THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
32 - Hal Tidak Terduga


__ADS_3

Pertarungan di istana Kerajaan Elmora masih berlangsung saat ini. Bahkan sebuah ledakan tercipta dan menghancurkan salah satu atap istana.


Seseorang menggunakan sapu terbang dan melesat keluar dari ledakan itu. Ada pria berjubah putih yang mengejarnya dan pertarungan kembali terjadi, kali ini menghiasi langit istana raja.


Ledakan lain terlihat dan menghancurkan jendela istana, beberapa orang terlempar keluar dengan sihir yang mengikuti mereka. Serangan yang bertubi-tubi itu membuat kesatria sihir tersebut menghantam tanah hingga tidak sadarkan diri.


Arslan berjalan keluar dari puing-puing jendela dan terlihat ada darah yang mengucur di dahi, bahkan menuruni pipinya. Tangannya yang memegang belati juga nampak kotor karena darah. Napasnya sendiri bahkan terlihat tidak beraturan.


Arslan bertarung melawan kesatria sihir dari Kerajaan Gladius. Sementara karena bantuan Pangeran Edgar Lorillis Sulla yang menghadapi Raegon Lugner, beberapa kesatria sihir istana Kerajaan Elmora telah lepas dari kendali sihir boneka.


Tidak hanya itu, anggota kelompok Matahari Emas juga ikut membantu Arslan. Walaupun memang dialah yang lebih banyak melawan para musuh ini.


Pandangan Arslan memburam, hampir saja dia terjatuh andai sebuah tangan tidak langsung menarik dan membuatnya tersentak. Dia pun lantas menoleh dan mengetahui bahwa sosok yang mencegah tubuhnya jatuh tidak lain adalah Natur.


"Arslan, kau baik-baik saja?!" Natur terlihat terkejut. Dia syok karena melihat kondisi Arslan yang penuh luka seperti ini.


"Aku...... Aku lapar,"


!!


Natur tertegun. Dia sepertinya sudah salah mendengar ucapan dari pemuda setinggi 1,3 meter ini. Dirinya yakin bahwa Arslan tidak mungkin mengeluh kelaparan di saat situasi masih dalam suasana yang kacau seperti sekarang.


"Arslan, kau-!!" Natur terkejut bukan main saat mendengar suara perut Arslan yang berbunyi.

__ADS_1


"Bantu aku, Natur. Aku harus mencari makanan sekarang,"


"A-apa? Tapi..." Natur sampai tidak harus memberikan respon seperti apa. Dia hendak bicara ketika sebuah cahaya dari mantra sihir melesat ke arahnya. Tanpa ragu, Natur pun lantas menarik busurnya dan anak panah melesat.


Serangan Natur tidak menghabisi nyawa lawan. Anak panahnya berubah menjadi tali yang mengikat tubuh lawan, bahkan sampai menjatuhkan tongkat sihir mereka. Natur pun kembali meraih lengan Arslan dan menahan tubuh temannya ini yang hampir saja terjatuh.


"Bawa temanmu dan pergi dari sini..!" seorang anggota kelompok Matahari Emas berseru pada Natur. Sosok itu menjadi pelindung dan melawan para kesatria sihir yang merupakan musuh di tempat ini.


"Terima kasih..!" Natur merangkul Arslan dan segera membawanya pergi dengan menaiki busur miliknya. Pertarungan tersebut kini berlangsung antara para kesatria sihir.


*


*


"Ayah, bukankah hubungan Kerajaan Elmora dengan Kerajaan Gladius sangat baik? Kenapa mereka justru menyerang kita?!" Sofia saat ini berada Istana Hijau milik Kerajaan Elmora. Lokasi tersebut ada di antara rimbunan pohon pinus dan cukup tersembunyi.


Gavin William dan saudara kembarnya, Liana Elberta memandang Raja Henry seakan-akan mempunyai pertanyaan yang sama dengan Sofia. Mereka tidak mengerti mengapa Raja Gavierra Bernand dari Gladius menyerang dan bahkan bekerja sama dengan Raegon Lugner.


Raja Henry Nelius Sulla II berpandangan dengan kedua istrinya sebelum menatap Sofia. Dia pun berkata, "Ayah rasa... Apa yang mereka lakukan ada hubungannya dengan peta Pedang Penakluk Naga."


"Apa... Hanya itu?" Sofia merasakan bahwa ayahnya menyembunyikan hal yang lain. Dia pun mengikuti arah pandangan ayahnya yang menatap kedua adiknya sebelum menghela napas.


"Aku rasa ini semua salahku karena aku jarang tinggal di istana," Sofia menyilangkan tangan dan kemudian berbalik. Dia memperhatikan tempat ini yang memang ditujukan untuk perlindungan keluarga kerajaan.

__ADS_1


Sofia tahu bahwa ayahnya tidak hanya mempunyai satu jawaban atas pertanyaannya tadi. Ini hanya perkiraan, tetapi dia merasa bahwa Raja Gavierra Bernand dan Raegon Lugner menginginkan perluasan wilayah ras manusia di tempat ini.


'Kerajaan Elmora mempunyai wilayah yang kecil dan penaklukan terhadapnya tidak akan memberikan pengaruh yang besar bagi ras Elf'. Jadi mungkin karena alasan inilah mereka berani melakukan penyerangan.


Sofia tiba-tiba teringat dengan Arslan dan Natur. Dia baru akan mencari kedua temannya tersebut saat mendengar suara dari luar di mana An sedang bersama dengan kesatria Kerajaan Elmora.


"Bawa dia masuk..!" seorang salah satu kesatria dari kelompok Matahari Emas terdengar. Dia membantu seorang remaja berambut pirang untuk membawa masuk seorang dwarf yang terluka.


"Arslan...!" Sofia terkejut melihat luka Arslan yang begitu parah. Dia pun mengikuti temannya dan melihat Arslan mulai dibaringkan.


Meski menguasai sihir penyembuhan, tetapi tenaga Arslan benar-benar seolah habis karena rasa laparnya. Dan bukannya meminta untuk diobati, dia justru langsung memanggil Sofia dan meminta dibawakan beberapa makanan. Tindakan Arslan ini sangat mengejutkan, bahkan bagi Raja Henry yang mendengarnya.


Arslan meringis karena rasa sakit yang dialaminya sekaligus lilitan pada perutnya. Suara gemuruh yang besar membuat Natur dan lainnya menatap Arslan dengan saksama. Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa subjek ini jauh lebih mementingkan perutnya daripada luka yang dia alami.


"Tolong, jika boleh aku benar-benar ingin makan daging." Arslan memegang perutnya. Dia seolah tidak merasa malu untuk meminta makanan.


"Arslan, darah di kepalamu masih mengucur dan kau justru meminta makanan?!" Sofia berkedip. "Apa kau gila?"


"Aku akan mati kelaparan jika seperti ini," perut Arslan kembali berbunyi. "Cepatlah! Apa kalian sangat miskin hingga bahkan tidak bisa memberiku makan?!"


!!!


Sofia syok. Ini pertama kalinya dia dibentak seperti itu oleh sosok yang selama ini selalu bicara dengan nada datar padanya. Bahkan ekspresi Arslan yang kesal karena tidak diberi makan ini jauh lebih hidup daripada yang terlihat selama ini.

__ADS_1


Hanya saja dia baru saja akan buka suara saat Arslan tiba-tiba tidak sadarkan diri dan itu kembali membuatnya terkejut. Pemuda setinggi 1,3 meter itu seolah baru benar-benar merasakan luka parah yang dialaminya.


******


__ADS_2