
Arslan Galie masih berada di Lunar Orchis, terkurung dalam penjara bawah tanah bersama An. Dia memperhatikan obor yang menyala dan merupakan penerang di tempat ini, pandangannya pun mengarah pada giant dari jenis veridis yang sedang tertidur beralaskan tumpukan jerami itu.
Arslan menarik napas dan sudah menghitung hari, setidaknya dia benar-benar dikurung di tempat ini selama lebih dari empat hari. Entah kapan Helena Vennamous mengeluarkannya dari penjara ini.
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Ada hal penting yang harus kulakukan," Arslan mengepalkan tangannya dan baru akan berjalan ke arah pintu sel saat terdengar suara langkah kaki.
Pintu besi di hadapan Arslan terbuka dan seorang pria mulai berjalan masuk. Kesatria sihir dari Lunar Orchis itu menatap Arslan dan lantas buka suara. Dia berkata, "Kau segera ikut denganku."
"Apa sekarang aku sudah dibebaskan?" Arslan tetap berekspresi tenang.
"Aku hanya diminta membawamu menemui nona Helena. Pertanyaanmu barusan tidak bisa kupastikan,"
"Baiklah, tunjukkan jalannya." Arslan melihat ke arah An terlebih dahulu sebelum menghela napas. Dia tidak ingin mengganggu tidur teman baiknya itu dan kemudian memutuskan untuk membiarkan An tetap di sini. Ia sendiri mulai mengikuti kesatria sihir Lunar Orchis dan meninggalkan penjara bawah tanah.
Arslan memperhatikan sekitarnya dan dia dibawa ke sebuah ruangan, lalu diminta membersihkan diri. Ada dua orang pelayan wanita dari ras manusia yang membantu menyiapkan pakaian untuknya.
Di sisi lain, Helena Vennamous berada di sebuah ruangan besar dengan kubah kaca tebal sebagai atapnya. Ada banyak bintang yang terlihat dari kaca itu dan pemandangan malam yang menakjubkan.
Di bawah kubah kaca tersebut, terdapat hutan kecil buatan yang pohon-pohonnya memiliki daun beraneka warna. Ada banyak tanaman dan bunga yang di tengah-tengahnya terdapat satu set kursi dengan sajian di atas meja.
__ADS_1
Helena Vennamous duduk di salah satu kursi dan nampak menatap amplop berisi surat di atas meja. Tulisan pada amplop itu bernama Gearl Howl dan cap segel tiga kelopak yang merupakan identitas dari ras dwarf tersebut.
Helena Vennamous sebenarnya sudah menerima balasan suratnya dari Gearl Howl kemarin malam dan telah memikirkannya hingga sekarang. Ekspresi wajahnya terlihat tidak baik, seolah itu bercampur dengan rasa kesal dan malu secara bersamaan.
Helena Vennamous mengepalkan tangannya saat ia mulai mendengar suara pintu ruangan ini dibuka. Dia pun melihat sosok pemuda bertubuh pendek dan dalam balutan pakaian rapi berwarna hijau muda.
Pemuda itu mempunyai tinggi sebesar 1,3 meter dengan rambut berwarna cokelat gelap. Helena Vennamous baru memperhatikan dengan baik bahwa di bawah sinar bulan, subjek ini mempunyai cahaya kehijauan di matanya.
Ekspresi wajah subjek itu tenang, sulit untuk diketahui apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya saat ini. Di sisi lain, yang merasa canggung dan mudah ditebak justru adalah Helena Vennamous sendiri.
"Kau mencariku?"
Arslan memperhatikan ekspresi wajah gadis di hadapannya dan jujur saja di bawah lembutnya sinar bulan.... Kecantikan Helena Vennamous memang tidak terbantahkan. Apalagi gadis ini dalam balutan pakaian berwarna biru muda yang cukup terbuka, namun tetap anggun.
Arslan bernapas pelan sebelum mengulurkan tangan dan meraih teko di atas meja. Kedua keningnya sedikit bergerak saat ia tahu bahwa isi di dalam teko tersebut adalah teh hangat dengan aroma yang cukup khas.
"Sepertinya kau sudah menemukan apa yang kau cari," Arslan buka suara saat melihat ada sebuah surat di atas meja bersimbol tiga kelopak bunga. Bahkan tanpa membaca nama pengirim surat itu, dia sudah tahu bahwa surat tersebut berasal dari Gearl Howl.
Helena Vennamous memalingkan wajah dan nampak mengigit kecil bibirnya. Arslan yang mengambil cawan itu dan memain-mainkannya sejenak sebelum menatap lurus. Sosok di depannya jelas terlihat sangat sulit bahkan untuk mengatakan 'maaf' padanya.
__ADS_1
"Tidak perlu mengatakan apa pun, Nona Helena. Lagipula kau menepati janjimu dengan memberiku makan 9 kali sehari. Sejujurnya ini pertama kalinya aku merasa tidak sanggup lagi melihat kentang,"
!
"I-itu..." warna merah pada pipi putih Helena terlihat lebih terang. Fakta yang dia dapatkan jelas membuatnya semakin tidak sanggup untuk menatap sosok di hadapannya ini.
Arslan memperhatikan gadis cantik yang duduk di kursi, tepat di seberangnya. Dia baru akan bicara kembali saat mendengar suara lembut dari sosok bertubuh indah di depannya sekarang.
"Aku... Sudah mengetahui semuanya..." Helena menyentuh lengannya sendiri dan berujar, "Aku menemui tuan Trian dan... Dan mengirim surat untuk tuan Gearl. Itu-"
"Jadi bagaimana? Apa kau masih ingin mengurung atau justru ingin membunuhku?" Arslan bertanya tanpa nada dan membuat subjek di depannya tersentak.
"I-itu ma-mana mungkin. Aku..."
"Nona Helena, aku minta maaf."
!?
******
__ADS_1