THE LAST HOBBIT

THE LAST HOBBIT
26 - Istana Elmora


__ADS_3

...'Identitas Hobbit itu tidak biasa.'...


...*****...


Megan Miller tidak salah lihat. Dia baru akan berseru saat lawannya tiba-tiba pergi begitu saja. Ekspresi wajahnya masih mengandung keterkejutan yang amat sangat.


Hobbit merupakan ras yang dapat dikatakan tidak pernah lagi terdengar kabarnya. Semua orang menganggap bahwa ras ini sudah lama punah ketika perebutan Pedang Penakluk Naga dahulu. Ras Hobbit-lah yang banyak menjadi korban dari perebutan pedang pusaka sebab mereka memang tidak ahli bertarung.


Namun saat ini, tepat di hadapan Megan Miller... Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa sosok yang berdiri di depannya tidak lain adalah ras Hobbit yang sudah punah itu. Tentu... Ini merupakan kabar yang sangat mengejutkan.


Arslan sendiri tahu apa yang dipikirkan oleh sosok di hadapannya. Ekspresi yang terkejut itu telah menjadi bukti bahwa lawannya kali ini mengenali identitasnya. Dia pun dengan cepat meminta Natur untuk membawanya pergi.


*


*


Para anggota Lunar Orchis akan sulit bergerak selama beberapa menit karena sihir yang diberikan oleh Arslan. Dengan keadaan ini, Natur pun jadi leluasa untuk membawa Arslan pergi menjauh dan tujuan mereka adalah untuk mencari An serta Sofia.


Kebetulan sekali dua orang yang mereka cari terlihat. Arslan dan teman-temannya pun pergi meninggalkan hutan pinus itu, namun justru tiba di sebuah jembatan yang mengarah menuju istana milik Raja Henry Nelius Sulla II.


!!


Sofia yang baru menyadari lokasinya sekarang jelas sangat terkejut. Dia, entah bagaimana justru malah dibawa pulang. Jika ayahnya tahu... Maka Sofia tidak akan pernah diizinkan untuk keluar tanpa pengawalan lagi.


"Arslan, apa kau yang merencanakan ini semua?" Sofia menatap pemuda bertubuh sekitar 1,3 meter tersebut dan memperhatikan wajah Arslan baik-baik.


"Kau ini pendek bau, tapi sangat licik." Sofia berkata, "Bukankah ini sifat yang tidak baik? Kenapa kau selalu saja melakukan hal buruk padaku? Memangnya apa salahku padamu?"


"...................." Arslan tahu Sofia tidak akan setuju, namun reaksinya tetap tenang seperti biasa.


Arslan buka suara, "Ayahmu merindukanmu. Tidakkah kau juga merindukannya? Raja Henry hanya mencemaskan putrinya yang entah hilang ke mana. Membawamu pulang jelas adalah pilihan yang tepat,"

__ADS_1


"Kau pasti hanya ingin hadiahnya, kan?" Sofia mengepalkan erat tangannya dan berkata, "Kau selama ini hanya mengincar uang hadiah itu, jadi kau memulangkan aku. Kau... Kau teman yang jahat,"


"Awalnya mungkin seperti itu, tapi sekarang Natur sudah mendapatkan ginseng air untuk campuran obatnya secara gratis. Aku juga tidak butuh uangmu, jadi kau bisa saja pergi melakukan hal yang besar atau apa saja yang ingin kau lakukan."


Arslan melanjutkan, "Natur akan pergi dan aku sendiri juga sudah membalas budi dengan membantunya. Saat ini sebaiknya kita cari jalan keluar masing-masing,"


Sofia memperhatikan Natur dan kemudian menatap ke arah Arslan. Dia cemberut dan lantas berkata, "Kalian akan pergi begitu saja setelah urusan kalian selesai? Tapi apa kalian tidak bisa pergi bersamaku saja? Aku ini juga sangat menyukai petualangan."


Arslan berkata, "Kau perlu mengatasi kesalahanmu dengan ayahmu terlebih dulu. Baru setelahnya.... jika sudah mendapat izin akan kubawa kalian pergi."


*


*


Helena Vennamous sangat terkejut ketika para kesatria sihir terbaiknya kini pulang dengan kabar yang tidak mengenakkan. Megan Miller menjelaskan tentang lawannya yang ternyata adalah seorang Hobbit.


"Ras itu harusnya sudah tidak ada, jadi bagaimana bisa ada hobbit di tempat ini?" Helena Vennamous tidak percaya dengan ucapan Megan Miller.


"Tapi, Nona. Yang dikatakan Nona Megan benar," seorang kesatria sihir menambahkan. "Orang itu benar-benar adalah Hobbit. Aku melihatnya sendiri,"


!!


Helena Vennamous memikirkan ini baik-baik. Dia bergumam, "Jika sihirnya sangat hebat sampai bisa menghentikan kalian semua, maka... Hobbit itu pasti..."


Helena Vennamous terbelalak, dia menatap Megan Miller dan berkata. "Hobbit itu besar kemungkinan adalah sosok sebenarnya dari pemilik Pedang Penakluk Naga."


!!!


Semua kesatria sihir yang ada di dalam bangunan Lunar Orchis hari itu langsung menjadi gempar. Helena Vennamous bahkan menyuruh beberapa orang bawahannya untuk memberikan kabar ini pada teman kerja sama Lunar Orchis. Kabar bahwa pemilik Pedang Penakluk Naga adalah sesuatu yang sangat penting.


Arslan sendiri sama sekali tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya. Dia dan Natur mengantar Sofia menuju istana Raja Henry Nelius Sulla II dan itu pun hanya sampai di tengah jembatan.

__ADS_1


Arslan tidak ingin mengantar Sofia hingga ke dalam. Dia pun meminta Natur agar menemani gadis elf tersebut, sementara dirinya dan An menunggu di tempat ini.


Natur tentu saja menyetujuinya, dia memang sudah lama ingin melihat apa yang ada di dalam sebuah istana dan sekarang impian kecilnya menjadi kenyataan.


Natur sudah melepaskan sihir yang membuat penampilan Sofia berubah. Sekarang, gadis elf itu datang tanpa sihir dan penyamaran seperti yang selalu ia lakukan.


Kedatangan Sofia ke istana raja langsung menggemparkan seluruh penghuni istana. Tidak disangka putri mereka akan kembali, padahal selama ini sudah banyak hal yang dilakukan---namun Sofia sama sekali tidak bisa ditemukan.


Raja Henry Nelius Sulla II segera pergi ke gerbang istana untuk melihat kehadiran dari putrinya. Raegon Lugner yang kebetulan sedang melapor itu pun juga ikut hadir dan cukup tersentak dengan keberadaan Sofia.


"Apa yang terjadi padamu, Nak? Apa kau baik-baik saja selama ini?" Raja Henry Nelius Sulla II langsung meraih tangan Sofia dan tanpa ragu memeluknya. Dia membuat gadis elf itu sampai berkedip beberapa kali.


"A-Ayah..." Sofia buka suara, dia merasa tidak enak untuk bicara pada ayahnya dan pada akhirnya dia hanya menurunkan pandangan.


"Tuan Putri, kami benar-benar khawatir akan keselamatan Anda. Syukurlah Tuan Putri baik-baik saja," Raegon Lugner buka suara.


"Terima kasih, Paman Raegon. Maaf karena sudah merepotkan,"


"Tapi, Tuan Putri? Siapa anak muda ini?" Raegon Lugner menatap ke arah Natur dan membuat remaja itu memperhatikannya dengan saksama.


Sofia menarik napas dan berkata, "Natur adalah teman sepetualanganku. Ada juga Arslan dan An. Mereka orang-orang yang baik. Aku banyak melakukan banyak hal bersama mereka,"


"Berarti mereka adalah teman-temanmu," Raja Henry tersenyum dan kemudian menepuk pelan bahu Sofia. Dia pun menatap Raegon Lugner dan berkata, "Tolong jamu dengan baik teman-teman putriku."


"Baik, Yang Mulia."


Raja Henry mengajak Sofia untuk masuk ke dalam istana, putrinya ini harus membersihkan diri lebih dahulu. Sofia tentu saja lega sebab ayahnya terlihat tidak marah. Dia tersenyum ke arah Natur dan memberi isyarat agar Natur menunggunya sebentar.


Saat Sofia dan Raja Henry sudah tidak terlihat lagi, Raegon Lugner pun meminta pada dua kesatria sihir untuk mengundang kedua teman Sofia yang menunggu di luar. Dia sendiri dengan ramah mengajak Natur ke ruang jamuan.


Natur tentu saja senang. Dia mengikuti pria berjubah hitam ini tanpa merasa curiga sedikit pun. Dirinya pun baru tersadar saat suasana di sekitarnya nampak seperti dinding yang hanya disinari cahaya redup, seolah mereka berjalan ke bagian tersembunyi yang selama ini selalu disebut sebagai 'Penjara Bawah Tanah'.

__ADS_1


!?


******


__ADS_2