
...'Tujuannya untuk menyelamatkan dunia dan kemudian mati tanpa penyesalan.'...
...*****...
Sofia tersentak saat Arslan pergi meninggalkan dirinya begitu saja. An sendiri bahkan hanya menatap ke arahnya sebelum mengikuti sosok setinggi 130 cm itu.
"Kau yakin tidak mau ditemani olehku?!" Sofia kembali berseru. Dia melakukan bujukan terakhir dan Arslan sama sekali tidak berbalik untuk melihatnya.
Sofia, "Kau sungguh-sungguh tidak mau aku menemanimu?! Perjalananmu pasti berat, kau tahu?!"
Arslan melambaikan tangan dan berkata, "Tidak perlu. Jaga diri kalian baik-baik,"
"Arslan..!" Sofia memperhatikan punggung pemuda bertubuh pendek yang semakin menjauh itu. Dia pun menarik napas dan lalu menatap ke arah Natur.
"Bagaimana sekarang? Dia benar-benar pergi..." Sofia nampak cemberut. Padahal sebelumnya dia sudah membayangkan akan pergi bertualang mencari Pedang Penakluk Naga bersama Arslan, tapi pemuda itu justru telah meninggalkannya.
"Daripada memikirkan Arslan, bukankah sebaiknya kau pikirkan tentang kerajaanmu?" Natur buka suara. Dia menyilangkan tangan dan berkata, "Saat ini kerajaanmu bisa dibilang sedang menghadapai pemberontakan. Masalah seperti ini bisa saja belum selesai,"
"Untuk itu biarkan ayahku yang mengurusnya. Lagipula aku punya saudara yang menjadi kesatria sihir kerajaan, jadi semuanya pasti akan diurus dengan baik."
Natur memperhatikan elf berambut merah ini dan lantas menarik napas, "Yaah... Kurasa kau benar. Dari yang kulihat... Kau jelas tidak tertarik dengan urusan di kerajaanmu,"
"Aku bukannya tidak peduli pada kerajaan ini, hanya saja aku tidak pandai dalam hal politik. Aku... Berusaha membantu kerajaan ini dengan cara yang lebih kukuasai dan-"
__ADS_1
"Dan hal itu adalah pergi mencari Pedang Penakluk Naga?" Natur menyela dan membuat Sofia tersentak.
Dia mendapatkan tatapan dari gadis elf ini sebelum kembali berbicara. Natur berkata, "Kau meninggalkan kerajaanmu dan berusaha mencari Pedang Penakluk Naga tanpa memberitahu siapa pun justru membuat ayahmu sangat khawatir. Aku menduga, akibat dari tindakanmu ini... Para pemberontak jadi punya celah untuk melakukan aksi mereka. Untung saja, aku dan Arslan ada. Jika tidak, entah bagaimana nasib ras elf kalian."
!!
Sofia terkejut bukan main. Dia tercengang dan kemudian buka suara, "Ke-kenapa kau bicara seperti itu? Se-seakan bahwa ini semua adalah karena salahku? Mana aku tahu akan jadi seperti ini."
Sofia menggelembungkan pipinya, dia merutuk. "Ini semua karena ulah paman Raegon Lugner. Padahal ayahku sangat baik padanya, tetapi dia justru merencanakan pemberontakan. Dia sangat menyebalkan,"
"Raegon Lugner...?" Natur mengusap dagunya dan kemudian berkata, "Jika kuingat-ingat lagi... Seseorang yang pernah dilawan Arslan bukan berasal dari ras elf. Dia itu..."
"Manusia," Sofia buka suara. "Paman Raegon Lugner berasal dari ras Manusia. Ayahku mempekerjakannya dan dia menunjukkan banyak prestasi hingga mendapatkan jabatan sebagai salah satu kepala prajurit. Kebaikan yang diberikan ayahku benar-benar dibalas buruk olehnya,"
Ras manusia dan elf sudah lama berselisih, apalagi mereka yang memiliki ambisi memperluas wilayah kekuasaan masing-masing. Tidak bisa dihitung berapa banyak pertarungan yang terjadi karena kedua ras ini dan bahkan ketika ras manusia keluar sebagai pemenang, mereka pun masih saja mengincar wilayah para ras elf.
"Aku akan menemui ayahku," Sofia kembali buka suara dan segera pergi. Tindakannya membuat Natur tersentak dan remaja berambut pirang tersebut pun mengikutinya.
*
*
"Arslan..." An bergumam pelan. Sepanjang jalan dia memperhatikan pemuda setinggi 1,3 meter ini yang sama sekali tidak mengatakan apa pun.
__ADS_1
"Kenapa... Sofia... Arslan..."
"Mn? Kau bertanya kenapa Sofia tidak ikut dengan kita?" Arslan akhirnya buka suara. Dia bernapas pelan dan berkata, "Tempat tinggalnya ada di sini. Dia punya kehidupan sendiri dan kau juga...."
Arslan memperhatikan An dan kemudian menghela napas. Dia pun berkata, "Ayo jalan An. Kau jangan khawatirkan Sofia, dia akan baik-baik saja."
"Ke mana... Arslan..."
"Kita akan pergi mencari rumahmu," Arslan menurunkan sedikit pandangannya, "Aku tidak bisa membawa An. Nyonya Germina Bunt berkata bahwa An bisa membantuku, tapi dia terlalu muda. Perjalanan ini akan sulit untuknya dan juga berbahaya,"
Arslan sudah memikirkan ini sejak lama dan memutuskan bahwa dia akan pergi sendiri mencari bahan pembuatan pedang miliknya. Dia hanya kebetulan bertemu Sofia, Natur, dan An. Ketiga masih muda untuk terlibat bahaya bersamanya.
Tujuan Arslan adalah melindungi dunia dari kekacauan yang akan ditimbulkan oleh Pedang Penakluk Naga dan kemudian mendapatkan kematian tanpa rasa penyesalan. Sofia, Natur, dan An masih memiliki masa depan tidak terbatas. Mereka tidak bisa berjalan di ujung pedang bersamanya.
Arslan menarik napas dan memperhatikan sekitarnya. Dia dan An sudah keluar dari hutan dan kini akan berjalan meninggalkan kota ini dan Kerajaan Elmora. Tujuannya sekarang adalah sebuah tempat yang sangat jauh bernama Hutan Bening, wilayah para Ras Manusia.
Arslan tidak bisa menyewa kereta kuda sebab meskipun sosok An berwujud manusia karena kemampuan sihir nyonya Germina Bunt, berat tubuh An tetap tidak berubah. Arslan juga tidak ingin menjadikan An sebagai kendaraan pribadi, sosok ini pasti merasakan kelelahan.
Masalahnya, An benar-benar makhluk yang polos. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Arslan dan justru mengangkat pemuda setinggi 1,3 meter itu dan menaruhnya di pundak. Tindakannya jelas mengejutkan.
"An, apa yang kau lakukan?" Arslan berkedip. Dia kembali tersentak saat An berjalan ke arah gerbang kota tanpa menjawab pertanyaannya.
******
__ADS_1