The Random Zodiak

The Random Zodiak
Chapter 15: Selembar kertas.


__ADS_3

Kok ngapain, bapak dukun kan?" tanya Putra.


Saat selesai bertanya Andre dan Andra kompak saling menyenggol tangan Putra. Mereka takut kalau ucapan sahabat nya menyinggung pak Jamal. Sementara itu William dan Loius menepuk jidat mereka masing-masing.


Mereka berempat harap-harap cemas saat menunggu jawaban dari pak Jamal.


"Jadi, gimana, bisa bantu ngga pak?" tanya Putra lagi.


"Em, masalah nya agak susah. Lalu, saya harus ngapain?" bukannya menjawab, Pak Jamal malah bertanya balik pada Putra.


Pak Jamal diam, ia berpikir bagaimana caranya untuk membantu kakak sepupu nya Putra. Sedangkan dia hanya seorang dosen. Mungkin kalau untuk menyelesaikan soal matematika dia bisa. Tapi, ini menyelesaikan urusan cinta. Ya, tahu sendiri lah, rumit nya melebihi rumus matematika, ngga masuk di logika dan selalu menjadi beban pikiran.


"Bapak di tanya, malah balik nanya sih. Bapak kan dukun, pasti tahu!" Seru Putra.


"Untung dia bokap nya Kia, kalau kagak, udah gue kasih bogem mentah nih. Sabar-sabar Lou, demi dia yang kamu suka, jaga tingkah lo. Minimal terkesan bain dulu lah, di depan calon mertua. Iya, kalau jadi sih." Ucap Lou di dalam hati.


Sedari tadi ia menahan emosi saat mendengar kan ucapan pak Jamal. Tapi, apalah daya, di depan calon mertua harus jaga image dong. Ya, pencitraan gitu lah, kesan pertama yang baik-baik dulu lah. Hayo, ada yang gini juga ngga?


Brak!!!


Pak Jamal menggebrak meja dengan cukup keras.


"Sontoloyo... Iki bocah kerasukan apa ya! Tahu dari mana saya, dukun," Pak Jamal spontan berdiri, ia angkat tangan nya di letakkan di pinggang sambil melotot ke arah Putra.


Putra menunjuk ke arah Loius. Saat melihat sorot mata pak Jamal, nyali Putra sedikit menciut.


" Kamu, yang nyebarin gosip saya dukun? Sejak kapan kalian tahu saya dukun?" tanya Pak Jamal dengan nada yang masih tinggi.


"Jadi, bapak benar dukun?" Kini Andra akhirnya ikut bertanya, karena ia juga penasaran.


"Kalian ini kurang ajar sekali ya!" Seru Kia. Gadis ini tak terima dengan pertanyaan yang di lontarkan Putra dan kawan-kawan nya.


"Ngga kok, Kia. Kita cuma tanya aja. Santai, ya calon." Ujar Lou yang berusaha menenangkan Kia.


"Tanya kok kayak ngajak ribut kalian ini. Bapak saya bukan dukun ya, kalau beliau tahu hal-hal yang akan terjadi di masa depan atau yang lainnya, itu hanya kebetulan. Lagian malam-malam datang ngajak ribut aja kalian ini." Protes Kia yang tidak terima bapak nya di katakan dukun.

__ADS_1


" Tapi Kia, gue butuh bantuan bokap lo. Tadi lo, udah tahu ceritanya kan. Kasihan kakak sepupu gue. " Ucap Putra degan lirih.


Inilah sosok Putra, walaupun ia terlihat cuek dan dingin tapi hatinya merasa sedih saat menceritakan apa yang terjadi dengan Brandon. Dia adalah tipe laki-laki yang tidak banyak mengekspresikan segala sesuatu lewat kata, karena dia lebih suka bertindak. Seperti sekarang ini, dia berusaha mencari cara untuk menemukan Ayako.


"Kalian ngomongin apa sih, kok serius banget. Ini, di minum dulu!" Ujar ibu Kia yang meletakkan nampan berisi teh hangat dan kue kering.


"Tadi sekilas ibu dengar ada yang mencari seseorang, siapa nama nya?" tanya ibu Kia.


"Namanya Ayako, bu." Jawab Putra.


"Oh, Ayako. Tunggu sebentar ya!" Ibu Kia berlalu meninggalkan para pemuda tersebut begitu saja.


"Loh, kok malah pergi," bisik Will kepada Andra.


"Ngga tahu, udah kita tunggu aja. Mungkin masih mau mengadakan ritual di dalam kamar." Jawab Andra yang juga berbisik.


"Ngapain kalian bisik-bisik kayak gitu! Ngomong langsung sini!" Seru Kia dengan tatapan tajam mengarah ke Andre.


"Namanya aja ghibahin orang, ya bisik-bisik dong. Kalau pakai toa namanya kasih pengumuman." Jawab Andra tak kalah sengit.


Mereka menunggu ibu Kia dengan harap-harap cemas. Ya, macam kita nembak gebetan gitu lah. Deg-degan berdebar bercampur jadi satu. Kalau diterima sih, ya mujur. Kalau ngga di terima, ya nasib jangan sampai hancur lah. Emang, ngga ada orang lain selain dia. Bener ngga guys?


...----------------...


"Nona, sadar lah! Nona," ucap Bibi, tak hentinya ia meneteskan air mata karena melihat Ayako yang sudah tak sadarkan diri.


"Tuan, ayo kita bawa ke rumah sakit!" pinta salah satu asisten rumah tangga tersebut.


"Baiklah, ayo bawa ke rumah sakit. Biar aku gendong," laki-laki tersebut langsung membopong Ayako ala bridal style


Ia menggendong Ayako menuju ke mobil pribadi milik nya. Kemeja putih miliknya sudah kena sedikit noda tapi tak ia pedulikan. Pandangan laki-laki itu tak lepas dari wajah cantik Ayako. Kulit putih, bulu mata nya yang lentik serta bibir Ayako sungguh membuat nya tak ingin berpaling. Seandainya ia punya keberanian, sudah ia bawa Ayako pergi jauh dari tempat ini.


"Kalian berdua ikut saya!" perintah nya pada asisten rumah tangga yang biasa menjadi Ayako.


"Baik, tuan." Jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


Rumah sakit.


Wanita cantik yang beberapa jam lalu hampir meregang nyawa akhirnya terselamatkan. Iya, Tuhan tidak ingin ia meninggalkan dunia.


"Hai, cantik! Kenapa mau bunuh diri sih. Ngga seru kalau penderitaan mu cepat berakhir. Gue belum puas," ucap nya dengan lirih.


Pandangan kebencian sangat terlihat dari sorot matanya. Bibir nya tersinggung senyum, tangan kiri nya mencengkeram dengan erat Ayako, hanya berjarak 2cm dari luka sayatan yang Ayako buat. Kuku nya panjang ia tekan kan ' dalam kulit Ayako.


"Gimana? Sakit ngga? Kurang seru kalau lo pas lagi tidur gini. Bangun yuk! Gue mau kasih permainan yang lebih menarik." Lanjut nya.


Ini adalah gambaran kebencian seseorang. Sehingga akal sehat nya sudah tidak berfungsi dengan baik. Menjadikan nya gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk melukai orang lain.


...----------------...


Ibu Kia keluar dari kamar sambil tersenyum, ia membawa selembar kertas lalu di serahkan kepada Putra. "Ibu buat kamu, nak." Ucapnya.


"Ini kertas apa bu?" tanya Putra yang penasaran.


Ibu Kia tersenyum, lalu berkata. "Mungkin, dari selembar kertas itu kesulitan yang kamu alami akan segera berlalu. "


Pak Jamal memandang istrinya penuh cinta. Ia tersenyum lalu, merangkul sang istri. "Ibu yang terbaik." Puji pak Jamal pada istri nya.


Louis, William, Andra dan Andre kompak melihat ke arah Putra. Tentu saja mereka juga penasaran. Apakah itu alamat, di mana Ayako? Itulah yang mereka berempat pikirkan.


"Ayo, buruan di buka!" pinta Lou uang yang penasaran.


" Sabar, ini juga udah mau gue buka."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hayo, kira-kira apa, ya isinya?


Tebak-tebak berhadiah motor yuk!


Berupa brosur dulu tapi, ya 🤭

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya 🙏


Aku sayang kalian ❤️


__ADS_2