
Di pulau yang lain tempat Yukina dan Fang berada, mereka sekarang berada di Magma Village. Dengan suhu yang sangat panas dan juga terdapat banyak sekali gunung berapi, bahkan di jalanan nya pun terdapat lava yang mengalir.
"Apa kamu tidak apa - apa Fang dengan suhu yang panas seperti ini?" tanya Yukina kepada Fang.
"Suhu panas seperti ini tidak ada apa - apanya bagiku, tenang saja Yukina!" jawab Fang.
Meskipun Fang mengatakan hal seolah - olah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, akan tetapi keringat tidak berhenti keluar dari tubuhnya.
(Aku mempunyai resistansi terhadap suhu panas dalam tubuhku, jadi aku tidak akan ada masalah dengan tempat ini. Bahkan tubuhku mampu menahan suhu panas yang diciptakan oleh orang itu.)
Kemudian tangan Yukina menyentuh dahi dari Fang.
"Ke - kenapa kamu menyentuh dahi ku Yukina?" tanya Fang dengan pipi yang memerah.
"Freeze."
Yukina mendinginkan suhu yang ada di tubuh Fang, karena dia rasa suhu yang ada di Magna Village ini sangat panas.
"O - oh kamu mendinginkan suhu tubuh ku, te - terima kasih!" ucap Fang yang masih tersipu malu.
"Aku khawatir kamu tidak bisa bertarung sebelum pertarungan itu dimulai!"
Magma Village memang desa yang memiliki banyak gunung berapi yang aktif, namun setelah dikuasai oleh monster, wilayah pulau dan desa inu menjadi wilayah milik monster dengan batuan dari batu magma dan juga lava yang mengalir di jalanan nya.
"Jika dilihat dari wilayah ini, maka pemimpin dari monster ini sepertinya adalah Magma Pyre, ini akan menjadi pertarungan yang agak menyebalkan!" Yukina merasa kesal.
"Jika kamu tidak ingin bertarung, kamu dapat mengandalkan diriku untuk mengalahkan semua monster - monster ini!" ucap Fang kepada Yukina dengan penuh percaya diri.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan temankuu bertarung sendirian! Dan juga jika kamu bertarung sendirian maka bisa dipastikan kamu akan mati dalam pertempuran. Karena monster - monster ini tidak semudah seperti yang kamu pikirkan untuk dikalahkan!"
"Ba - baiklah Yukina! Ngomong - ngomong aku tidak melihat orang - orang yang ada di desa ini. Kemana mereka semuanya?" tanya Fang.
"Aku juga tidak melihat mereka dimanapun, menurut analisa ku sepertinya ada 2 kemungkinan yang telah terjadi. Pertama, semua orang - orang ditangkap dan di kurung di suatu tempat oleh monster - monster ini. Dan yang kedua, kemungkinan terburuknya adalah semua orang yang ada di desa ini telah terbunuh oleh monster - monster ini!" jawab Yukina.
"Kalau begitu kita harus cepat - cepat untuk menyelamatkan orang - orang yang ada di Magma Village ini Yukina!"
"Iya kita harus cepat bergerak, namun kita tidak boleh tergesa - gesa dan jangan bertindak dengan ceroboh!"
Tiba - tiba udara disekitar berhembus dengan suhu yang lebih panas dari sebelum nya, dan Yukina menyadari sesuatu.
"Fang bersiap - siap lah, mereka sudah ada di sini, persiapkan dirimu untuk masuk dalam pertempuran!" ucap Yukina kepada Fang untuk melakukan persiapan bertarung.
"A- apa?" Fang sedikit bingung dengan keadaan sekarang karena dia tidak menyadari keberadaan monster - monster ini.
Yukina dan Fang telah terkepung oleh gerombolan monster yaitu "Magma Salamander."
"Itu seperti Salamander tapi berbeda dengan yang aku tau."
"Iya, yang akan kita hadapi adalah Magma Salamander, pada umum nya Salamander menggunakan sihir api. Akan tetapi Salamander yang ini menggunakan lava untuk menyerang, dan serangan nya lebih kuat daripada Salamander yang biasanya!" jawab Yukina.
Di pulau lain, di River Village tempat Leon dan Elen datangi, tempat dimana desa itu berada di atas air.
"Tempat ini menarik, desa yang ada di atas air, jika mereka ingin makan ikan, maka tinggal tangkap ikan yang ada di bawah mereka! ucap Elen.
"Tetap waspadalah Elen, kita tidak tau musuh akan menyerang darimana."
"A - apa kalian adalah utusan dari akademi?" tanya salah satu dari penduduk River Village.
"Iya kami dari akademi Iroas, apakah anda adalah salah satu penduduk dari desa ini?" tanya Leon.
__ADS_1
"Iya aku adalah salah satu penduduk dari River Village ini, namaku Aray, kumohon tolong kami selamatkan desa dan juga pulau ini!" minta Aray.
"Maaf sebelum nya, tapi dimanakah penduduk River Village yang lainnya paman Aray?" tanya Elen.
"Sebagian dari kami telah berlindung. Namun sebagian dari kami ada yang dibawa ke tempat monster ini, dan ada beberapa dari kami yang telah terbunuh!" jawab Aray.
"Maaf, kalau boleh tau monster seperti apakah yang telah menyerang desa ini?" tanya Leon.
"Monster yang telah menyerang desa ini adalah Lizardman, mereka ada dibawah kita sekarang ini!" jawab Aray.
Kemudian Leon dan Elen melihat air di bawah mereka, mereka melihat ada bayangan monster yang sedang berenang di dalam air itu.
"Itu adalah Lizardman! Beberapa penduduk telah dibawa ke dalam wilayah mereka yang berada dibawah air."
"A - apa? Bukankah itu berbahaya manusia berada di dalam air?"
"Iya memang itu adalah hal yang sangat berbahaya bagi manusia, tapi orang - orang yang ada di desa ini memiliki kemampuan khusus untuk bernapas dalam air. Meskipun dengan keadaan seperti itu, bertarung dengan Lizardman mereka pun juga memiliki batasan dan akan menjadi keadaan yang berbahaya untuk mereka yang sedang bertarung sekarang, kumohon tolong bantu kami menyelamatkan mereka!"
"Leon kita harus melakukan sesuatu!" ucap Elen.
"Tentu saja Elen, dan anda tenang saja kami akan menyelamat penduduk, desa, dan juga pulau ini!" ucap Leon.
"Terima kasih, aku mengandalkan kalian berdua!"
"Elen bersiap - siap lah, kita akan bertarung dengan para monster Lizardman ini!"
"Ya, aku dan bonekaku siap bertarung!"
Leon dan Elen pun telah siap untuk bertarung melawan para monster Lizardman dan menyelamatkan penduduk yang telah dibawa Lizardman ke dalam air.
Sementara itu di Machine Village ada Baron dan juga Rouge yang sedang menjalankan misi mereka.
"Baron lihatlah! di sana sepertinya ada pertempuran, kita harus kesana sekarang!" ucap Rouge.
"Baiklah ayo kita kesana Rouge!"
Lalu Baron dan Rouge berlari menuju ledakan yang terjadi di Machine Village.
"Apa ini? Pertarungan antar mesin? Kereeeeenn!!!" ucap Baron yang tercengang.
"Woi bocah minggir dari sana!!!"
Baron dan Rouge kaget tiba - tiba baju mereka di tarik oleh sebuah robot yang dapat berbicara.
"A - A - A - APA INI?!" Baron lagi - lagi terkejut.
Tiba - tiba kepala dari robot itu terbuka, dan yang keluar dari dalam nya adalah seorang manusia.
"Halo, apa kalian berdua adalah anak - anak yang dikirimkan oleh akademi Iroas? Aku Rudy, kepala desa dari Machine Village ini."
"Hah? Robot ini berubah menjadi manusia dan berbicara!" ucap Baron.
"Tidak, bodoh! Dia memang manusia tapi memakai robot untuk melakukan pertarungan!"
"Hah? Kamu memanggilku bodoh? Apa kamu ingin berkelahi denganku Rouge? Kalau begitu sini maju lah!"
(Melihat mereka berdua aku jadi khawatir bagaimana keadaan nya desaku untuk kedepan nya nanti dalam pertempuran kali ini,) ucap dalam hati kepala desa Rudy dengan sedikit senyuman di wajah nya ketika melihat kelakuan Baron dan juga Rouge.
"Oh iya maaf paman, kami memang dari akademi Iroas, saya Baron, dan dia teman satu akademi ku yang bernama Rouge, bolehkah anda ceritakan keadaan nya sekarang?"
__ADS_1
"Seperti yang telah kalian lihat tadi, desa kami masih bertarung dengan monster mesin ini. Mesin milik kami memiliki bentuk kecil yang menyerupai manusia pada umum nya agar mudah digunakan dalam pertarungan, sedangkan monster manusia mesin ini memiliki tubuh yang besar seperti golem," jelas dari kepala desa Rudy
"Kalau untuk keadaan kemenangan, pihak mana kah yang lebih unggul dalam pertarungan sekarang?" tanya Rouge.
"Untuk sekarang pihak kami dalam keadaan tertekan oleh monster ini, dan monster ini lebih unggul kemenangan pertarungan!" jawab kepala desa Rudy.
"Baiklah kalau begitu mari kita hajar mereka semua dan membalikkan keadaan ini dan menjadikan kemenangan milik kita, ayo Rouge!" ucap Baron dengan sangat bersemangat.
"Ayo aku juga sangat bersemangat untuk dapat menghajar monster - monster mesin ini!" ucap Rouge yang tidak kalah semangatnya dengan Baron.
"(Hahaha anak muda yang sangat bersemangat,) kalau begitu aku akan membawa kalian berdua untuk masuk ke dalam medan pertempuran ini!" ucap kepala desa Rudy.
Lalu dengan robot nya, kepala desa membawa Baron dan juga Rouge memasukin medan pertempuran.
Keadaan desa yang sekarang di tempati oleh Alexa dan Cherry berada yaitu Nature Village, sebuah desa yang dipenuhi oleh hutan - hutan yang sangat lebat.
"Wow wilayah disekitar sini sangat banyak pohon - pohon yang tumbuh," ucap Alexa sambil melihat - melihat wilayah di sekitarnya.
"Iya, aku sangat suka dengan keadaan seperti ini yang banyak pepohonan dan juga yang banyak bebatuan." ucap Cherry yang juga melihat - lihat keadaan di sekitarnya.
Kemudian Alexa dan Cherry berjalan lebih dalam untuk melihat keadaan wilayah ini. Namun, di tengah perjalanan mereka melihat keadaan nya wilayah, mereka melihat kobaran api dan langsung bergegas menuju ke tempat kobaran api itu, tetapi tiba - tiba mereka di datangi oleh seseorang.
"Apakah kalian berdua yang mengambil misi yang diberikan oleh desa ini?"
Alexa dan Cherry seketika langsung menolehkan kepala mereka ke arah belakang, mereka melihat seorang perempuan yang memiliki tinggi badan yang pendek seperti anak - anak yang masih berusia sekitar 13 tahun.
"Oh iya benar, apa adik kecil ini berasal dari Nature Village?" tanya Alexa kepada perempuan tersebut.
"Syukurlah kalian telah datang! Ngomong - ngomong aku bukan adik kecil, aku sudah berusia 25 tahun dan aku lebih tua dari kalian berdua!"
"A - A - A - A - APAAAAA ???!!!"
Alexa dan juga Cherry terkejut setelah mendengar apa yang telah dikatakan oleh perempuan itu.
"Ma-maaf! Tapi tubuh anda seperti anak kecil yang masih berusia 13 tahun. Jadi kami mengira anda masih lah anak kecil!" ucap Cherry.
"I-iya, aku tadi mengira seorang anak kecil yang sedang mengajak kami berbicara, maaf!" Alexa merasa gugup dengan keadaan.
"Heheh tidak apa - apa! Kami semua yang lahir dan hidup di Nature Village ini memang memiliki tinggi badan seperti anak yang masih berusia 13 tahun. Jadi wajar saja dengan reaksi kalian, dan juga namaku adalah Pixie."
"Oh jadi begitu ya!" ucap Alexa dan Cherry secara bersamaan dengan ekspresi yang masih terkejut.
"Aku Alexa."
"Aku Cherry."
"Lupakan tentang tubuhku! Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan pulau dan juga penduduknya!"
"Bagaimana keadaan nya untuk sekarang?" Alexa bertanya tentang situasi untuk saat ini.
"Keadaan nya untuk saat ini kurang baik, mereka telah membakar desa dan sebagian dari hutan kami di pulau ini!" jawab Pixie.
Alexa dan Cherry terkejut mendengar bahwa Nature Village telah di bumi hanguskan oleh monster - monster ini.
"Sekarang para penduduk dari Nature Village sedang bertarung di depan sana untuk melindungi hutan kami," ucap Pixie sambil menunjuk arah tempat pertempuran itu terjadi.
"Kalau begitu apa yang harus kita tunggu lagi? Ayo bergabung ke dalam pertempuran juga!"
Masing - masing tim sekarang telah memasuki dalam pertempuran untuk menyelamatkan pulau, penduduk, dan menyelesaikan misi yang telah mereka terima.
__ADS_1