
Ucapan Sofia membuat Arslan tersentak. Dia memiliki misi mencari Pedang Penakluk Naga dan menghancurkan pedang itu sebelum jatuh ke tangan orang yang jahat.
Tugasnya sangatlah berat dan dia sendiri tahu risiko dari apa yang akan dilakukannya ini. Dia sebenarnya tidak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan masalah orang lain, apalagi mengenai kasus penculikan yang sedang mereka bicarakan. Hanya saja...
Hanya saja ucapan Sofia membuat sesuatu terasa sakit di ulu hatinya. Dia kesal, tapi juga ada perasaan lain. Sebuah perasaan yang ia sendiri pun sulit memahaminya.
Arslan menarik napas, dia menatap Sofia dan kemudian bergumam. "Inilah mengapa aku tidak suka kau ikut,"
"Mn? Kau bilang apa?"
"Tidak ada," Arslan mengembuskan napas pelan dan menyilangkan tangannya. Dia pun bangun dari tempat duduknya dan membuat Sofia serta Natur mengerutkan kening.
"Kau mau ke mana?" Sofia bertanya.
"Haah... Bukankah kau bilang ingi menyelidiki masalah ini? Kalau begitu ayo pergi," Arslan berjalan dan An mengikutinya dari belakang.
"Arslan, tunggu!" Sofia segera menyusul Arslan. Natur juga ikut dan mereka pergi menuju tempat di mana kediaman keluarga Wesley berada.
*
*
Arslan menatap gerbang kayu yang tinggi menjulang di hadapannya. Dia sekarang berada di depan kediaman Wesley yang begitu luas dan dikelilingi oleh pagar kayu setinggi lima meter.
Sofia dan Natur terlihat membuka mulut mereka saking kagumnya melihat pagar setinggi ini. Jujur saja, kediaman dengan pagar yang mempunyai aura mewah misterius semacam ini membuat rasa penasaran mereka memuncak.
__ADS_1
"Arslan, bagaimana kau bisa tahu bahwa ini adalah kediaman Wesley? Apa kau pernah kemari?" Sofia bertanya dan menatap pemuda setinggi 1,3 meter di hadapannya.
"Entahlah... Kurasa.." suara Arslan tanpa nada, bahkan ekspresi wajah datarnya sama sekali tidak berubah. Dia berjalan ke arah gerbang di mana ada dua penjaga yang berdiri di sana.
Kedua penjaga itu berasal dari ras manusia dan dengan seragam berperisai. Mereka terlihat kuat dan perkasa, bahkan Sofia tanpa sadar menelan ludah. Natur pun menjadi gugup, sementara An sendiri berekspresi seolah tidak tahu apa-apa.
"Apa ada yang bisa kami bantu?" salah satu penjaga begitu ramah saat dia berhadapan dengan Arslan. Walau demikian, Sofia dan Natur masih sangat tegang.
"Namaku Arslan Galie dan aku ingin bertemu dengan kepala keluarga Wesley. Apa boleh?" Arslan buka suara, nadanya tenang.
Kedua penjaga itu saling berpandangan sebelum salah satu dari mereka kembali menatap Arslan dan buka suara. Dia pun bertanya, "Ada urusan apa kalian dengan tuan Wesley?"
"Kudengar putri tuan Wesley menghilang," Arslan melirik Sofia sebelum kembali bicara dengan penjaga di hadapannya. Dia berujar, "Rekanku ini sangat suka ikut campur dalam urusan orang lain. Dia ingin membantu keluarga Wesley untuk menyelidiki kasus putrinya yang hilang. Tapi jika kalian keberatan, maka kami bisa pergi."
Sofia tersentak, "Arslan. Kau..."
"Mn," Arslan mengangguk pelan. Dia sama sekali tidak keberatan menunggu di luar.
Natur dan An memperhatikan penjaga itu yang mulai membuka sedikit gerbang dan masuk ke dalam kediaman keluarga Wesley. Mereka cukup lama berdiri di luar sebelum akhirnya penjaga tersebut datang kembali dan lalu mengajak Arslan serta teman-temannya masuk.
Sofia dan Natur jelas saja terkejut. Mereka sebenarnya tidak yakin akan dapat masuk ke dalam kediaman ini dan sejujurnya yang Sofia inginkan adalah menyelidiki kasus penculikan para gadis tersebut tanpa menghubungi keluarga mereka.
Masalahnya, Arslan justru memikirkan hal yang lain dan sama sekali tidak ia duga. Bahkan subjek ini membawa mereka ke tempat di mana salah satu rumah gadis yang menghilang.
Sofia masih gugup. Dia menoleh ke arah Natur dan tahu bahwa remaja di sampingnya juga merasakan hal yang serupa. Pemandangan di tempat ini pun sama sekali tidak membuat keduanya tenang.
__ADS_1
Berbeda dengan Sofia dan Natur, An justru terlihat senang. Makhluk dari ras Giant Veridis itu nampak berjalan ke arah tanaman bunga yang ada di kediaman ini.
Di sisi lain, Arslan memperhatikan sekitarnya dan melihat beberapa pelayan di tempat ini. Dia mengikuti penjaga yang membawanya ke sebuah ruangan.
"Tuan Wesley menunggu di dalam," penjaga itu membuka pintu dan Arslan pun berterima kasih sebelum mulai melangkah masuk.
Sofia menarik napas dan mengikuti Arslan. Di dalam ruangan berdinding kayu dan berhias selendang putih---dirinya melihat seorang pria duduk di salah satu kursi. Subjek bertubuh gempal namun dengan wajah bersih itu pun berdiri dan langsung berjalan ke arah Arslan.
Tanpa diduga, pria itu mengulurkan tangan dan meraih tangan Arslan. Dia berkata, "Penjagaku bilang kalian datang untuk mencari putriku. Apa itu benar? Apa kalian bisa menemukannya?"
"Tenanglah, Tuan Wesley." Arslan menyentuh tangan pria di hadapannya dan berkata, "Kami harus tahu secara detail bagaimana kejadian putrimu yang menghilang sebelum memikirkan apa yang dapat kami lakukan."
"Tentu, tentu saja. Silahkan, mari silahkan duduk." Tuan Wesley mempersilahkan Arslan dan rekan-rekannya untuk duduk. Dia pun lalu menceritakan apa yang terjadi di kediamannya ini.
Arslan dan yang lainnya mendengarkan dengan saksama. Perkataan Tuan Wesley sama seperti yang pernah diucapkan Natur. Putri dari pria di hadapannya ini menghilang tiba-tiba di dalam kamarnya dan kejadian tersebut berlangsung di malam hari, saat festival sedang meriahnya.
Tuan Wesley menggeleng dan menghela napas sedih, "Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menemukan Rosie. Banyak orang yang sudah mencarinya, tapi..."
Tuan Wesley mengingat putrinya dan tertunduk semakin sedih. Suaranya pelan saat berkata, "Aku bahkan menulis surat ke kota untuk dikirimi beberapa kesatria sihir, tetapi masih belum ada balasan hingga sekarang."
Sofia dan Natur tersentak, mereka saling berpandangan sebelum akhirnya menatap Arslan. Terlihat bahwa pemuda setinggi 1,3 meter itu sangat serius memikirkan hal ini.
"Kurasa... Aku sudah punya rencananya," Arslan buka suara dan menatap ke arah Sofia.
"Mn?" Gadis cantik dari ras elf itu menyadari hal tersebut dan nampak berkedip. Dia merasa bahwa Arslan sedang menargetkan dirinya.
__ADS_1
******