
An terus mengikuti Arslan, bahkan saat mereka berada di antara banyaknya kerumunan orang. Desa yang mereka datangi ini sedang dalam suasana perayaan, kemungkinan besar sebuah festival tahunan.
An terlihat tertarik pada lentera yang begitu indah di sekitarnya, dia baru akan berjalan ke salah satu tempat saat Arslan menyadari hal tersebut dan langsung menarik tangannya.
"An, kau bisa kutinggal jika seperti itu. Ayo," Arslan tidak perlu ikut dalam suasana perayaan ini. Ia lebih peduli pada kondisi perutnya yang hampir mencapai batas.
Arslan terus berjalan, berbelok di sebuah persimpangan dan mulai memelankan langkah kakinya ketika tiba di lorong kecil. Gang itu dihiasi berbagai lentera, indah, namun tidak semeriah di jalan utama.
Ada beberapa kedai di tempat ini. Arslan melihat setiap nama kedai dan sebuah aroma bebek panggang membuatnya tertarik. Ia pun memegang erat tangan An dan kemudian mulai memasuki kedai tersebut.
"............."
Arslan berkedip saat ia melihat pemandangan di dalam kedai bernama Kǎoyā. Tempat ini bernuansa merah dan kuning keemasan. Ada banyak pelanggan di kedai ini dan Arslan beruntung karena masih bisa mendapatkan kursi yang kosong.
Tidak butuh waktu lama bagi Arslan dan An duduk, seorang pelayan kedai pun datang untuk menuliskan pesanan mereka. Arslan sendiri tidak ragu memesan banyak makanan sebab ia mendapat cukup banyak uang dari Helena Vennamous. Delapan porsi hidangan terbaik tempat ini bukan masalah besar baginya.
Arslan jelas mendapat perhatian yang lebih dari pelayan kedai Kǎoyā. Selain mendapat potongan harga, ia juga diberikan hidangan penutup secara gratis dari tempat ini. Tentu saja ia kagum karena pelayan kedai Kǎoyā tahu cara menarik minat pelanggannya.
"An, makanlah yang banyak." Arslan mulai mencicipi bebek panggang khas tempat ini. Aroma rempah yang kuat membuatnya sangat berselera.
"....... Itu sudah terjadi beberapa kali,"
Pembicaran seorang pelanggan yang berada di seberang meja Arslan membuat pemuda itu mengerutkan kening. Dari yang ia dengar, ada sebuah insiden yang sedang terjadi di desa ini.
__ADS_1
"Kabarnya anak gadis dari keluarga Grahan menghilang begitu saja. Di malam sebelumnya, gadis lain yang seumuran dengannya juga ikut menghilang."
"Entah siapa yang menculik para gadis ini, tidak ada yang tahu."
"Aku rasa ini perbuatan hantu,"
Arslan menoleh mendengar kata 'hantu' diucapkan oleh salah satu pelanggan kedai. Dia memperhatikan pria besar berpakaian hijau tersebut yang nampak sedang duduk bersama kedua rekannya.
Pria dari ras manusia itu meminum anggur di gelasnya dan kemudian berkata, "Kalian tahu keluarga Felsen? Semalam, putrinya ketiganya yang bernama nona Verra menghilang dari kamarnya sendiri."
"Bagaimana itu mungkin?!" rekan pria tersebut nampak kaget dan ekspresi wajahnya juga ikut membuat pelanggan yang lain penasaran.
Pria dari ras manusia itu menjelaskan, "Nona Verra terkena demam selama tiga hari. Nyonya keluarga Felsen membawa penyihir yang tahu ilmu pengobatan untuk memulihkan kondisi putrinya. Hanya saja, demam Nona Verra ini tidak kunjung sembuh dan saat hari ketiga.. Ketika penyihir itu kembali... Dia pun menghilang."
Arslan bernapas pelan. Dia pun menatap ke arah An dan menyaksikan bagaimana subjek di hadapannya makan dengan sangat lahap. Dia pun baru akan buka suara ketika mendengar pelanggan kedai di seberang mejanya kembali berbicara.
"Aku sendiri mendengar hal yang lain. Kasus di mana beberapa gadis menghilang sebenarnya sudah biasa terjadi selama Festival Lentera Naga. Cerita yang kudengar, festival ini sering kali memakan korban. Tetapi jika festivalnya tidak diadakan atau perayaan itu dikurangi dari hari yang seharusnya, maka hal yang lebih buruk akan terjadi."
"Apa tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah ini?"
"Para kesatria sihir sudah menyelidikinya, tapi memang ini bukanlah kasus yang mudah ditangani. Hei..! Bawakan lagi anggurnya!"
"Yang kudengar tragedi semacam ini sering terjadi karena berhubungan dengan Pedang Penakluk Naga,"
__ADS_1
"Itu karena orang-orang sering kali membuat cerita dan mengait-ngaitkannya. Bukankah jauh sebelum kabar kemunculan pedang itu... Juga banyak insiden penculikan?"
"............" ekspresi Arslan berubah saat ia mendengar dengan cermat pembicaraan para pelanggan di kedai ini. Dari tatapan matanya, ia jelas memikirkan sesuatu.
Arslan pun mulai melanjutkan makannya. Ia menatap ke arah An dan kemudian mulai mengembuskan napas. Setelah selesai dengan makanannya, Arslan dan An meninggalkan kedai tersebut dan mencari penginapan.
Selama perjalanan mencari penginapan itu, Arslan beberapa kali mengerutkan kening. Dia seperti memikirkan sesuatu dan itu terus berlanjut saat ia menemukan penginapan yang harganya lebih murah.
Penginapan itu memiliki bangunan bertingkat, Arslan mendapatkan kamar di tingkat atas dan ia pun meminta An untuk beristirahat lebih dulu.
Ketika Arslan dan An masuk ke dalam kamar itu serta mengunci pintunya... Suara langkah kaki terdengar dan banyakan seseorang terlihat. Ada sosok berjubah hitam yang datang dengan langkah tenang, subjek itu berdiri di depan kamar tempat Arslan dan An masuk sebelumnya.
Sosok itu baru saja akan menggerakkan tangannya ketika ia tersadar dengan cahaya kecil yang bersinar di sebelah kirinya. Suara seseorang pun terdengar dan pemilik dari suara itu sangatlah mengejutkan.
"Jika tidak ingin mati, katakan identitasmu?"
Suara dingin itu tidak lain berasal dari Arslan. Pemuda setinggi 1,3 meter tersebut sudah tahu bahwa ia selama ini diikuti dan sekarang adalah kesempatan yang tepat membongkar identitas orang yang selalu membuntuti dirinya.
Arslan berdiri di samping subjek berjubah hitam ini dengan sebuah tongkat sihir di tangannya. Ekspresi wajah Arslan dingin, namun tatapan matanya jelas menunjukkan tanda bahwa ia benar-benar akan memakai sihirnya jika orang ini mempunyai niatan jahat padanya.
Sosok berjubah itu sendiri sepertinya tahu bahwa ia tidak akan bisa lolos dan dirinya pun mulai menoleh. Di detik berikutnya, mata Arslan melebar saat ia mengetahui siapa subjek yang selama ini selalu mengikutinya.
"Kau...!"
__ADS_1
******