THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
48 - Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Sofia?"


Arslan tidak salah lihat. Subjek berjubah hitam dan berdiri di depan kamarnya dengan tingkah misterius ini tidak lain adalah Sofia Bellwings, elf yang pernah menjadi teman sepetualangnya meskipun dalam waktu yang singkat.


"Apa yang kau lakukan di sini?" nada suara Arslan datar. Cahaya pada tongkat sihirnya pun meredup. Ia pun menyimpan kembali senjatanya itu karena Sofia jelas bukanlah orang asing.


Sofia mulai membuka tudung yang menutupi kepalanya. Rambut berwarna merahnya terlihat dan jujur saja, kulit wajahnya memang sangat cantik.


"Arslan, kenapa cara bicaramu seperti itu?" Sofia buka suara. Pipinya sedikit berwarna merah saat ia berkata, "Apa kau sama sekali tidak senang bertemu denganku? Kau pendek, bau, menyebalkan."


"..............." Arslan tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengembuskan napas pelan dan lalu masuk ke dalam kamarnya, melewati Sofia. Tindakannya tentu saja membuat elf cantik berambut merah itu tercengang.


Sudah lama Arslan tidak mendengar kata 'pendek, bau, menyebalkan'. Apalagi selama ini yang selalu mengatainya demikian hanyalah Putri Kerajaan Elmora yang entah bagaimana bisa ada di tempat ini.


!


Langkah Arslan terhenti saat ia teringat sesuatu. Segera, dirinya pun berbalik dan menatap ke arah gadis berusia 16 Tahun tersebut.


Arslan buka suara, "Bagaimana kau bisa tahu aku ada di tempat ini?"


Sofia berkedip, nada suara pemuda setinggi 1,3 meter di hadapannya terdengar seakan sedang mencurigainya. Dia pun menjawab, "Aku tentu saja mengikutimu. Memang apa lagi?"


"Sejak kapan?" Arslan mengerutkan kening.


"Aku melihatmu dan An saat berada di Kerajaan Elmora, kalian sedang berjalan-jalan di pasar. Awalnya kupikir aku salah lihat, tapi saat aku dan Natur mengikutimu ke Lunar Orchis... Kami jadi tahu bahwa itu benar-benar kalian."

__ADS_1


Sofia menyilangkan tangan dan lantas berujar, "Ngomong-ngomong. Bukankah sebelumnya kau dan An sudah meninggalkan Kerajaan Elmora? Kenapa kalian bisa berada di Lunar Orchis?"


Arslan menatap Sofia. Dia pun menarik napas dan dengan nada pelan berkata, "Aku dan An diculik. Lalu kami dibawa ke Lunar Orchis,"


"Apa?" Sofia menatap ke arah An yang berbaring di tempat tidur. An terlihat sangat nyenyak tertidur, sepertinya subjek tersebut tidak mengetahui tentang kedatangannya.


"Kau dan An diculik?" Sofia berkedip. Dia kembali menatap Arslan dan berkata, "Apa Helena dari Lunar Orchis itu yang melakukannya?"


"Mn,"


"Lalu bagaimana kalian bisa berjalan-jalan di pasar? Aku bahkan melihat Helena mengantarmu dan An saat kalian pergi,"


"......... Awalnya memang diculik, tapi setelah itu kami diperlakukan seperti tamu."


"Batu Bintang memang barang langka dan sangat berharga, tapi aku tidak tahu bahwa semudah itu untukmu menyakinkan seorang Helena Vennamous," Sofia menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal sebelum menghela napas. "Sudahlah, yang penting kau dan An baik-baik saja."


"Mn," Arslan mengangguk pelan, dia pun tanpa nada bertanya. "Kau datang kemari sendirian? Di mana Natur?"


"Dia pergi membeli sesuatu, akan segera kemari. Karena itulah aku berdiri di depan kamarmu," Sofia berjalan ke salah satu kursi di dalam ruangan ini. Ada teko berisi air dan ia pun tanpa ragu menuangkan air pada gelas yang ada di hadapannya.


"Kalian mengikutiku dan An... Kenapa harus menyembunyikan diri?" Arslan duduk di kursi yang lain dan memperhatikan Sofia yang meminum air di gelasnya.


Sofia menatap pemuda di hadapannya dan berkata, "Tentu saja itu harus dilakukan. Apalagi sebelum kita berpisah, kau sama sekali tidak mengizinkanku ikut denganmu. Bukankah kita ini satu tim? Apa-apaan itu? Kau pergi dan hanya membawa An, hmph."


"Kau seorang 'Tuan Putri'. Bagaimana kau bisa meninggalkan kerajaanmu sendiri begitu saja? Apalagi bukankah baru-baru ini kerajaanmu diserang pengkhianat? Harusnya kau tidak pergi, apalagi mengikutiku kemari."

__ADS_1


"Masalah tentang pengkhianat itu sudah cukup diurus oleh ayah dan kakakku. Para kesatria sihir kerajaan juga bukan selemah itu sampai aku pun harus turun tangan. Lagipula... Aku sama sekali tidak membantu apa-apa,"


Arslan mengembuskan napas, dia menurunkan pandangannya dan kembali bertanya. "Lalu bagaimana dengan pemilihan kesatria sihir? Kau dan Natur bukankah ikut pemilihan itu?"


".............." Sofia cemberut, suaranya pelan saat berkata. "Aku dan Natur memang ikut, tapi... Rasanya tidak terlalu baik karena kau dan An tidak ada..."


!


"Tanpa kau dan An... Rasanya jadi berbeda. Sejujurnya... Kami menjadi agak kesepian," Sofia melanjutkan ucapannya dan sepertinya tidak tahu bahwa ekspresi wajah Arslan sedikit mengalami perubahan.


Arslan memang cukup terkesan mendengar perkataan gadis elf ini. Binar pada matanya berubah, namun dengan cepat kembali seperti semula. Dia pun terlihat sangat tenang dan lalu mulai buka suara.


Arslan berkata, "Meskipun begitu... Kau harus tetap pulang. Raja Elmora pasti mencarimu, kau lagi-lagi membuat ayahmu sendiri cemas."


"Tidak," Sofia dengan semangat berujar. "Kali ini aku pergi secara baik-baik. Aku mendapat izin keluar dan berpetualang dari ayah,"


"Sungguh?" Arslan menaikkan sebelah alisnya, terlihat tidak percaya.


"Kau bisa menanyakannya pada Natur saat ia datang kemari. Aku bahkan menyiapkan perbekalanku sebaik mungkin,"


"..............." melihat betapa senangnya Sofia saat ini membuat Arslan merasa bahwa elf cantik di depannya benar-benar mendapatkan izin dari Raja Elmora untuk pergi bertualang.


Arslan mengembuskan napas, dia merasa ini pasti akan sangat merepotkan. Tetapi sedikit jauh di dalam hatinya... Dia sama sekali tidak membenci hal ini.


******

__ADS_1


__ADS_2