaha menghindari tatapan Renji yang masih berusaha untuk menggodanya.
"Hhm? Benarkah hanya itu? Jadi kamu tidak merindukanku?" ucap Renji dengan nada jenaka.
"Tenti saja aku akan selalu merindukanmu." jawan Kana malu-malu.
Renji tertawa kecil mendengar jawaban Kana dan sangat merasa gemas hingga dia mulai memeluk tubuh ramping itu dan sedikit mengusap kepala Kana.
__ADS_1
"Sebaiknya besok kamu ikut bersama denganku ke Ginza. Bagaimana? Bukankah selama 3 hari ini kuliahmu sedang senggang?"
"Sebenarnya aku sangat ingin pergi bersama denganmu. Tapi aku tidak bisa pergi. Meskipun sedang senggang, tapi aku juga harus mempersiapkan untuk mengerjakan skripsi akhirku. Paling tidak agar semua bisa dikerjakan dengan baik dan tidak terburu-buru. Aku ingin segera lulus dan tinggal bersama denganmu."
Sahut Kana membalas pelukan Renji.
"Hhm. Baiklah. Tidak masalah. Aku akan selalu mengunjungimu saat akhir pekan. Dan kamu harus tetap semangat ya!"
"Hhhm ..." Kana mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya sudah! Ayo kita berpamitan kepada yang lain dan segera pulang saja! Aku hanya ingin segera pulang dan menghabiskan waktu di rumah bersama kamu ..."
Kana hanya mengangguk patuh masih dengan wajah yang memerah karena membayangkan sesuatu.
...🍁🍁🍁...
Seorang tuan muda yang berasal dari keluarga yang sangat terpandang terjebak sebuah skandal karena dipergoki melalukan hal tidak benar di sebuah kamar hotel bersama dengan seorang gadis.
Saat itu keluarga Zaraki sedang berada di ruangan makan untuk menyantap sarapan bersama. Disana sudah ada Tetsuya, Yoshi dan istrinya. Sementara Kana dan Renji masih bersiap di kamar mereka.
Namun yang membuat Yoshi terkejut dan kebingungan saat ini adalah tuan muda yang diberitakan di dalam media itu bukanlah Renji Aizen, melainkan dia adalah Kiro.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Kiro yang terjebak bersama gadis itu di hotel? Padahal jelas-jelas aku melihat semuanya disaat mereka membawa Renji yang sudah tak sadarkan diri ke dalam kamar itu. Lalu ... bagaimana ini bisa terjadi? Dan dimana Renji saat ini? Ini gawat sekali ... Renji Aizen pasti akan menghancurkanku setelah ini.
Batin Yoshi masih menatap layar TV berukuran 72 inchi itu dengan wajah yang sudah menjadj pucat. Bukan hanya dia, namun istrinya juga mulai merasa khawatir saat melihat semua berita ini.
"Selamat pagi, Paman Yoshi?"
Sebuah sapaan seorang pria dengan nada ceria mulai terdengar dan membuat Yoshi dan istrinya semakin pucat.
__ADS_1
Yoshi terkejut bukan main ketika melihat Renji sudah datang bersama dengan Kana dengan penampilan yang rapi dan harum.
"Paman Yoshi pasti sangat terkejut dan bingung bukan, saat melihatku selamat dari rencana jahatmu itu?" ucap Renji menyudutkan Yoshi dan berkata dengam sebuah senyuman manis yang menghiasi wajah tampannya.
Kana dan Tetsuya kebingungan mendengarkan ucapan Renji. Sementara Yoshi malah membeku dan tak bisa menjawabnya sama sekali.
"Apa maksud ucapanmu, Renji?" tanya Tetsuya beralih menatap menantunya.
"Papa mertua, selama ini aku selalu menahan diri dan menghargai paman Yoshi dan istrinya. Aku tak pernah mempermasalahkan apapun yang telah mereka lakukan padaku di masa lalu. Namun kali ini aku tidak akan diam saja. Aku akan mengungkap semuanya dan membuat paman Yoshi menerima hukuman atas apa yang telah dia lakukan. Dia harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi."
Ucap Renji dengan nada bicara manis dan selalu tersenyum. Namun semua itu tidak cukup membuat Yoshi dan istrinya merasa tenang. Justru mereka malah merasa semakin terpojok dan mempunyai firasat buruk.
"Paman Yoshi dan Kiro bekerjasama dan berusaha untuk menjebakku kemarin malam. Mereka menjebakku di dalam kamar hotel itu setelah membuatku pingsan. Mereka bahkan juga menyalakan dupa pembangkit gairah. Tapi aku berhasil meninggalkan ruangan itu dan akhirnya Kiro yang berada di dalam kamar itu. Jika papa mertua tidak percaya, papa mertua bisa memeriksa rekaman kamera CCTV ini."
Ucap Renji menjelaskan dan segera menyerahkan sebuah mini computer untuk Tetsuya.
Tetsuya dan Kana terkejut bukan main setelah mengetahui semua itu. Mereka sangat tidak menyangka jika Yoshi bisa melakukan hal sekotor itu untuk Renji.
Yoshi belum sempat melakukan sebuah pembelaan untuk dirinya, namun tiba-tiba saja bel rumah mereka berbunyi. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk sang tamu, namun rupanya para tamu itu adalah para aparat kepolisian yang datang untuk menjemput Yoshi.
"Selamat pagi. Kami datang untuk memeriksa dan menangkap tuan Yoshi Zaraki atas tuduhan penggelapan uang perusahaan N Group sebesar 9.340.000.000 yen ( sekitar 1 trilliun rupiah )."
Ucap salah satu dari aparat kepolisian itu. Sementara salah satu aparat kepolisian lainnya segera mendekati Yoshi dan memborgolnya.
Tetsuya dan Kana tak bisa berkata-kata karena masih merasa terkejut. Sementara Yoshi masih saja terdiam dan hanya bisa pasrah tak memberikan perlawanan. Dia sama sekali tak memiliki keberanian untuk meminta tolong kepada Tetsuya ataupun Renji. Dia merasa sangat malu dan juga merasa sangat bersalah.
"Kami akan membawa tuan Yoshi Zaraki. Permisi!" ucap aparat kepolisian itu bergegas untuk membawa Yoshi.
"Tolong jangan bawa suamiku. Tolong jangan penjarakan suamiku ..." bibi Kana menangis meraung-raung dan masih berusaha untuk menahan lengan suaminya.
__ADS_1