
Setelah berpisah, Yuno segera memasuki kamar yang dia sewa. Tetapi ada hal yang membuat Yuno merasa kesal, itu adalah Felix yang tengah berbaring di kasurnya tersebut.
"Aku memang tidak mempermasalahkan kalau kau ingin datang ke kamarku. Tapi kenapa malah kau yang tidur disana?!" kesal Yuno.
"Biarkan saja! Lagipula masih ada sofa disana bukan? Kau tidur saja disana," jelas Felix yang membuat Yuno semakin kesal.
Bruk!
Yuno menarik selimut yang berada di bawah tubuh Felix, membuatnya terjatuh ke lantai begitu keras.
"SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?!" umpat Felix.
"ITU HARUSNYA KATA-KATAKU, BODOH! Sifat jonesmu yang belum pernah berbicara dengan wanita lain kecuali keluargamu, membuat dirimu bertingkah aneh setelah bertemu Aoi! Tidak sadarkah kalau kau saat ini jatuh cinta padanya?!" ungkap Yuno.
Felix yang menerima ungkapan itu hanya berdecak kesal dan memalingkan wajahnya yang tengah malu. Yuno menghela nafasnya sekaligus memaklumi kondisi Felix yang perlu teman curhat.
Padahal sebelumnya, Felix memberikan saran percintaan pada Yuno di dunia nyata. Tetapi siapa sangka kalau Felix benar-benar belum pernah merasakan cinta pertama.
"Hey, Felix. Bagaimana kalau Aoi itu adalah seorang pria yang menyamar?" ujar Yuno yang mendapatkan pukulan keras tepat di kepalanya.
"BODOH! Jangan buat fantasi ku hancur!" umpat Felix kesal.
"Hahaha! Aku hanya bercanda! Meskipun ada kemungkinan seperti itu, tidak mungkin Aoi adalah pria dan aku bisa jamin itu," jelas Yuno.
"Buktinya?" tanya Felix.
"Stella yang memberitahuku melalui pesan. Lagipula, kau telah mendapat nomor handphone miliknya kan? Kenapa tidak coba ajak bicara saja?" jelas Yuno.
"Tunggu! Darimana kau tahu aku meminta nomornya?" balas Felix terkejut.
"Eh? Seriusan? Kau benar-benar memintanya?" tanya Yuno yang ikut terkejut.
Yuno lalu menjelaskan kalau dia hanya meledek Felix yang mendapatkan nomor handphone Aoi. Karena jika dia belum mendapatkannya, Yuno akan sedikit membantunya untuk mendapatkan itu. Namun diluar dugaannya, Felix ternyata cukup agresif dalam hal ini.
"Jadi apa yang aku harus lakukan? Tidak mungkin aku langsung mengajaknya berkencan bukan?" tanya Felix bingung.
"Ya ampun, kau ini bodoh atau idiot--"
Wush! Ctak!
"Katakan sekali lagi dan berikutnya akan langsung mengenai jantungmu," ancam Felix setelah melemparkan belati yang menggores wajah Yuno.
__ADS_1
"Kau ini benar-benar menyebalkan yah?" balas Yuno menghela nafas.
"Cobalah mulai dari mengajak bertemu dulu, jangan langsung mengajaknya kencan," lanjut Yuno.
Felix yang mendengarnya hanya diam dan berjalan keluar dari kamar Yuno. Melihat hal itu membuat Yuno geleng-geleng kepala. Sebelum akhirnya Logout karena harus melakukan lari pagi dan sarapan.
***
Suasana pagi hari yang menyegarkan bagi Yudha, membuat suasana hatinya menjadi tenang. Kicauan burung yang menemaninya saat melakukan aktivitas pagi hari miliknya benar-benar membuat Yudha bersemangat.
Semenjak diberhentikan sementara, membuat Yudha menghabiskan banyak waktunya untuk bermain game daripada merawat tubuhnya. Karena itulah, dia putuskan untuk mulai berolahraga kembali setiap paginya. Meskipun sebenarnya setiap libur Yudha akan melakukan lari pagi saat masih bekerja.
"Oh? Melakukan lari pagi? Tidak biasanya kamu melakukan itu, Yudha," sapa seorang wanita yang tak lain adalah Diana.
"Diana? Apa yang kamu lakukan disini?" sahut Yudha bingung.
"Tidak ada, hanya ingin sedikit bersantai disini saja," balas Diana yang kemudian menepuk-nepuk bangku taman yang masih kosong di sebelahnya.
Memahami maksud dari tepukan itu, Yudha lalu duduk di sebelahnya Diana tanpa ragu. Diana memberikan sebuah botol mineral pada Yudha, membuat Yudha berterimakasih karenanya dan meminum air mineral tersebut hingga habis.
"Bagaimana hari-harimu bersama dengan Rini?" tanya Diana.
"Kamu ingin tahu?" balas Yudha.
Yudha hanya diam, mengabaikan pertanyaan tersebut. Diana yang menyadari hal tersebut, memutuskan tidak bertanya lebih jauh lagi tentang hubungan keduanya.
Sebenarnya Diana tidak ingin terlalu sering bertemu dengan Yudha. Meskipun hatinya terus memberontak untuk bertemu dengan Yudha. Jadi ketika dia melihat Yudha berlari didepannya, secara tidak sengaja dia memanggil Yudha dan memintanya untuk duduk disebelahnya.
"Hey, Yudha. Apa yang akan kamu lakukan jika aku menikah dengan pria lain?" tanya Diana yang membuat Yudha terkejut.
Walaupun begitu, Yudha hanya membuka matanya lebar-lebar dan menenangkan dirinya. Sebelum menjawab pertanyaan yang menyakitkan itu dengan wajah sedih tapi tenang.
"Jika kau mencintai pria itu, maka aku akan merelakannya. Namun jika tidak, aku akan membawamu pergi tepat sebelum hari pernikahan," jawab Yudha.
"Fufu, apa-apaan yang kedua itu! Apa kamu mencoba mengajakku kawin lari?" balas Diana tertawa ringan.
"Apa kau mengharapkan ku untuk menangisi pernikahanmu?" ujar Yudha.
Diana menggelengkan kepalanya, dia tersenyum sebelum berkata, "Tidak. Justru aku tenang mendengarnya!"
"Huh? Diana mungkinkah kau--"
__ADS_1
"Sudah hampir waktunya untukku pulang!" potong Diana bangun dari duduknya.
"Maaf telah membuatmu membuang waktu untukku, Yudha!" lanjutnya.
"Tidak, seharusnya aku yang bilang itu," balas Yudha.
Diana tersenyum manis, sebelum berbalik dan meninggalkan Yudha disana sendirian. Secara samar, Yudha mendengarkan sebuah ungkapan pelan yang membuatnya sadar dengan satu hal.
"Terimakasih untuk segalanya. Sampai jumpa, Yudha!"
Itulah yang didengar Yudha dari lirih Diana sebelum meninggalkannya. Hati Yudha hancur berkeping-keping, membuatnya yang tadi ingin melakukan lari pagi menjadi sia-sia dan memutuskan untuk duduk dalam diam begitu lama di taman.
Tanpa Yudha sadari, itu adalah kali terakhirnya bertemu dengan Diana di dunia nyata. Bahkan ketika Yudha login sebagai Yuno di dalam game, akun Dahlia telah menghilang dari daftar temannya.
Meskipun begitu, Yudha menganggap hal ini tidak nyata. Berpikir dengan mengira ini adalah mimpi siang harinya yang buruk hanya untuk melarikan diri dari kenyataan yang ada.
***
Yudha kembali ke rumah dan menyiapkan sarapan. Lalu setelah menyelesaikan sarapannya, Yudha memutuskan untuk kembali Login ke dalam game.
"Rise On! RYLO, Start!!"
Kesadaran Yudha tertarik ke dalam karakter Yuno di game. Dia kemudian segera keluar dari kamar penginapannya dan melakukan berbagai persiapan sebelum kembali ke Kota Efraim. Seperti memperbaiki perlengkapan, membeli stok Potion dan melakukan Check-out di Penginapan Pasir Emas sebelum kembali ke Kota Efraim.
"Oh, Yuno? Kamu benar-benar akan kembali ke Kota Efraim?" tanya Fina yang tengah berjalan bersama Luke.
"Hmm? Hanya kalian berdua? Dimana Mike dan Sakura?" tanya Yuno mencari keberadaan Mike dan Sakura disekitar.
"Mereka tengah berada di dunia nyata. Katanya sih ada urusan penting disana, meskipun aku yakin mereka telah berjanji untuk melakukan kencan," jawab Luke.
"Haha, aku pikir juga begitu," sahut Yuno.
"Jadi kau benar-benar akan kembali ke Kota Efraim? Padahal aku dengar di Forum kau berhasil mencapai Lantai Kesepuluh?" tanya Luke memastikan.
"Begitulah, sebenarnya alasanku tertarik hanya untuk mencari informasi dan menyebarkannya saja. Jadi setelah tahu bosnya adalah Lesser Dragon, aku putuskan untuk berhenti tertarik dan kembali ke Kota Efraim," jelas Yuno.
"Sayang sekali. Kalau begitu berhati-hatilah diperjalanan mu nanti!" ujar Luke.
"Tentu! Kalian juga, jangan terlalu sering kencan dalam game. Cobalah berkencan di dunia nyata juga!" pamit Yuno yang berhasil membuat wajah keduanya memerah.
"Berisik! Urus saja urusanmu sendiri, bodoh!" kesal Luke.
__ADS_1
Yuno tertawa puas mendengarnya. Dia lalu pergi ke gerbang Ibukota, meninggalkan Luke dan Fina yang memerah karena malu.