
...'Mereka dikejar dan masuk ke dalam aula utama tempat Sofia berada.'...
...*****...
Arslan terkejut mendengar penuturan dari Natur. Kerajaan Elmora memang termasuk kerajaan kecil di antara banyaknya kerajaan yang dipimpin oleh ras Elf. Bila memperhatikan dari segi ras, maka tidak mungkin ras elf akan menggulingkan tahta sesama sendiri.
Bangsa Elf itu umumnya angkuh, tetapi mereka akan sangat setia pada makhluk dari ras sendiri. Jadi jika ucapan Natur benar, maka sosok yang akan melakukan sabotase di tempat ini berasal dari ras lain.
"Manusia," Arslan langsung teringat pada ras yang satu ini. Manusia adalah ras yang paling lemah, namun mempunyai keserakahan yang besar. Ras ini bahkan dapat mengambil nyawa sesama sendiri demi untuk mencapai tujuan mereka.
Arslan teringat pada para kesatria sihir kerajaan yang sebelumnya hendak memasukkan dirinya ke dalam penjara. Para kesatria sihir kerajaan itu berasal dari ras manusia.
"Sofia pasti ada di sisi lain istana ini. Ayo lewat sini," Arslan menjadi penunjuk jalan. Dia berlari dengan disusul oleh Natur dan An.
*
*
Sofia sendiri tidak tahu tentang kejadian yang menimpa Arslan dan teman-temannya. Dia saat ini berada di aula utama istananya dan dalam balutan gaun cantik berwarna hijau.
Sofia terlihat menunduk dan jelas sedang dimarahi oleh ayahnya, Raja Henry Nelius Sulla II. Tidak hanya itu, di aula utama ini juga ada kedua ibunya dan dua adik kembarnya.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu?" Raja Henry berkata, "Kau pergi hanya untuk bermain, tetapi selama beberapa hari kau tidak pulang. Apa itu yang dinamakan bermain?"
__ADS_1
"A-aku hanya keluar sebentar, Ayah."
"15 hari apakah itu namanya 'sebentar'?" Raja Henry duduk di singgasananya dan terlihat memijat-mijat kepalanya. Istri keduanya yaitu Ratu Margareth Silva menyentuh lengannya dan mencoba menenangkannya.
"Sofia, kau seorang putri kerajaan dan di samping itu kau adalah anak gadis. Apa yang akan dikatakan orang-orang jika putri kerajaan ini suka keluyuran dengan busur panah di tangannya," Ratu Margareth Silva buka suara, dia pun menatap Sofia dan kembali bicara.
Ratu Margareth Silva, "Karena ulahmu yang tidak pernah pulang itu... Kau merepotkan semua orang. Aku tidak akan mengatakan apa-apa jika kau adalah laki-laki, tapi kau ini adalah seorang anak gadis."
"Ibu..." Sofia berujar, "Kenapa aku selalu dilarang melakukan apa yang kuinginkan? Aku keluar juga demi kerajaan ini,"
"Sofia," Ratu Rosalia Eleanora berkata. "Kami tidak akan melarangmu melakukan apa pun yang kau inginkan, tapi ada batasan dari setiap hal. Kau membuat banyak orang khawatir,"
"Aku minta maaf.." Sofia menunduk dan terlihat cemberut. Dia menoleh ke arah dua anak kecil berusia 9 Tahun tersebut dan mengigit bibirnya saat menyaksikan kedua bocah itu memasang ekspresi wajah seolah merendahkan. Jelas sangat menyebalkan baginya.
"Apa yang terjadi?" Sofia hendak berjalan ke arah luar ketika pintu besar di hadapannya terbuka lebar dan tiga orang kesatria sihir kerajaan terlempar hingga menghantam lantai.
!!!
Ketiga kesatria itu jelas diserang hingga terlempar masuk ke tempat ini. Sofia pun kaget kala mengetahui bahwa pelaku penyerangan ketiga kesatria sihir tersebut adalah temannya, Arslan. Pemuda setinggi 1,3 meter itu berlari masuk bersama An dan Natur.
"Ada apa ini?!" Raja Henry Nelius Sulla II juga ikut tersentak kaget. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan situasinya sekarang, namun dari apa yang disaksikan---sosok yang jelas sudah memulangkan putrinya kini menyerang para kesatria sihirnya.
"Sofia," Natur bergegas masuk dan menghampiri Sofia. Hanya saja detik berikutnya sebuah lesatan sihir yang besar diarahkan padanya.
__ADS_1
Natur kaget dan tidak bisa menghindar, beruntung Arslan dengan sigap menahan serangan sihir itu. Pelaku penyerangan rupanya salah satu dari adik Sofia, sosok bernama Gavin William Sulla.
"Apa-apaan kau ini?" Natur buka suara dan hendak membentak anak laki-laki berusia 9 Tahun itu saat Arslan merentangkan tangan untuk menghentikannya.
Gavin William Sulla bersuara dingin, "Berani sekali kalian bersikap kurang ajar di tempat ini. Makhluk rendahan,"
"Apa kau bilang?!"
"Tenanglah, Natur." Arslan menatap sosok anak laki-laki di hadapannya dan memperhatikan subjek berambut putih tersebut dengan saksama.
Tanpa nada Arslan berkata, "Maaf jika makhluk yang rendahan ini datang ke istana suci kalian. Jika demikian maka sebaiknya kami pergi tanpa harus memberi kabar bahwa kesatria sihir di tempat ini akan melakukan kudeta,"
!!!
"Tunggu," Sofia menarik lengan Arslan dan ekspresi wajahnya terlihat syok. Dia bertanya, "Kudeta a-apa maksudmu?"
"Tepat seperti yang kukatakan," Arslan berujar tanpa nada dan bersamaan dengan hal itu... Ada banyak kesatria sihir yang masuk ke dalam ruangan ini, padahal mereka seharusnya tidak boleh sembarangan.
"Aku membuat kesalahan. Seharusnya langsung kuminta mereka untuk menghabisi kalian tanpa perlu membawa kalian ke penjara,"
Suara itu membuat Sofia langsung menoleh. Dia melebarkan mata saat melihat seorang pria berjalan masuk dengan kibaran jubah hitamnya. Subjek tersebut mustahil tidak dikenalinya. Sosok di hadapannya ini tidak lain adalah Raegon Lugner.
"Pa-Paman Raegon...?"
__ADS_1
******