
Andre melotot ke arah sang adik, ia begitu terkejut saat melihat penampilan adik bungsunya.
"Gimana, penampilan ku kak?" tanya Indri sambil berputar memperlihatkan gaun barunya.
"Lo pakai apa itu? Ganti!" bentak Andre yang spontan saat melihat baju sang adik terlihat terbuka.
Indri yang kaget mendengar nada suara membentak dari sang kakak hanya diam mematung. Bahkan bibirnya tertutup rapat tak mampu membantah sang kakak seperti biasanya. Matanya sudah memerah, menahan sesuatu yang siap meledak dan membasahi pipi nya yang mulus dan bulat seperti bakpao.
Andre segera menghela napas panjang, tentu saja ia tak sengaja membentak adik kesayangan nya. Tapi ia rasa Andra pun akan bereaksi sama saat melihat penampilan sang adik. Ia mengambil beberapa lembar tisu yang ada di atas meja samping tempat duduknya.
"Ini, merah banget. Apalagi kalau lo lagi monyong gitu mirip banget kaka ikan louhan. Udah cantikan ngga usah di make up, malah aneh-aneh aja kau bocil," Andre menghapus semua make up yang adiknya. Mulai dari bibir yang di poles lipstik merah, blush on yang sedikit tebal serta tak lupa Andre melepas bulu mata yang menurut nya jelek.
Bukan ia tak mau adiknya tampil cantik. Tapi, di usia Indri yang masih terbilang muda tentu saja tak pantas memakai semua itu. Belum lagi gaun yang di pakai sang adik yang cukup terbuka di belahan dada dan sangat pendek. Jika saja ini tidak di tempat umum sudah ia ceramahi sang adik dengan segudang nasihat darinya.
"Tapi kan banyak juga temen gue yang kayak gini kak," celetuk Indri. Ia berusaha membela diri di hadapan sang kakak.
"Temen lo yang norak! Jangan bertingkah aneh-aneh sebelum waktunya! Lagian ini kalau papa tahu, bisa lebih marah dari gue. Belum si Andra juga kalau tahu. Ini lagi, baju lu kurang bahan, ganti!"
Indri melihat tampilannya yang memang sedikit terbuka. Tapi kan ini pesta, apa iya harus pakai celana jeans dan jaket? Kadang sang kakak terlalu berlebihan di matanya.
"Tapi ini udah pas dan bagus kak," bantah Indri yang berusaha menolak permintaan sang kakak.
Andre memijat kepalanya yang sedikit berdenyut nyeri. Inilah alasannya belum tertarik dengan perempuan manapun. Ngurus adik satu aja udah pusing gini, gimana kalau ia punya pacar. Pasti jauh lebih pusing. Ya, seperti prinsip nya yang selalu bilang berurusan dengan perempuan itu rumit seperti rumus matematika.
"Ganti, atau lo ngga usah pergi sekalian! Lagian banyak baju bagus ngga usah seksi kan banyak dek! Lo mau lihatin tubuh lo yang seperti bakcang ke semua orang ya!"
Plak...Pukulan mendarat di bahu kokoh Andre. Sudah sering Indri melakukannya. Saat ejekan sang kakak yang menurutnya keterlaluan. Padahal ia sendiri tak gendut lo, hanya sedikit tembem di pipi saja yang seperti bakpao. Bilang nya sih gemoy gitu, ngga gendut kok.
"Kakak kok guru sih."
"Kan bener dek, pokoknya ganti kakak ngga mau tahu. Ganti, atau ngga jadi pergi." Ucap Andre dengan tegas pada sang adik.
__ADS_1
Alasan utamanya tentu saja bukan hal itu. Adiknya tak terlalu gendut. Cuma, tembem pipi aja sih. Tapi yang jadi kekhawatiran sang kakak adalah. Saat laki-laki lain menatap ke arah sang adik dengan pandangan nafsu. Karena itu bisa mengundang kejahatan itulah yang Andre pikirkan sejak tadi. Dandan nya juga hanya mencolok di bibir tipis Indri. Tapi, lagi-lagi hal itu justru akan membuat ia jadi pusat perhatian. Dan Andre tak mau hal itu terjadi. Itu adalah bentuk perlindungan dari sang kakak kepada sang adik.
"Iya," jawab Indri dengan lesu.
Ia tahu saat Andre berucap dengan tegas tak bisa ia bantah.
"Lagian, lo mau ke pesta ulang tahun atau mau atraksi. Macam ondel-ondel aja kau itu dek,"
"Kakak!" Sentak Indri.
"Apa? Mau bilang mama? Mau aduin sama Andra? Atau sama papa? Silahkan! Pasti kali ini bukan kakak yang di hukum tapi lo yang ngga akan di kasih uang jajan selama sebulan." Ancam Andre.
Dengan menghentakkan kaki nya, Indri kembali masuk ke ruang ganti.
***
"Sayang jangan kayak gini dong. Itu udah pada datang mereka lo," ucap Putra yang berusaha membujuk Alisya agar tak pulang.
"Iya maaf,"
Alisya pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Karena teman-teman Putra sudah datang. Ada Louis, William, dan Andra. Jangan tanya kenapa si Andre ngga ada. Karena kan dia lagi menjalankan tugas negara nya.
"Eh, sebentar ada pujaan hati gue di seberang sana. Gue samperin dia sebentar," Loius berjalan ke arah tempat duduk Kia.
Sedari tadi ia sudah memperhatikan Kia yang juga sedang menatap dirinya dari kejauhan. Tentu saja, dengan percaya diri Loius menghampiri Kia. Bahkan senyum nya tak surut saat melihat gadis manis itu.
" Hai, apa kabar?" tanya Louis saat sampai di hadapan Kia.
Kia memandang tak suka ke arah Lou. Laki-laki yang selalu ia hindari, ternyata malah selalu di pertemukan dengan dirinya.
"Lo kenal dia?" tanya Fahmi pada Kia yang melihat ekspresi tak suka Kia.
__ADS_1
"Hem, tahu aja sih. Ngga kenal banget sih." Jawab Kia yang tetap terlihat cuek di hadapan Louis.
"Oh, kirain mo kenal."
"Dia kenal sama gue. Bahkan beberapa kali kita terlibat pekerjaan yang sama. Bahkan gue pernah ke rumah Kia kok. Betul ngga Ki?"
"Hem, begitulah."
"Tadi lo bilang ngga kenal, sekarang dia bilang pernah ke rumah dan lo membenarkannya. Gimana sih? Jadi kalian kenal ngga nih?" Tanya Fahmi penasaran.
"Kenal,"
"Kagak,"
Jawab keduanya bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
"Kalian itu, sepertinya jodoh deh. Bisanya kalau sering bertengkar gitu awalnya benci jadi suka lalu tumbuh cinta."
"Ngawur! Ogah gue sama dia kak. Lagian ini orang nyebelin banget."
"Enak aja, gue ganteng nya ngga ketulungan gini lo katain nyebelin. Di bagian mana nya gue nyebelin? Ganteng iya, perhatian ngga perlu di ragukan. Masih saja gue buruk di mata lo ya Ki."
Kia semakin ingin muntah mendengar omongan Louis.
"Iya, lo selalu buruk di mata gue. Udah, gue mau makan dulu," Kia melanjutkan melahap nasi goreng nya.
Fahmi yang melihat Kia seperti itu hanya tersenyum. Kia hanya malu untuk menanggapi Louis yang selalu mengejarnya. Dan mungkin, dalam hati Kia terbesit sedikit rasa suka. Walaupun di bibirnya terucap kata tidak, tapi kan ya, hati orang siapa yang tahu kan? Terkadang orang jatuh cinta memang seperti itu. Awalnya malu-malu tapi padahal mau.
Visual pemain The Random Zodiak
__ADS_1