
William memandang Nikki lalu tersenyum. "Mengalah bukan berarti kalah! Dan kita ngga lagi ikut kompetisi, kenapa harus ada yang menang dan kalah. Lemah atau ngga nya bukan di lihat dari ini sayang." Jawab William.
"Lalu, di lihat dari apa?"
"Sini, gue bisikin!"
Nikki mendekat ke arah William, ia penasaran dengan kata apa yang akan di bisikkan sang kekasih.
"Dari cara kita tempur di atas ranjang," jawab William berbisik di telinga Nikki.
Plak! Pukulan di lengan kokoh William terdengar nyaring seperti genderang mau perang.
......................
Iklan guys ðŸ¤
R: Woi, thor lo ngaco ye, bunyi gitu lo samain kek kayak genderang ngadi-ngadi lo thor 🤧
A: Husttt 🤫 habis nya gue masih kebawa lagu dangdut yang di putar Will tadi.
R: Kagak ada hubungan nya, author kalem ðŸ˜ðŸ˜
A: Ya, bodo amat lah, gue hubungin aja lah, kek hubungan ku sama dia ðŸ¤ðŸ‘‰ðŸ‘ˆ yang selalu gue hubung-hubungin 😂
__ADS_1
R: Thor, lo slenco dah 😑😑
A: Lagu kan itu? Mas, kang mas namine sinten? Sakniki pun dinten sabtu 💃💃
R: Thor serius dong ðŸ˜ðŸ˜, buruan nulis thor udah gue tunggu dari tadi thor 😠ðŸ˜
A: Oke, siap. Tak cipooookkk cipooookkk emplok 😘😂
Iklan close 😎
...----------------...
"Duh, sayang. Sepertinya tenaga kamu kuat banget deh," ujar William yang sengaja semakin menggoda Nikki.
"Nikah sayang, nikah. Bukan kawin," ralat William membetulkan ucapan Nikki.
"Iya, maksud gue itu," Nikki pun akhirnya tersenyum setelah hampir satu jam cemberut.
"Nah gitu dong, senyum."
Sabar adalah definisi sifat dominan William. Ia bisa memperlakukan Nikki dengan baik. Membalas kata-kata sang kekasih yang ketus dan jutek dengan candaan.
"Yuk, turun!" William melepas sabuk pengaman yang di kenakan Nikki.
__ADS_1
"Makasih," jawab Nikki yang memandang William penuh cinta.
William keluar dari mobil, ia mengitari mobil tersebut lalu membukakan pintu untuk Nikki. "Silahkan, sayang!" Senyum mengembang dari bibir William yang melihat Nikki tak semarah tadi.
"Makasih, masuk dulu ketemu mama yuk!" Ajak Nikki.
"Iya, yuk. Kan biasanya juga gitu."
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Baru pulang kalian?" tanya mama Novie yang memandang tajam ke arah Nikki dan William.
"Eh, mama belum tidur?" bukannya menjawab. Nikki malah bertanya balik.
"Halo tante, maaf baru Will antar, karena tadi hujan. Jadi, kita pulang nya nunggu hujan reda tante," William mencium tangan mama Nikki sambil menjelaskan tentang terlambat nya ia mengantar Nikki.
Mama Novie hanya membatasi keluar rumah jam sepuluh malam. Sedangkan ini sudah setengah sebelas. Tentu saja ia sudah siap memberondong pertanyaan untuk Nikki dan William. Hidup di kota besar seperti Jakarta tak lantas membuat mama Novie memberikan anaknya ikut pergaulan bebas. Ia tak melarang sang anak pergi dengan teman-teman geng nya, tapi harus pulang tepat waktu sesuai aturan mama Novie.
"Alasan aja ya, Will! Bukannya lo naik mobil?"
"Iya, tante. Tapi tadi hujan terlalu lebat dan kita masih makan tadi, maaf Will telat antar Nikki pulang." Jawab William yang tidak enak hati dengan mama Novie.
Seperti biasa, William akan mengeluarkan jurus memelas. Nada lembut, ibarat alunan biola. Biasanya sih, mama Novie luluh, tapi malam ini entah lah, berhasil atau ngga William meluluhkan mama Novie.
__ADS_1