THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
49 - Sofia


__ADS_3

Sofia saat ini masih berada di dalam kamar Arslan dan tetap berbincang dengan pemuda bertubuh pendek tersebut. Tidak butuh waktu lama, Natur pun datang dengan memakai jubah hitam bertudung, sama seperti yang Sofia pakai.


"Kenapa kalian begitu nekat mengikutiku kemari?" Arslan buka suara. Ucapannya membuat Natur mendengus.


Sambil melangkah mendekat, Natur pun mulai membuka tudung yang menutupi kepalanya dan berkata. "Yaah, mau bagaimana lagi. Kita sudah menjadi teman sepetualang, tidak seru jika hanya kau yang pergi dan aku tidak ikut."


"Bukankah kau memiliki misi sendiri?" Arslan menatap Natur, memperhatikan ketika remaja berambut pirang itu mulai duduk di salah satu kursi.


Natur dengan santai berkata, "Tentang misi itu... Aku sudah dalam perjalanan ke tempat berikutnya. Sejujurnya, itu juga berada di tempat di mana kau akan pergi."


Sofia mengerutkan kening, dia menatap Natur dan bertanya. "Apa itu tentang tanaman obat yang sering kau katakan?"


"Mm, benar."


"Jadi Arslan, bagaimana?" Sofia terlihat semangat, "Bukankah kau senang karena kita akhirnya bertualang bersama?"


Sofia tersenyum dan berkata, "Jujur... Kau pasti merasa kesepian karena aku tidak ada, kan?"


"Hah, tidak mungkin." Arslan menggelengkan kepalanya, dia menyilangkan tangan dan mengatakan bahwa Sofia terlalu percaya diri.


Sofia, "Kau tidak perlu merasa malu mengakuinya, lagipula siapa yang akan menolak ditemani gadis cantik sepertiku?"

__ADS_1


"Itu aku," Arslan menarik napas. Dari apa yang disaksikannya sekarang, bahkan jika dirinya mengusir kedua orang ini... Sofia dan Natur tetap akan mengikutinya secara diam-diam.


"Terserah sajalah," Arslan menatap kedua orang di hadapannya dan berkata. "Kalian pasti tidak akan mendengarkan jika kuminta untuk pulang, jadi sebaiknya pergilah beristirahat di kamar lain dan kita akan berangkat besok. Aku benar-benar harus tidur sekarang,"


Sofia, "Tentu. Tapi kau jangan meninggalkan kami, atau aku akan membencimu. Mengerti?"


Arslan tidak mengatakan apa pun, namun dari yang terlihat---dia bukanlah orang yang akan meninggalkan Sofia dan Natur begitu saja. Elf cantik itu pun meninggalkan ruangan dan menyewa kamar yang ada di samping ruangan Arslan. Natur berada di kamar lainnya.


Semakin larut, kondisi di luar penginapan itu apalagi di pusat desa semakin ramai. Natur yang duduk di pinggir jendela kamarnya bisa melihat kemeriahan festival yang sedang berlangsung.


Tidak butuh waktu lama sampai rasa kantuk mulai menghampiri Natur. Dia pun menutup jendela kamarnya dan berjalan ke tempat tidur. Dia memang tidak cukup beristirahat setelah apa yang dilaluinya selama ini.


Pemilihan kesatria sihir kembali berlangsung, namun Natur tidak lagi berminat untuk ikut. Ini karena dia mendengar tentang pergerakan kesatria sihir Lunar Orchis yang hendak menangkap Arslan serta dirinya. Karena itulah Natur pun menyembunyikan identitasnya dan berusaha mencari Arslan, siapa yang akan mengira bahwa Sofia pun memilih untuk ikut bersamanya.


Ada banyak hal yang dipikirkan Natur malam itu sambil tidak butuh waktu lama hingga matanya pun terpejam dan ia tertidur. Di sisi lain, semakin larut malam... Maka semakin meriah festival di desa ini.


Di antara banyaknya bangunan... Ada salah satu rumah yang memiliki halaman luas, lokasi rumah itu tidak jauh dari penginapan tempat Arslan dan teman-temannya berada.


Rumah tersebut dijaga oleh beberapa orang dan merupakan milik keluarga Wesley. Salah satu putri di rumah itu sedang sakit hingga hanya berbaring di dalam kamarnya selama beberapa hari. Namun ketika tiga pelayan datang untuk memeriksa kondisi putri rumah ini---gadis yang berusia 17 Tahun itu tidak ditemukan di dalam kamarnya.


Kabar menghilangnya putri keluarga Wesley dengan cepat menyebar dan pada pagi harinya... Natur pun menemui Arslan, menceritakan tentang kejadian ini termasuk mengungkit tentang ketidakwajaran dalam festival yang dilangsungkan di desa ini.

__ADS_1


Sofia yang bersama dengan teman-temannya dan ikut mendengarkan cerita Natur merasa tertarik. Dia pun mengajak mereka untuk menyelidiki masalah ini, namun Arslan menolak.


Natur berkata, "Kabarnya sudah beberapa hari sejak festival lentera diadakan dan sudah beberapa hari itu juga gadis-gadis berusia belasan tahun menghilang. Aku bahkan mendengar bahwa ini sudah biasa, seolah... Para gadis itu dijadikan persembahan untuk menolak bala di depan ini."


"Aku justru yakin pelakunya adalah hantu," Sofia berkata. "Kita harus menyelidiki ini dan membantu warga desa untuk menemukan para gadis yang menghilang,"


"Kenapa aku harus melakukannya?" Arslan buka suara. Dia menyilangkan tangan dan berkata, "Setiap orang mempunyai masalah mereka sendiri. Apa hubungannya denganku? Lagipula ada hal yang lebih penting untuk dilakukan,"


Sofia menarik napas. "Arslan, apa gunanya bertualang jika tidak bisa membantu orang yang membutuhkan? Kau lihat bahwa desa ini sedang tidak baik-baik saja. Apa kau akan mengabaikannya?"


"Panggil saja kesatria sihir dan biarkan mereka yang menyelidiki masalah ini. Kenapa kau harus melibatkan diri?"


"Uuh, aku juga ingin membantu." Sofia menggelembungkan pipinya, "Ini jelas sesuatu yang harus kuketahui. Rasa penasaran, kau tahu itu?"


Arslan menghela napas, "Haaah... Suatu hari keingintahuan-mu akan membawamu menuju masalah. Aku tidak akan ikut,"


"Arslan, kau menyebalkan." Sofia berkata, "Apa gunanya impian menolong dunia jika membantu satu desa saja kau menolak?! Hmph. Jika kau tetapi tidak mau, maka baiklah. Biar aku saja yang melakukannya,"


!


******

__ADS_1


__ADS_2