
Lokasi Hutan Bening yang merupakan tujuan Arslan berada sangat jauh. Keduanya memang pergi dengan menaiki sapu terbang, namun tentu saja ketika matahari terlalu terik---maka Arslan dan An akan turun lalu beristirahat.
Begitu pula saat hari mulai gelap, keduanya juga turun dan beristirahat di bawah pohon atau di antara bebatuan besar. Makanan yang diberikan oleh Helena cukup untuk bekal selama tiga hari jika saja Arslan tidak memiliki waktu makan yang terlalu banyak.
Arslan terlihat bersandar pada sebuah batu besar, An sudah tidur lebih dulu karena kelelahan setelah menggunakan sihir terlalu banyak. Jujur saja, menaiki sapu terbang butuh energi sihir yang tidak sedikit. Apalagi mereka terbang dengan kecepatan yang lumayan.
"Ini mulai menyiksaku.." Arslan berusaha untuk mengatur napasnya. Dia sudah melakukan perjalanan selama tiga hari dan pertama kali dalam hidup ia mulai membatasi waktu makannya.
Arslan terlihat mulai meminum air yang ada dalam sebuah kantong kulit. Ia mengembuskan napas sebelum mulai memperhatikan An. Giant dari jenis veridis ini tidak pernah mengeluhkan apa pun selama perjalanan mereka dan sejujurnya itu membuat Arslan merasa tidak enak.
An masih terlalu muda untuk melakukan perjalanan yang panjang dan berbahaya bersamanya. Kekuatan fisik subjek ini memang sangat mengagumkan, bahkan Arslan pun mengakuinya. Namun tetap saja Arslan tidak bisa membiarkan temannya ini untuk ikut bersamanya.
Mata Arslan mulai terasa berat dan tidak butuh waktu lama sampai ia tertidur. Bulan malam itu bersinar cukup terang dan kedamaian ini membuat Arslan lebih cepat tertidur daripada malam-malam sebelumnya.
Jarak antara lokasi Arslan sekarang dengan Hutan Bening masih membutuhkan beberapa hari lagi. Tetapi sebelum itu, Arslan harus melewati sebuah desa dengan wilayah yang cukup luas.
Desa tersebut berada di balik bukit yang tidak jauh dari tempat Arslan sekarang. Desa itu padat penduduk dan terlihat sangat ramai di malam hari.
__ADS_1
Ada dua orang yang nampak berjalan bersama di antara bangunan yang ada. Salah satunya adalah sesosok pria dengan sebuah lentera bercahaya lembut di tangannya. Subjek yang bisa berjalan di sampingnya merupakan gadis cantik yang memakai jepit rambut berbentuk pita besar.
"Bagaimana festivalnya malam ini?" pria itu buka suara. Langkah kakinya pelan, mengikuti langkah gadis di sampingnya.
Gadis cantik itu tertunduk, suaranya lembut dan malu-malu saat ia berkata. "Sa-sangat indah..."
"Apa kau mau... Melihat festival lentera lagi denganku?"
"Mm,"
?!
"Lin?" pria itu mengerutkan kening. Gadis yang sebelumnya berjalan bersamanya entah ke mana. Dia mengedarkan pandangan dan memanggil sosok tersebut, namun tidak ada sahutan apa pun.
"Lin?!" pria itu berekspresi pucat, "Lin..! Jangan bercanda. Lin?!"
Kepanikan terlihat di wajah pria itu sebelum pandangan matanya mengarah pada sesuatu di tanah. Dia melihat sebelah sendal yang diyakininya adalah milik gadis yang bersamanya tadi.
__ADS_1
Pria itu pun amat sangat terkejut, perasaannya menjadi sangat tidak nyaman dan kepanikan menyelimutinya. Ia pun berlari dan berteriak, terus memanggil nama gadis itu serta meminta pertolongan.
Menghilangnya seorang gadis di desa yang padat penduduk itu bukanlah hal baru. Kasus tersebut sudah banyak terjadi entah siapa pelakunya. Dan misteri ini akan menjadi penghalang pertama dari perjalanan Arslan.
Pemuda setinggi 1,3 meter itu mulai melanjutkan perjalanannya kembali bersama An. Mereka mengendarai sapu terbang dan menyaksikan pemandangan bukit yang tidak jauh di depan.
Arslan dan An beristirahat dengan baik sehingga mereka bisa terbang lebih cepat lagi. Kedua orang itu pun tiba di sebuah desa, tepat ketika hari mulai sore. Arslan memutuskan turun karena selain sebagai bentuk kesopanan, ia juga perlu membeli beberapa bekal untuk perjalanannya.
"............." Arslan memperhatikan keadaan di depannya dan melihat keindahan tempat ini yang penuh cahaya berwarna-warni.
Dia baru memasuki desa dan keramaian tempat ini sungguh begitu hebat, mirip seperti keramaian di kota besar. Padahal kondisi masih belum terlalu larut dan sudah banyak sekali keriuhan yang terjadi.
"Arslan...?" An pun sepertinya menyadari kondisi tidak biasa di sekitarnya. Mereka baru memasuki desa ini dan keramaian yang terjadi jelas tidak wajar.
"Sepertinya ada festival," Arslan buka suara. Hanya ini jawaban yang bisa ia berikan pada An dan nampaknya itu benar, mengingat ada banyak bangunan di sekitarnya yang dihiasi begitu meriah.
******
__ADS_1