
Brandon masih memeluk erat pigura. Air mata nya tak henti menetes, sungguh rindu nya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan, dirinya yang dulu ceria sekarang menjadi dingin dan seolah tak peduli dengan orang lain.
Sementara di lain tempat beberapa pemuda sedang menuju ke rumah pak Jamal yang di yakini adalah orang pintar alias dukun.
"Lo yakin mau masuk?" tanya Will memastikan tekat Putra.
"Yakin," jawab nya dengan mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Putra adalah satu contoh, di mana sikap dan sifat nya dingin tapi ia selalu peduli dengan orang yang di sayang. Terkadang manusia menunjukkan sifat angkuh nya, itu adalah bentuk pertahanan diri. Seorang perempuan pun sama hal nya. Maka, kenal lah, orang nya baru kau paham sifatnya.
Putra segera keluar dari mobil tanpa ragu ia melangkah ke arah pagar besi yang di cat warna hitam itu. Tangan kanan nya memencet bel berulang kali.
"Dobrak, aja sekalian!" Perintah Louis, ia merasa geram melihat tingkah Putra yang tidak sabar menunggu pemilik rumah.
"Selamat malam pak! Woi... spada... yuhu, ada orang ngga!" Seru Andre sedikit berteriak agar pemilik rumah segera membuka gerbang tersebut.
William dan Andra hanya geleng-geleng melihat tingkah tiga sahabat nya.
"Sabar, kalian ngga tahu ya, kalau orang sabar itu di sayang, ayang." Ujar William.
"Ogah, kayak lo gitu? Bukan di sayang namanya, lo nya aja yang takut sama ayang lo," ucap Andre mengejek.
"Mana ada gue takut, itu tanda nya cinta. Gue ngga suka ribut, cewek kalau lagi pms kan lo tahu sendiri bro," kilah William.
William adalah tipe sabar dan penyayang, kalau sudah jatuh cinta dan memiliki satu hubungan dia akan bucin maksimal.
Grek.... Pintu gerbang di buka. Muncullah seorang gadis cantik." Iya, cari siapa mas?"
" Hai, Kia! Kok kamu ada di sini?" tanya Louis. Ia begitu senang saat melihat gadis pujaan nya ada di depan mata.
Louis sudah beberapa kali mengirim pesan pada Kia, tapi tak satu pun di balas oleh gadis tersebut. Bahkan beberapa hari Kia tidak ikut event bersama dirinya.
" Halo, Louis. Kok lo bisa ke sini?" Bukannya menjawab , Kia malah balik bertanya.
"Kayaknya kita jodoh, deh Kia." Ucap Louis malu-malu.
Pada akhirnya Tuhan berpihak padanya karena kirim pesan tidak di balas, malah justru tahu rumah nya. Mungkin nanti saat Kia tak membalas pesan nya, Loius akan langsung datang ke rumah Kia.
Putra dan yang lainnya memandang Louis dengan heran. Tak bisanya dia seperti itu, dari gelagat Lou mereka bisa menyimpulkan kalau sahabat nya sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Berbeda hal nya dengan yang di rasakan Louis, Kia justru memandang tak suka ke arah laki-laki yang sedang tersenyum sambil menatap dirinya tersebut.
"Ada siapa dek?" tanya ibu Kia. Wanita separuh baya itu berjalan mendekat sang putri.
"Ini, mereka cari bapak." Jawab Kia.
"Kok ngga di suruh masuk dari tadi, sih! Yuk, masuk adik-adik!" Ibu Kia membuka gerbang lebih lebar agar Putra dan para sahabatnya bisa segera masuk.
"Iya, makasih bu," jawab mereka bersamaan. Lalu masuk ke dalam.
Di ruang tama yang cukup luas, terpampang beberapa lukisan. Mereka menatap kagum rumah pak Jamal. Bahkan tempat mereka duduk adalah kayu jati yang berbentuk unik dengan ukiran-ukiran khas kota Jepara. Siapapun yang melihat pasti akan langsung tahu, kalau pak Jamal penyuka barang klasik dan unik karena di lihat dari barang-barang yang ada di rumah beliau.
"Mahasiswa bapak, ya? Beliau sedan keluar sebentar. Di tunggu dulu, ya!"
"Iya bu, kami mahasiswa nya. Mau ada keperluan sedikit dengan beliau." Jawab Putra dengan sopan.
"Oh, begitu. Tunggu sebentar ya, ibu panggil kan bapak. Dek, ajak ngobrol dulu mas-mas nya ya!" Istri pak Jamal berpesan pada Kia, lalu ia berdiri menuju ruang kerja sang suami.
"Kia, kenapa lo ngga balas pesan gue sih?" tanya Louis.
"Lupa," jawab Kia dengan enteng nya.
"Itu lo udah tahu jawabannya. Lou, gue sibuk kerjain tugas kuliah, saat gue baca pesan dari lo, udah malam banget, jadi gue tidur. Pagi nya mau gue balas, tapi lupa," jawab Kia berbohong. Padahal ia memang sengaja ngga ingin balas pesan dari Louis.
Andre, Andra, William dan Putra hanya menjadi pendengar dari perdebatan mereka. Bahkan mereka kaget saat tahu Louis itu teman kerja Kia dan ternyata sahabatnya mempunyai rasa yang lebih dari sekedar teman.
Louis menghembuskan napas kasar. Biasanya ia akan debat karena hal seperti ini, apalagi ada orang yang sengaja mengabaikan dirinya. Tapi, entah kenapa ia tidak marah. Hanya rasa sedikit tidak terima, tapi rasa itu hilang begitu saja. Apakah, Louis jatuh cinta?
Karena ia tidak marah dengan perlakuan Kia yang jelas-jelas mengabaikan dirinya. Cinta itu bisa mengubah segalanya.
"Yasudah besok-besok kalau lo ngga balas lagi, langsung gue datang ke rumah lo!" Ujar Louis.
"Ngapain ke rumah gue? Ogah, enak aja. Ngga boleh!" tolak Kia yang tidak mau Louis ke rumah nya.
"Ngga terima penolakan."
"Kok gitu, jangan seenaknya dong!" protes Kia.
"Tenang, gue ke sini buat ketemu bokap lo kok. Kan dia dosen gue," ucap Louis dengan santai. Ia tak habis akal untuk mendekati Kia masih banyak cara yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
"Dih, ngga boleh pokoknya,"
"Boleh,"
"Ngga,"
"Ngga akan absen gue setiap malam minggu akan ke sini," ucap Louis mengedipkan satu matanya.
"Ehem, kalian ngobrolin apa sih? Kok bapak lihat seru banget," tanya pak Jamal yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ngga apa-apa, pak." Jawab Kia.
"Saya mau main ke sini lagi kapan-kapan, boleh ya pak?" tanya Louis.
"Boleh, silahkan main."
Louis tersenyum menatap Kia, dalam hati ia bersorak gembira. Cara paling ampuh untuk mendekati perempuan, dekati lah keluarga nya juga. Buat image se bagus mungkin agar kamu dapat nilai lebih di depan orang tuanya. Di jamin akan lancar pendekatan nya.
"Makasih ya, pak."
Pak Jamal mengangguk. "Kalian kemari ada perlu apa?" tanya pak Jamal.
Mereka saling berpandangan, bingung memulai pertanyaan dari mana.
"Kok malah pada diam, kalian ada perlu apa?" pak Jamal mengulang lagi pertanyaannya.
"Em, begini pak, saya langsung saja ke intinya. Saya butuh bantuan bapak, untuk menemukan istri kakak sepupu saya. Hanya dengar bapak bisa membantu dalam hal ini. Istri kakak sepupu saya sudah hilang hampir satu tahu. Tolong bantu, saya pak!" Pinta Putra.
Pak Jamal menautkan alisnya, ia sedikit heran dengan permintaan Putra. Kalau mencari orang hilang harus nya lapor polisi, ini malah lapor ke dosen. Sungguh aneh, tapi nyata.
Pak Jamal memegang kumis tipis yang menjadi bagian kesayangan nya sambil berpikir. "Jadi, cukup rumit ya," ucapnya.
"Begitulah pak," saut Andre.
"Saya harus ngapain?"
"Kok ngapain, bapak dukun, kan?" tanya Putra.
Saat selesai bertanya Andre dan Andra kompak saling menyenggol tangan Putra. Mereka takut kalau ucapan sahabat nya menyinggung pak Jamal. Sementara itu William dan Loius menepuk jidat mereka masing-masing.
__ADS_1
Mereka berempat harap-harap cemas saat menunggu jawaban dari pak Jamal.