
Ekspresi wajah Sofia terlihat sangat buruk. Dia menggelembungkan pipinya dan yang nampak memerah karena merasa sangat kesal. Saat ini, dirinya sedang berjalan menuju festival dengan memakai pakaian tradisional yang umum digunakan para gadis di tempat ini.
"Dengan sendal kayu dan aku pun harus melambatkan langkahku. Sebenarnya apa bagusnya pakaian yang dibuat susah bergerak ini?" Sofia merutuk, namun terus berusaha berjalan. Dia menyalahkan Arslan atas apa yang terjadi kepadanya.
Sofia beberapa kali memperhatikan sekitarnya dan kemudian menarik napas. Dia berjalan di tempat di mana seorang gadis desa pernah menghilang ketika pulang dari festival.
".............."
Di sekitar Sofia tidak terlalu banyak lentera sehingga penerangan di tempat ini cukup minim. Dia mulai gugup ketika hanya sendirian berjalan dan suara yang terdengar adalah sendal kayu miliknya dan detakan jantungnya.
Semakin lama, perasaan Sofia makin tidak nyaman. Kemeriahan festival masih jauh dan ia belum melihat seorang pun selain dirinya sendiri.
Sofia hanya lurus memandang ke depan tanpa mengetahui ada bayangan hitam yang mulai terbentuk di tanah, nampak bergerak menyerupai gelombang.
"........... Arslan sebenarnya ada di mana?" Sofia berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya. Kakinya semakin dekat dengan bayangan hitam dan hampir saja ia menginjaknya andai sesuatu tidak melesat.
"Crevaison Lux!"
Suara dari sebuah seruan tersebut sangat Sofia kenali. Seseorang berdiri di hadapannya dan dengan tubuh yang pendek. Dia tersentak, "Arslan?!"
"Mundur," Arslan buka suara. Dia memegang belati di tangan kanannya dan ekspresi wajahnya terlihat begitu serius.
Crevaison Lux merupakan serangan tusukan cahaya milik Arslan dan ia arahkan tempat ke gumpalan bayangan hitam di tanah. Sofia yang baru melihatnya pun nampak kaget sampai membuka mulutnya karena tidak percaya.
"A-apa itu?!" suara Sofia terdengar gugup. "Apa barusan aku hampir menginjaknya?!"
Arslan tidak menjawab pertanyaan Sofia. Dia fokus pada lubang hitam yang bergerak dan benda itu pun lantas menghilang begitu saja. Kejadian ini tentu mengejutkan, bahkan Sofia pun terlonjak karenanya.
__ADS_1
"Arslan, apa yang terjadi sebenarnya?! Tolong katakan padaku!" Sofia terlihat ketakutan.
Arslan sendiri mengedarkan pandangannya sebelum pada akhirnya buka suara. Dia berkata tanpa nada, "Bayangan hitam itu mengincarmu dan sepertinya dia jugalah yang sudah menculik para gadis di desa ini."
"Ta-tapi makhluk apa itu?"
"Di belakangmu! Merunduk!" Arslan berseru dan membuat Sofia spontan melakukan apa yang diserukan padanya.
Arslan dengan cepat melesat dan kembali menyerang. Tusukan cahaya yang keluar dari belati miliknya menerjang bayangan hitam yang muncul di dinding, tepat di belakang Sofia.
!!
Bayangan hitam itu lagi-lagi menghilang. Arslan berdecak kesal sebab serangannya belum bisa mengenai makhluk yang entah apa itu.
"Arslan!" Sofia berseru. Dia melihat ada lubang hitam terbentuk tidak jauh di depannya dan sebuah kepala muncul.
Sosok tersebut mempunyai wajah pucat dengan gigi taring yang tajam. Warna mata yang Arslan lihat adalah semerah darah dengan pupil berwarna hitam. Subjek itu juga memiliki tanduk kecil di bagian kiri dahinya dan mempunyai rambut hitam panjang.
Suara ketika gigi-gigi taring itu bergesekan membuat Sofia langsung menutup telinganya dengan kedua tangan. Di sisi lain, Arslan bersiap untuk kemungkinan terburuk bila makhluk yang ia lihat ini menyerang.
"Apa kau tahu daging gadis itu akan semakin alot jika usianya terus bertambah! Jadi jangan mengganggu dan menyingkirlah!"
!!
Monster itu berbicara, Sofia terkejut dan spontan menyerukan nama Arslan. Dia tidak sedang membawa busur panahnya dan pakaian yang ia kenakan pun sama sekali tidak cocok untuk bertarung. Situasinya jelas begitu kesulitan.
"A-Arslan...."
__ADS_1
"Tetap di belakangku," Arslan buka suara. Dia memperhatikan makhluk di hadapannya dan sosok ini sebenarnya berasal dari ras manusia, namun mempelajari sihir terlarang hingga membuatnya mempunyai wujud mengerikan.
"Sebaiknya kau katakan, di mana putri Tuan Wesley yang kau culik?!" Arslan berujar dingin pada sosok mengerikan di hadapannya.
"Putri? Siapa yang kau maksud?" makhluk itu tetap berada di dalam lubang hitam dan lalu berkata, "Aku sudah banyak memakan gadis. Mana kutahu siapa orang yang kau maksud,"
"Keterlaluan," Sofia berlindung di belakang Arslan dan lalu berkata. "Putri Tuan Wesley yang kau culik semalam! Dia adalah gadis yang sedang sakit dan menghilang di dalam kamarnya sendiri. Pa-pasti kau yang sudah menculiknya!"
"Gadis cantik, daripada kau memikirkan orang lain... Lebih baik kau datang kemari untuk menjadi makan malamku."
!!
Sofia terkejut, dia memegang erat pundak Arslan dan meminta dilindungi. Saat ini, dirinya bahkan tidak tahu di mana Natur dan musuh yang ada di hadapannya sekarang seperti mempunyai kekuatan yang berbeda dari semua lawan yang pernah ia hadapi.
"A-Arslan, je-jenis makhluk apa dia sebenarnya?" Sofia buka suara. Pertanyaannya membuat Arslan sedikit melirik ke arahnya.
Dengan ekspresi yang masih sanga waspada, Arslan menjelaskan. "Kau hanya harus tahu bahwa dia adalah manusia, tapi mempelajari sihir hitam. Sihir yang menggunakan nyawa makhluk lain untuk meningkatkan kekuatannya,"
"Tidak mungkin...." Sofia terlihat sangat syok. "Apa ada sihir semacam itu?!"
"Kau sudah lihat sendiri di depan matamu, apa itu masih tidak bisa dijadikan bukti?" nada suara Arslan terdengar meledek. Dia pun berkata, "Mundurlah sedikit dan hati-hati dengan serangannya-!"
Tepat ketika Arslan bicara demikian, makhluk di hadapannya menghilang bersama dengan lubang hitam tersebut. Suasana seketika berubah, bahkan Sofia pun menjadi sangat cemas.
"A-Arslan!"
!!
__ADS_1
******