
"Iya, tante. Tapi tadi hujan terlalu lebat dan kita masih makan tadi, maaf Will telat antar Nikki pulang." Jawab William yang tidak enak hati dengan mama Novie.
Seperti biasa, William akan mengeluarkan jurus memelas. Nada lembut, ibarat alunan biola. Biasanya sih, mama Novie luluh, tapi malam ini entah lah, berhasil atau ngga William meluluhkan mama Novie.
" Heleh, banyak alasan saja kau ini." Jawab mama Novie yang masih tak mempan oleh rayuan William.
Bukan William namanya kalau tak mampu meluluhkan hati mama Novie. Akhirnya ia keluarkan jurus andalan nya.
"Oh, iya tante. Hampir lupa, dapat salam dari mama. Katanya kue buatan tante enak banget. Kapan-kapan kalau bikin lagi mama mau beli tante."
"Iya lah. Secara tante kan bikin nya pakai bahan-bahan yang premium. Tanpa pengawet juga, pasti enak lah. Ngga usah beli, tante ngga jualan kok. Besok atau lusa bikin lagi deh kalau mama kamu suka."
Drett... drett... Bunyi getaran ponsel mama Novie menghentikan percakapan mereka.
" Siapa yang telepon malam-malam begini," mama Novie melihat nama yang tertera di layar ponselnya, beberapa detik kemudian ia tersenyum.
" Halo jeng, apa kabar? Ini Will cerita katanya kamu suka dengan kue buatan ku ya jeng?" mama Novie langsung berjalan ke ruang keluarga meninggalkan Nikki dan William begitu saja.
"Tante, Will pamit ya!"
"Udah, sana pulang gih! Keburu mama selesai telepon. Dan, hati-hati di jalan. Yang telepon itu, mama kamu pasti ya?"
" Mama kita berdua sayang," bisik William di telinga Nikki.
"Udah, sana pulang!" usir Nikki yang mendorong pelan William ke luar rumah.
"Gini amat nasib gue sih, dah lah balik. Good night sayang," pamit William, sambil berjalan ke arah mobilnya.
***
Di tempat lain si kembar Andra dan Andre sedang berselancar di media sosial nya.
"Duh, ini Vi tambah cantik aja deh kak. Kayaknya dah lama banget gue ngga ketemu dia," ucap Andra tiba-tiba saat melihat foto Vi di feed instagram.
__ADS_1
Andre pun penasaran, lalu ia melihat dari ponsel sang adik. "Biasa aja sih," ucapnya.
"Nyesel gue bilang sama lo,"
"Siapa suruh lo bilang."
"Ngga ada yang nyuruh,"
Tok... tok... "Buka, kak!" teriakan yang begitu memekik telinga serta gedoran pintu yang lumayan keras sungguh membuat keduanya jengkel sekaligus senang.
"Bontot sudah datang, bukain gih!" perintah Andre pada Andra.
"Buka aja sendiri, dia kan adik kesayangan lo,"
"Yakin, cuma kesayangan gue. Lo ngga sayang sama dia?"
"Ngga." Jawab Andra tanpa ragu.
"Udah gue rekam, ntar kalau bokap nyokap kita marah artinya dia udah ngaduin yang kagak-kagak," ancam Andre yang memperlihatkan rekaman berisi suara Andra.
"Duh, ngapain dia ngga tinggal sama nenek terus aja ya. Nyokap aja udah cerewet nya kayak gitu, di tambah dia udah kayak pasar nih rumah. Tapi, gue herannya laki-laki empat kalah sama perempuan dua." Ujar Andre.
"Tapi kalau dia jauh lo kan kangen juga,"
"Kagak juga,"
"Kakak, kalian ngapain sih? Lagi main di atas ranjang ya?"
"Astaga itu bontot, kalau ngomong kagak di saring dulu," Andre segera membukakan pintu untuk sang adik.
"Lama sekali buka nya, ngapain sih? Kalian lagi main di ranjang ya?" sang adik langsung memberondong sang kakak dengan pertanyaan.
Andre refleks menutup mulut sang adik yang begitu bawel menurut nya. "Bisa pelan ngga dek, kalau ngomong. Lagian ini mulut kalau ngomong ngga di saring dulu. Ini udah malam ngapain ke sini?"
__ADS_1
"Foto dulu ah, ini kekerasan dalam hubungan persaudaraan. Ntar kasih liat mama biar uang jajan lo di kurangi," Andra dengan sigap mengambil gambar saat Andre menutup mulut sang adik.
Tak kehilangan akal sang adik menggigit tangan Andre.
"Akkkhhhh," teriak Andre yang kesakitan karena gigitan sang adik.
"Salah sendiri usil, itu balasan nya."
"Galak banget lo jadi cewek dek, ngga ada yang naksir ntar lo!" Andre masih mengaduh sambil mengibaskan tangan nya yang terasa nyeri.
"Jomblo bahagia lebih asyik kak."
"Belum aja lo jatuh cinta. Awas ntar bucin lo dek!"
"Bucin, gue? Kayak kak Andra gitu? Big no kak."
Andre tertawa mendengar ucapan sang adik. "Tuh, Ndra. Dengerin kalau adik lo ngomong. Dia suka bener emang,"
"Sialan lo,"
"Kamu kapan pulang dek?" tanya Andra mengalihkan pembicaraan.
"Baru saja pulang kak. Kenapa, rindu ya?"
"Ngga," jawab Andra dan Andre kompak.
"Ih, kakak kok gitu sih. Gini nih, ngga punya kembaran sendiri. Suka di jadikan kalah-kalahan sama kakak."
"Ngga kebalik tuh."
"Udah lah, jangan debat lagi. kakak sedang apa? Jam segini belum tidur."
"Sungguh ingin gue jitak tuh kepala terus gue jewer tuh telinga. Kalau ngomong kagak di pikir dulu. Untung sayang, jadi keinginan gue cuma ada di khayalan aja." Celetuk Andra.
__ADS_1
Hal seperti ini sering mereka alami. Andra dan Andre mempunyai adik perempuan bernama Indri. Karena menjadi anak terakhir dan perempuan sendiri ia cenderung mempunyai sifat dan sikap yang manja. Tak jarang sering usil kepada kedua kakak nya, dan kalau di balas di usili tentu saja Indri akan melaporkan nya pada sang mama dan berujung sang kakak yang kena marah.
Terlepas dari hal itu, mereka saling sayang satu sama lain. Andre yang cenderung usil, Andra yang sedikit pendiam tapi juga sangat perhatian. Dan Indri paling cerewet dan manja.