
Setelah pemasangan perangkat RISE, Yudha membantu toko sembako keluarganya lagi. Sebelum akhirnya pergi menjemput Raya di sekolahnya saat sore hari tiba.
"Sudah lama sekali tidak datang kesini. Apa guru-gurunya masih sama?" ujar Yudha saat melihat sekolah yang menjadi tempatnya belajar ketika SMA dulu.
"Tetapi yah, sepertinya kata-kata orang dulu itu memang benar. "Ketika lulus, maka sekolahmu akan menjadi sangat bagus!" haha," tawanya terkekeh saat melihat gedung sekolahnya kini telah menjadi 5 lantai dengan tambahan 4 gedung baru.
Padahal saat dulu, sekolahnya hanya 3 lantai dengan total 3 gedung yang kini menjadi 7 gedung 5 lantai. Meskipun begitu, Yudha tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan memutuskan untuk menyapa petugas keamanan atau satpam sekolah yang masih sama. Namun kini telah menjadi tua karena umurnya.
"Pak Muchlis! Apa kabar!" sapa Yudha.
"Huh? Ah, baik kok! Maaf, tapi adik ini siapa yah?" tanya Pak Muchlis ramah.
"Yudha Pramono, Pak! Murid yang selalu membuat bapak kerepotan dulu, haha," ujar Yudha memperkenalkan diri.
"Oh! Kamu rupanya! Ada apa kemari, Nak Yudha?" tanya Pak Muchlis.
"Jemput adik, Pak! Tapi ya, sudah banyak yang berubah dari tempat ini yah?" jawab Yudha mengingat masa lalu.
Pak Muchlis hanya tertawa, dia lalu mengajak Yudha untuk meminum kopi sembari menunggu waktu pulang tiba. Mengingat, Yudha sampai tempat ini lebih awal satu jam. Sama ketika dia datang ke sekolah Tiara, bedanya kali ini Yudha tidak terlalu kesulitan menghadapi pertanyaan guru-guru sekitar. Malahan kali ini banyak guru yang mengenalnya dan berbincang-bincang dengannya.
Tanpa disadari, waktu pulang pun tiba. Yudha melihat adiknya yang tengah berjalan bersama dengan ketiga temannya. Dimana Yudha mengenali dua dari mereka yang tidak lain adalah pemilik akun Silver dan Daisy di dunia nyata.
"Hey, Harris. Bukankah dia Master? Kenapa ada disini?" bisik gadis berambut garnet yang di kuncir kuda.
"Ugh.. jika kau bertanya padaku. Lalu aku harus bertanya pada siapa, Bella?" balas Haris bingung.
"Kamu benar-benar sudah berkembang yah, Raya?" sapa Yudha yang langsung mengusap rambut adiknya.
"Kakak.. hentikan.. ini memalukan.." balas Raya yang membuat Harris dan Bella terkejut bukan main.
"EH!! KAKAK?!!" ujar mereka terkejut.
Yudha hanya tersenyum, sebelum memberikan tatapan pada pria berambut biru yang berdiri di sebelah adiknya. Menyadari hal tersebut, pria itu bergegas pergi meninggalkan mereka. Namun Yudha dengan sigap memegang kerah bajunya agar tidak terburu-buru pergi.
"Apa kau punya masalah denganku?" tanya pria itu.
"Namamu, Doni Anggara bukan? Adikku selalu menceritakan dirimu saat di telepon. Jadi bagaimana dengan pergi ke kafe dekat sini untuk berbicara? Kalian juga ikut, Harris dan Bella!" ajak Yudha.
"Jangan khawatir, aku yang bayar," lanjut Yudha saat melihat keraguan dari Harris dan Bella.
__ADS_1
"Ya, sudah kalau begitu. Aku akan ikut denganmu, Master!" ujar Harris.
"Duh, apa boleh buat. Kalau Master yang mentraktirnya, aku sih tidak ada masalah!" sahut Bella.
"Hah~ Jika ini tidak penting bagiku, maka jangan larang aku untuk pergi, oke?" balas Doni menghela nafas.
"Bagus! Kalau begitu, ikuti aku," pinta Yudha.
Mereka berempat pun akhirnya pergi ke kafe sekitar yang hanya berjarak 100 Meter dari sekolah tersebut.
***
Ditempat lain, tepatnya di sebuah ruangan tempat dimana para pengembang RYLO melakukan rapat mereka. Salah satu dari mereka adalah pria tua yang pernah ditolong Yudha, Tommy Sullivan.
"Baiklah, ini adalah akhir dari rapat kita. Jadi apa ada Player yang menarik perhatian kalian selain ID 00101010400025815?" tanya Tommy penasaran.
"Oh? Apakah yang Anda maksud "YUNO" si Guardian God yang dipilih oleh "CODE: Shiryuu" kita?" sahut salah satu dari mereka.
"Jika Anda bertanya seperti itu, mungkin "Alice"? Karena dia telah memicu Event yang bahkan para Alchemist tidak bisa memicunya sama sekali," jawab seorang lagi.
"Benua Elfheim tidak terlalu banyak konflik. Aku lebih penasaran dengan Benua Demonia yang akan dikuasai oleh "Axel" kedepannya, hahaha!" sahut pria yang tertawa sebelumnya.
"Kalau aku sih lebih tertarik dengan pria kucing hitam bernama "NOID" itu," balas pria yang pertama kali menjawab pertanyaan Tommy.
"Bagaimana denganmu?" tanya Tommy pada orang terakhir yang sedari tadi diam.
"Hmm? Untuk sekarang sih belum ada. Tapi jika kalian memaksa, mungkin "Xcell" adalah pilihanku?" jawabnya lemas.
"Tidakkah kau jauh lebih lemas dari biasanya? Mengurus Server pasti sangat berat yah?" balas pria yang tertawa tadi, khawatir terhadap rekannya.
"Ah, jangan khawatir~ Aku yakin dengan minum kopi akan menghilangkannya," sahut pria lemas itu.
"Kalau begitu, kalian bisa kembali mengerjakan tugas masing-masing!" perintah Tommy meninggalkan ruang rapat barusan yang diikuti dengan wanita berkacamata dibelakangnya.
__ADS_1
Tommy berjalan menuju sebuah lift yang membawanya ke lantai terendah. Dimana tempat itu penuh dengan berbagai meja dan kursi kosong. Selain itu, terdapat kaca pembatas yang membatasinya menuju sebuah server berukuran besar dengan nama P.R.O.M.E.T.H.E.U.S yang berada di atasnya.
"Bagaimana dengan perkembangan anak ini, Emily?" tanya Tommy.
Wanita bernama Emily Roseberg itu membuka tablet miliknya dan mengambil bolpoin digital yang ada di sebelah tablet tersebut. Emily memutar bolpoin tersebut, sebelum akhirnya membenarkan kacamata miliknya dengan bolpoin tersebut.
"Sayangnya, tidak ada perkembangan yang cukup spesifik untuk saat ini, Profesor," jawab Emily.
"Begitu kah? Sangat disayangkan. Tapi itu bukan masalah," balas Tommy.
"Apa kita akan masuk ke fase berikutnya?" tanya Emily.
"Tidak, masih terlalu awal untuk melakukannya. Terlebih lagi, masih banyak dari mereka yang belum memiliki kehendaknya sendiri," jawab Tommy melambaikan tangannya.
Tidak lama setelah itu, Emily mendapatkan sebuah email di tabletnya. Membaca email tersebut, membuatnya menghela nafas panjang. Menyadari asistennya menghela nafas panjang, Tommy berbalik dan bertanya apa yang terjadi.
"Apa yang membuatmu menghela nafas begitu panjang?" tanya Tommy.
"Maaf atas ketidaksopanan yang saya lakukan. Baru saja, ada seorang investor yang meminta uangnya dikembalikan dua kali lipat dari yang dia investasikan. Alasannya adalah karena dia tidak mendapatkan hak spesial miliknya," jelas Emily.
"Hak spesial? Apa itu? Bukankah kita sudah mengatakan tidak akan ada perlakuan spesial yang kita berikan dalam projek ini?" bingung Tommy.
"Jadi bagaimana, Profesor? Apa kita akan mengembalikannya?" tanya Emily.
"Lakukan saja! Kembalikan uangnya, kalau perlu lima kali lipat! Aku sudah tidak membutuhkan investor lagi kali ini," jawab Tommy tanpa ragu.
Emily segera mengangguk dan mengirim email balasan pada investor tersebut. Dia juga memberikan perintah pada bawahannya yang bekerja di pengelolaan keuangan untuk mengembalikan uang investor tersebut hingga lima kali lipat.
Berkat pembukaan fitur konversi bulan lalu, Tommy sekarang tidak memerlukan investor lagi dalam projek miliknya. Kini yang dia perlukan hanyalah data-data yang dia inginkan dari Project RISE buatannya tersebut. Sebuah hasil yang mungkin akan membawa malapetaka kedepannya.
Emily menatap Tommy dengan perasaan aneh. Meskipun begitu, dia tetap membantu Tommy dengan alasan balas budi karena telah mengajarkannya banyak hal. Merasa sedikit penasaran akan sesuatu, Emily pun memutuskan untuk menanyakannya pada Tommy.
"Profesor, apa saya boleh tahu alasan Anda memilih mereka berlima?" tanya Emily.
"Hmm? Jika aku mengatakan kalau aku bisa melihat masa depan, apakah kau percaya?" jawab Tommy.
Emily yang mendengarnya entah kenapa merasa takut dan tidak percaya dengan kata-kata Tommy tersebut. Karena dasarnya, di dunia ini belum ada seseorang yang menciptakan mesin waktu.
__ADS_1
"Aku bercanda! Kau percaya kata-kata dariku?" lanjut Tommy yang menyadari kalau tidak ada balasan diberikan oleh Emily.
"Be-Begitu yah, itu sebuah candaan?" balas Emily tertawa hambar.