
...'Dia mulai menjalankan rencananya.'...
...*****...
Suara gendang kembali terdengar dan kali ini tidak terdengar lagi suara riuh para tamu seperti sebelumnya. Mereka semua terdiam, seolah sedang menunggu gadis cantik di atas panggung itu buka suara.
"Selamat datang di acara pelelangan Lunar Orchis~"
!!
Natur terkejut. Suara yang didengarnya luar biasa indah. Dia sampai tertegun dan lantas berujar pelan, "Aku pernah diceritakan bahwa yang memiliki suara indah itu adalah makhluk dari ras Siren. Tetapi sepertinya itu tidak benar. Buktinya suara nona itu... Adalah suara paling indah yang pernah kudengar."
Sofia sebenarnya tidak ingin mengakui hal ini, tapi dalam hati dirinya memang setuju dengan ucapan Natur. Dia pun baru pertama kali mendengar suara yang seindah itu dan jika diingat-ingat lagi.... Dia tidak pernah melihat wanita cantik tersebut saat mengikuti pelelangan di tempat ini bersama ayahnya.
Arslan sendiri tidak mengatakan apa pun dan fokus mendengarkan suara dari wanita cantik yang menjadi pemandu pelelangan kali ini. Subjek itu dikenal dengan nama Helena Vennamous.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk penyambutan, Helena Vennamous langsung memanggil rekannya yang membawa barang pelelangan malam ini. Benda tersebut adalah burung phoenix api berusia muda yang masih hidup, bahkan dalam kondisi sehat.
!!!
"Barang pertama saja sudah luar biasa. Itu burung phoenix dan lagi adalah burung phoenix api yang langka."
Natur mendengar suara pria yang berada di bangku, tidak jauh darinya. Dia memang setuju dengan ucapan pria tersebut sebab untuknya sendiri---burung phoenix hanya bisa dilihatnya di dalam buku. Ini merupakan pertama kali dia menyaksikan burung tersebut secara langsung.
Masalahnya, Natur menjadi syok saat Helena Vennamous menyebutkan harga burung phoenix itu yang dimulai dari 50.000 keping emas. Harganya pun semakin bertambah saat para tamu mulai bersaing membelinya.
"Burung phoenix saja sudah semahal itu, ba-bagaimana dengan ginseng air-ku..." Natur menelan ludah mengambil kantong uangnya. Dia menggaruk kepalan dan kemudian buka suara.
Natur berkata, "Aku hanya membawa 20 keping emas. Apa kalian punya uang?"
Sofia tersentak, dia menatap remaja yang ada di sampingnya dan lantas mendengus. "Ya ampun, lalu untuk apa kau datang ke tempat ini? Pelelangan itu adalah tempatnya untuk menghambur-hamburkan uang. Kalau aku adalah pegawai tempat ini, kau pasti sudah kutendang keluar."
"Tsk, lalu apa kau punya uang?" Natur tidak terima diledek dan membuat gadis yang duduk di dekatnya pun berkedip.
Sofia berdecak, "Anak muda. Jika saja aku punya uang, maka aku tidak akan mungkin mengambil jubah ini secara diam-diam."
"Kau..!" Natur untung ingat menahan nada suaranya. Dia berkata, "Bukankah kau... Adalah seorang 'Tuan Putri'? Bagaimana bisa kau... Tidak punya uang?"
"Hah, apa kau pernah lihat ada 'Tuan Putri' yang membayar sendiri barang yang dibelinya?" Sofia berkata, "Dengar. Selama ini, saat aku sedang berbelanja... Akan ada pengawal yang menemani dan seorang juru tulis. Juru tulis inilah yang bertugas mencatat barang apa pun yang kuinginkan. Kemudian catatan itu akan masuk ke petugas administrasi kerajaan dan mereka yang mengurus pembayarannya. Aku sama sekali tidak memegang uang,"
"Haiih... Hidupmu kenapa merepotkan sekali," Natur menggeleng dan berdecak beberapa kali. Dia pun menghela napas berat dan lantas berujar, "Jadi sekarang bagaimana..? Arslan, apa kau punya uang?"
Mendengar Natur bertanya membuat Arslan menoleh. Pemuda bertubuh setinggi 1,3 meter itu menjawab tanpa nada.
Arslan berkata, "Jika aku tidak punya uang... Maka kita tidak akan bisa duduk di lantai dua, bahkan di baris paling depan saat ini."
!!
"Waaah, jadi kau..." Sofia sampai syok. Tidak dia sangka pemuda pendek di sampingnya ini adalah sosok yang menghanyutkan. Dia pun menyenggol Arslan dan berkata, "Berapa banyak harga yang kau bayar untuk tempat duduk ini? Kau bawa uang berapa?"
"Hanya sampai sini... Karena aku sudah kehabisan uang."
!!!
Sofia dan Natur nyaris terjatuh dari tempat duduk mereka. Keduanya menggeleng pelan dan bahkan memijat-mijat kepala mereka. Sekarang, tidak mungkin untuk mendapatkan Ginseng Air.
"Arslan-" Sofia baru akan buka suara ketika terdengar seruan dari Helena Vennamous. Barang yang akan dilelang kali ini benar saja adalah benda yang mereka cari.
__ADS_1
"Ginseng Air..!" Natur berseru.
"Barang ini adalah Ginseng Air yang hanya bisa ditemukan di bagian paling timur Dunia Tengah, sebuah negara bernama Wasser. Ginseng ini mempunyai banyak manfaat dan bahkan tanpa dijelaskan pun, para tamu terhormat sudah mengetahuinya~"
Helena Vennamous tersenyum dan sedikit melambaikan kain gaunnya yang terbelah, memperlihatkan bagian paha putihnya yang mulus tanpa cela. Riuh pengunjung membuat karena tindakannya membuat keadaan kian memanas.
"Kami akan memulai penawaran dari 80.000 keping emas dengan kelipatan 5.000 keping emas."
"90.000!"
Sebuah seruan terdengar yang mana langsung mencuri perhatian banyak orang sebab telah menawar lebih tinggi. Helena Vennamous tersenyum dan berkata, "Tuan di sana menawar sebanyak 90.000~"
"95.000!"
"100.000!"
"105.000!
!!
Natur membuka mulutnya lebar karena dalam sekejap, harga yang semula hanya 80.000 kini semakin tinggi. Dia sampai menahan napas mendengar seruan para tamu yang berusaha untuk mendapatkan ginseng air tersebut.
"Tempat ini..." Natur menelan ludah dan berkata, "Aku rasa tempat ini... Benar-benar mudah mengumpulkan gunungan emas. Lihat saja, mereka terus menyebutkan harga yang menyesakkan dada."
"Bukankah sudah kubilang bahwa Kerajaan Elmora itu diberkahi oleh langit," Sofia buka suara. "Harga seperti ini bahkan belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pelelangan terakhir yang kudatangi. Harganya sampai mencapai lima kali lipat,"
"Li-lima kali?!"
"200.000 keping emas!"
!!!
Semua orang juga sama kagetnya, bahkan Helena Vennamous pun tidak menyangka akan ada yang berani melakukan penawaran setinggi ini. Padahal, penawaran masih berada di angka seratus ribu.
"Siapa orang yang berani menawar se-tinggi itu?"
"Apa orang itu?"
"Mungkinkah dwarf?"
"Ehm..." Helena Vennamous sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia berkedip dan dengan sopan bertanya, "Tuan. Apa kau yakin dengan harga yang kau sebutkan itu?"
Arslan menurunkan tangannya. Dia berekspresi tenang dan dengan suara yang tanpa nada pun berkata, "Kenapa? Apa harganya masih sangat murah di matamu?"
"Ah... Itu..." Helena Vennamous tidak pernah melihat ada orang yang bersikap seperti itu padanya. Ini pertama kalinya dia diberi tatapan yang seakan-akan jika dia bicara kembali, maka orang ini juga akan mulai membeli dirinya.
Helena Vennamous berdeham pelan dan kemudian mengangkat tangan. Dia pun berkata, "200.000 keping emas untuk Tuan yang di sana. Apakah ada penawaran yang lebih tinggi?"
Helena Vennamous menghitung hingga tiga dan pelelangan ginseng air pun selesai dengan harga yang luar biasa. Natur dan Sofia menarik Arslan, mendudukkan pemuda itu tepat di tengah-tengah mereka dan mulai buka suara.
"A-apa yang kau lakukan, Arslan?!" Sofia berkata, "Ba-bagaimana bisa kau tiba-tiba saja dan... Aduuh! Apa kau tahu masalah apa yang kau perbuat ini?!"
"Arslan, 200.000 keping emas itu.... Apa kau memilikinya?" Natur menjadi sangat pucat. "A-aku bahkan tidak pernah melihat tumpukan uang seratus keping emas da-dan kau justru..."
"Kenapa kalian sangat panik?"
"Arslan bodoh!" Sofia berkata, "Tentu saja panik. Dari mana kita akan mendapatkan uang sebanyak itu?! Bukannya kau bilang sudah tidak punya uang lagi? Ka-kau ini..."
__ADS_1
"Hmph, bukannya masih ada dirimu." Arslan berujar tenang dan membuat Sofia tersentak.
"A-aku?" Sofia menunjuk diri sendiri. Dia berkedip beberapa kali karena tidak mengerti maksud dari ucapan pemuda di hadapannya.
"Arslan, apa ma-maksudnya masih ada Sofia?" Natur pun tidak mengerti.
Arslan menarik napas dan dengan tenang berkata, "Sofia adalah Putri Kerajaan Elmora dan sekarang sedang dicari oleh Yang Mulia Raja. Natur hanya perlu mengirimmu kembali dan meminta uang tebusan. Kurasa... yang Mulia Raja tidak akan keberatan mengeluarkan uang sebanyak itu demi putri kesayangannya."
!!!
Natur dan Sofia terkejut sampai melebarkan mata. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Arslan akan mempunyai pikiran yang seperti itu. Keduanya sampai saling berpandangan dan kembali menatap pemuda bertubuh setinggi 1,3 meter itu.
"Arslan, ba-bagaimana bisa kau mengatakan hal ini?" Sofia sangat syok. "Ka-kau ingin menjualku?"
"Kenapa kau bicara seperti itu?" Arslan menyilangkan tangan dan tanpa nada berkata, "Kau yang awalnya sangat ingin membantu Natur, kan? Lagipula kau hanya dipulangkan ke rumahmu,"
"Ta-tapi..." Sofia menatap Natur dan kembali menatap Arslan. Dia sampai tidak tahu harus mengatakan apa pada pemuda pendek di hadapannya.
"Sofia," Arslan buka suara. Dia berujar, "Jika kau menolong Natur, maka dia akan berhutang budi padamu. Apalagi... Bukankah Natur mendaftar sebagai kesatria sihir? Saat dia terpilih nanti, maka Natur akan menjadi kekuatan yang besar di kerajaanmu. Upah menjadi kesatria sihir juga tidak sedikit, Natur bisa mencicil harga untuk ginseng air-nya. Benar, kan? Natur."
Natur berkedip beberapa kali, dia melihat Arslan tersenyum tipis namun tatapan mata pemuda itu masih sangat tenang. Benar-benar sosok yang begitu aneh. Natur bernapas pelan dan lantas menoleh ke arah Sofia.
"Arslan..." Sofia mengepalkan kedua tangannya dan dengan lirih berkata, "Kau sangat jahat.."
"Sofia, apa kau tahu bahwa menolong orang itu tidak semudah kelihatannya?" Arslan buka suara dan membuat Sofia tersentak. Dia pun tanpa nada berkata. "Terkadang kau bahkan harus mengorbankan dirimu sendiri, jadi aku harap mulai sekarang... Kau bisa berpikir dua kali bila ingin membantu orang lain lagi."
Arslan menghela napas dan berkata, "Yaah... Sekarang terserah padamu. Jika kau tidak ingin pulang, maka pergilah dari sini. Kau harus bersembunyi karena sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Yang Mulia Raja dengan memakai burung pipit Natur."
"Apa?!" Natur tersentak kaget, begitu pula dengan Sofia.
Arslan masih bereaksi tenang dan kembali berkata, "Prajurit kerajaan mungkin sudah bergerak kemari. Keputusannya sekarang ada padamu. Jika kau pulang, Natur bisa mendapat ginseng air yang diperlukannya. Tapi jika tidak, kurasa tidak buruk juga jika aku, An, dan Natur menekam di penjara atau digantung di tengah kota."
!!!
Sofia merinding, "Ka-kau jangan mengatakan hal menakutkan se-seperti itu..."
"Ini semua hanya perkiraan. Jika kau keluar, maka An bisa menemanimu. Biarkan aku dan Natur di sini karena sangat tidak sopan jika kita harus pergi semua dan meninggalkan kursi yang sudah dibayar mahal,"
Sofia menggigit bibirnya. Dia menatap sosok bertubuh pendek di hadapannya sebelum berkata, "Akan kulakukan. Tapi kau harus tahu bahwa aku... Sangat membencimu. Ayo pergi An!"
?!
Natur tersentak saat Sofia berjalan pergi dan disusul oleh An. Dia menelan ludah dan lantas menatap ke arah Arslan. Suaranya pelan saat berkata, "Bukankah ini keterlaluan? Ginseng air... Aku bisa mendapatkannya nanti walau harus pergi ke negara Wasser. Tapi Sofia.."
"Tidak perlu cemas. Di luar tidak ada prajurit raja,"
"A-apa?"
"Aku berbohong. Sejak awal aku tidak pernah mengirim pesan apa pun, apalagi meminjam burung pipitmu."
Natur tercengang dengan pernyataan Arslan. Suaranya terbata saat dia bertanya, "La-lalu Sofia...?"
"Aku ingin dia dan An keluar dari tempat ini," Arslan menatap Natur dan tanpa nada berkata, "Kau membawa busurmu, kan? Pegang itu dengan baik."
Natur tersentak, "A-Arslan. Apa sebenarnya rencanamu?"
"Shhh, kita akan mendapatkan ginseng air itu... Bahkan tanpa perlu membayar."
__ADS_1
!!!
******