
Yudha melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan taksi. Perlu waktu 30 Menit untuk bisa sampai di tempat tujuannya atau bisa dibilang rumah orangtuanya berada. Sebuah rumah toko yang lumayan besar, dimana kedua orangtuanya membuka bisnis berupa toko sembako.
"Ambil saja kembaliannya, pak!" ujar Yudha membayar melalui kartu yang menjadi alat pembayaran digital saat ini.
"Oh? Terimakasih banyak, nak!" balas sang supir ramah.
Yudha lalu turun dan mengambil tas serta koper yang berada di bagasi mobil taksi tersebut. Sebelum akhirnya taksi itu pergi meninggalkan Yudha yang telah turun dari sana.
"Hah~ Entah kenapa aku benar-benar merindukan aroma khas tempat ini," ungkap Yudha menghela nafas sembari melepas kerinduannya akan kampung halamannya.
"Oya? Aku pikir siapa, ternyata Yudha?" sapa seorang wanita berambut ungu yang tengah berdiri di halaman rumah.
"Ibu Viona! Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Yudha mencium tangan Viona.
"Ibu baik-baik saja. Ngomong-ngomong, apakah yang kamu bilang di telepon bulan lalu itu benar?" balas Viona dengan wajah khawatir.
"Ah, tentang itu ya? Itu benar, aku diberhentikan sementara oleh Bang Agung. Katanya sih, dia ingin fokus dengan sesuatu dulu?" jelas Yudha.
Viona yang mendengarnya sedikit sedih, tapi saat Yudha menjelaskan kalau dia sudah memiliki penghasilan lain. Viona menjadi sedikit lega mendengarnya.
"Oh? Kak Yudha?! Kapan kakak sampai?" tanya seorang gadis kecil yang mengenakan seragam sekolah menengah pertama.
"Baru saja sampai! Kamu sudah tumbuh besar yah, Tiara?" jawab Yudha mengusap rambut adiknya itu.
"Hehe, kalau aku tumbuh besar. Apakah kakak masih mau memanjakan aku?" balas Tiara.
"Tentu, jika kamu tidak keberatan tentang itu," jelas Yudha.
"Tiara, sudah waktunya untuk berangkat bukan?" ungkap Viona tersenyum.
"Oh? Ibu benar! Kalau begitu, aku berangkat dulu ya, Kak Yudha!" pamit Tiara berangkat meninggalkan Yudha dan Viona di halaman rumah.
"Kalau begitu, Ibu juga harus pergi sekarang. Beristirahatlah di dalam, kamu pasti lelah selama perjalanan bukan?" tawar Viona.
"Ya! Akan aku lakukan itu," balas Yudha.
"Baiklah, sampai jumpa!" pamit Viona yang kini meninggalkan Yudha sendirian di halaman.
"Sungguh, aku tidak tahu bagaimana Ayah memenangkan kedua wanita itu?" gumam Yudha tertawa ringan dan masuk ke dalam rumah.
***
"Permisi, apa ada orang di rumah?" panggil Yudha setelah membuka pintu.
__ADS_1
"Kakak?" sahut seorang gadis yang tak lain adalah Raya.
"Oh, Raya? Kamu terlihat cocok dengan seragam itu. Selain itu, apa kamu memotong rambut?" sapa Yudha memuji.
"Apa itu.. buruk?" tanya Raya.
"Tidak, kok! Kamu malah terlihat cocok untuk tampilan baru," balas Yudha mengusap rambut adiknya itu.
"Kakak.. jahat.. aku kan jadi harus merapikannya lagi," ujar Raya cemberut.
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud melakukannya, haha," balas Yudha.
Raya memaafkan kakaknya itu, sebelum pergi berangkat meninggalkan rumah menuju sekolahnya. Yudha yang melihat kedua adiknya tumbuh begitu cepat, tidak dapat menahan rasa senang sekaligus lega miliknya.
Kemudian setelah bertemu Ayah dan Ibunya di ruang makan. Yudha memutuskan untuk meletakkan barang-barang bawaannya ke kamar yang telah disiapkan atau kamar miliknya dulu.
"Fiuh~ Aku sedikit lega karena tidak ada yang berubah di kamar ini," gumam Yudha menyeka keringatnya setelah selesai merapihkan barang-barangnya.
Yudha membuka jendela kamarnya, memutuskan untuk menikmati pemandangan yang membawa kenangan masa kecilnya. Puas dengan itu, Yudha memutuskan untuk turun ke bawah dan membantu toko sembako keluarganya.
Terkadang, Yudha mengantarkan barang pesanan dengan motor lama miliknya yang ada di garasi. Warga yang mengenal Yudha, menyapa dirinya yang dibalas dengan baik. Bahkan beberapa teman lamanya terkejut dengan perubahan Yudha.
Pada siang harinya, Yudha memutuskan untuk menjemput adiknya Tiara. Tentunya menggunakan motor miliknya. Beberapa teman-temannya Tiara membicarakan tentang pria berambut coklat yang menaiki motor dan mencari Tiara.
Tiara yang mendengar ciri-ciri tersebut segera sadar kalau itu adalah kakaknya, Yudha. Beberapakali dia harus menjelaskan pada teman-temannya untuk tidak salah paham. Bahkan beberapa guru sempat mencurigai Yudha sebagai penculik, membuat Yudha sedikit kesulitan karenanya sebelum Tiara datang menemuinya.
Namun bukan ekspresi khawatir yang dipasang oleh Tiara, melainkan wajah penuh kebingungan karena saat ini Yudha tengah berbincang-bincang dengan penjaga sekolah.
"Oh? Tiara? Sudah selesai dengan sekolahnya?" sapa Yudha dengan tersenyum.
"Sudah selesai sih. Tapi apa yang Kak Yudha lakukan disini?!" tanya Tiara bingung.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menjemput adik kecilku yang manis ini?" jawab Yudha menggoda Tiara.
"Ugh.. Kak Yudha curang," balas Tiara tersipu malu.
"Jadi mau pulang sendiri atau naik motor bersamaku?" tawar Yudha.
"Kak Yudha sudah menyodorkan helm padaku, kenapa masih bertanya?" balas Tiara memakai helm.
"Aku kan hanya ingin memastikan," jawab Yudha yang telah menaiki motornya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Yusuf! Pikirkan baik-baik tawaran dariku!" lanjut Yudha pada pria yang menjadi satpam tersebut.
__ADS_1
Yusuf hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan suara sembari tersenyum. Menyadari Tiara telah duduk di bangku belakang, Yudha segera menyalakan motornya dan pergi meninggalkan sekolah Tiara.
"Apa Kak Yudha juga akan menjemput Kak Raya?" tanya Tiara.
"Yah, begitulah. Tapi dia pulangnya sore bukan? Jadi masih ada cukup banyak waktu," jawab Yudha.
"Maksud Kak Yudha, kita tidak pulang ke rumah dulu?" tanya Tiara memastikan.
"Yup! Kita akan ke Game Shop untuk membeli RISE buatmu, Tiara!" jelas Yudha.
"Eh?! Sungguh?! Yey! Terimakasih Kak Yudha!!" balas Tiara dengan girangnya.
"Hey! Jangan seperti itu kalau tidak mau jatuh!" peringat Yudha yang menyadari kalau Tiara mengangkat kedua tangannya.
Tiara meminta maaf dan memegang erat perut kakaknya tersebut. Sementara Yudha sendiri fokus dengan mengendarai motornya.
***
"Kami pulang!!" ucap Yudha dan Tiara bersamaan.
"Selamat datang kembali! Bagaimana dengan kencan kalian?" goda Viona menyapa mereka.
"Ya, lumayan lah~" balas Yudha.
"Eh?! Tadi itu kencan?!" sahut Tiara terkejut.
"Tiara, Ibumu dan Yudha itu hanya menggodamu saja, kok!" jelas Ibu Yudha yang keluar dari dapur.
"Eh~ Begitu ternyata yah," ujar Tiara sedikit kecewa.
"Yuna, tidak seharusnya kamu mengatakan itu," bisik Viona.
"Ugh.. maaf, aku hanya tidak ingin Tiara salah paham dengan godaan kalian," balas Yuna merasa bersalah.
"Yah, daripada itu. Bagaimana kalau kita memasangkannya sekarang?" ajak Yudha mengalihkan topik.
"Itu benar! Ibu, Kak Yudha membelikanku RISE! Tidak apa kan kalau aku bermain?" mohon Tiara.
"Tentu saja, selama kamu menuruti 3 Syarat yang Ibu berikan padamu," balas Viona.
"Tentu!" sahut Tiara penuh semangat.
"Kamu tidak ingin menanyakan apa persyaratan itu?" tanya Yudha sedikit penasaran.
"Hmm.. aku pikir tidak! Lagipula bukankah syarat yang akan ibu berikan itu adalah belajar yang rajin, batas bermain hanya 30 menit dan turuti semua apa yang dikatakan Ibu," jelas Tiara.
"Uh.. bukankah itu terlalu ketat?" pikir Yudha.
__ADS_1
"Ibu Viona, apa aku bisa bicara tentang ini?" pinta Yudha.
Yudha lalu menjelaskan banyak hal tentang RISE pada Viona. Lalu setelah penjelasan cukup panjang, akhirnya diputuskan kalau Tiara boleh bermain setelah pelajaran malamnya selesai.