THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
34 - Raja Nelius Sulla II


__ADS_3

...'Penyerangan itu datang tiba-tiba dan berhenti dengan cara yang sama. Tidak ada yang tahu tujuan dari musuh, namun seseorang mulai meragukan identitasku.'...


...*****...


Raegon Lugner menggeram, dia tahu bahwa nyawanya akan terancam jika terus menjadi lawan Pangeran Edgar Lorillis Sulla. Dia pun menggunakan kekuatan sihir yang besar sebagai serangan terakhir sekaligus pengalih perhatian untuk dapat melarikan diri dari situasi ini.


Pangeran Edgar Lorillis Sulla menahan serangan tersebut, namun karena tindakannya... Raegon Lugner berhasil lolos dan lawannya itu menghilang tanpa jejak. Dia bahkan tidak tahu apa sebenarnya tujuan dari Raegon Lugner hingga berbuat sejauh ini.


Di sisi lain, informasi tentang alasan penyerangan ini juga tidak dapat ditemukan oleh para anggota Pangeran Edgar Lorillis Sulla. Anggota Matahari Emas itu memang menang pada pertarungan mereka melawan kesatria sihir dari Kerajaan Gladius, namun sesuatu terjadi.


Anggota Kerajaan Gladius yang berhasil ditangkap justru menggunakan sihir yang membuat tubuh mereka meledak. Bahkan karena tindakan frontal ini, ada beberapa anggota Matahari Emas yang terluka.


Penyerangan yang berlangsung secara tiba-tiba, juga berhenti dengan cara yang sama. Pangeran Edgar Lorillis Sulla lantas pergi ke Istana Hijau dan membicarakan sesuatu dengan Raja Henry.


Natur dan Sofia saat itu masih ada di Istana Hijau. Mereka duduk di dalam aula utama sambil memperhatikan Arslan yang masih makan dengan lahap. Pangeran Edgar Lorillis Sulla dan Raja Henry sendiri berada di ruangan yang lain bersama dengan kedua ratu Kerajaan Elmora.


Natur memperhatikan Arslan sebelum mulai buka suara, "Aku mengkhawatirkan kondisimu tapi sepertinya... Kau lebih peduli pada kondisi perutmu, ya?"


"................" Arslan hanya menatap sekilas ke arah Natur tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya terus makan.

__ADS_1


"Arslan. Kau baik-baik saja, kan?" Sofia buka suara. Dia melihat dengan saksama pemuda setinggi 1,3 meter ini. Walau bertubuh kecil, nafsu makan Arslan sangatlah besar.


Tidak hanya Sofia yang merasa demikian, tetapi juga Gavin William dan Liana Elberta. Kedua anak kembar itu berdiri cukup jauh karena menjaga jarak dari rakyat biasa dan terlihat tidak menyukai dengan sifat rakus Arslan.


Cukup lama bagi Arslan untuk bisa merasakan kenyang. Dia pun meminum segelas air dan lantas melihat Pangeran Edgar Lorillis Sulla berjalan keluar dari sebuah ruangan, seolah sudah membicarakan banyak hal dengan Raja Henry.


Pangeran Edgar Lorillis Sulla hanya sekilas menatap ke arah Arslan sebelum berjalan pergi. Tindakannya membuat Arslan mengerutkan kening, tetapi hanya memberi respon datar.


Natur menatap Sofia dan bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi dengan istana tempat tinggalmu? Kami baru berkunjung sekali dan sudah ada penyerangan. Apa maksudnya itu, hah?"


"Ma-mana aku tahu," Sofia sendiri juga bingung. Dia sebelumnya sudah bertanya pada ayahnya, namun Raja Henry sama sekali tidak memberikan jawaban yang diinginkannya.


Arslan bernapas pelan dan kemudian mulai buka suara. Nadanya tenang saat dia mulai turun dari tempatnya duduk, "Terima kasih untuk makanannya."


!!


"Arslan?" Natur pun juga ikut kaget. Arslan masih terluka, namun pemuda itu seolah hendak pergi dari tempat ini.


Arslan terus berjalan. Dia berujar tenang, "Kau sekarang sudah pulang ke rumahmu. Kupikir sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan, jadi lebih baik untuk pergi."

__ADS_1


"Apa?!" Sofia terkejut dan langsung mengejar Arslan. Dia berkata, "Ba-bagaimana kau bisa pergi begitu saja?"


"Memang apa yang harus kulakukan?" Arslan menatap Sofia. Nadanya datar saat berkata, "Aku tidak punya urusan apa pun dengan Yang Mulia Raja. Kekacauan di tempat ini juga tidak memiliki hubungan denganku. Aku hanya... Tanpa sengaja ditarik masuk dalam perselisihan anggota kerajaan kalian."


"Tapi..."


"Hei, kau..!" Gavin William berseru. Dia dan saudara kembarnya berjalan mendekati Arslan. Suaranya ketus saat berkata, "Kau ini sangat tidak tahu malu. Apa seperti ini caramu berterima kasih pada kebaikan kami?"


"Jika itu untuk makanannya... Aku rasa sudah membayar harga yang pantas. Kalian masih hidup berkat pertolonganku," Arslan berujar tanpa nada dan membuat kedua anak kecil di hadapannya terkejut.


"Kau sombong sekali," Gavin William berkata. "Apa kau tidak tahu konsekuensi dari tindakan angkuhmu ini? Aku bisa memenggal kepalamu."


"Kalau begitu lakukan." Arslan menantang dan membuat anak laki-laki di hadapannya melotot marah.


"Kau..!!" Gavin Willian berseru saat Raja Henry Nelius Sulla II memanggil namanya. Dia pun tersentak dan segera mendengus sambil memalingkan wajah.


Arslan memperhatikan Raja Henry Nelius Sulla II yang berjalan mendekat. Dia tidak mengatakan apa pun, begitu pula dengan sosok pria berambut putih di hadapannya. Hanya saja dari keheningan itu Arslan merasakan bahwa subjek ini terus memperhatikannya dengan saksama.


Raja Nelius Sulla II pada akhirnya buka suara. Dia menatap Arslan dan berkata, "Kau bukan berasal dari ras Garielnains."

__ADS_1


!!


******


__ADS_2