The Random Zodiak

The Random Zodiak
Chapter 29: Tak lekang oleh waktu.


__ADS_3

Diam-diam Lulu mencuri pandang ke arah Louis. Setelah bertemu dengan Louis di sebuah mall beberapa waktu lalu, ia sedikit tertarik dengan sosok Louis yang menurutnya pekerja keras.


"Hei, lo liatin siapa sih?" tanya Mona yang melihat pandangan Lulu fokus ke depan.


"Kagak," jawab Lulu yang segera mengalihkan pandangan nya.


Tentu saja Mona tak semudah itu percaya. Karena ia melihat pandangan Lulu ke arah Louis sedikit berbeda.


"Kayaknya ada udang di balik bakwan ini deh," ucap Mona sambil mengedipkan satu matanya ke arah Lulu.


"Ngaco aja sih, lo. Udah duduk yuk! Lapar gue," Lulu segera mengambil tempat duduk dekat Alisya yang sedikit jauh dari Loius.


Mereka duduk berhadapan hanya meja panjang menjadi pembatas antara mereka. Geng kawa-kawa dan scorpio berkumpul.


"Sayang, mau pesan apa?" tanya Putra pada sang kekasih Alisya.


"Es jeruk aja,"


"Ngga mau makan sekalian?" tanya Putra lagi.


"Belum lapar, nanti aja deh." Jawab Alisya.


Putra segera memesan minuman untuk sang kekasih tak lupa ia memesan beberapa gorengan untuk di makan bersama. Setalah Putra di ikuti oleh William yang juga memesankan menu makanan untuk Nikki. Ya, begitulah kalau mereka kumpul. Dua pasang kekasih akan saling beradu perhatian pada sang kekasih dan yang lainnya hanya melihat saja. Maklum, mereka masih menjadi jomblo bahagia.


Katanya sih begitu, itu yang bilang Andre kembaran nya Andra. Maklum lah, dia kan sok bijaksana bijaksini seperti adik bungsunya yang kalem.


"Lo kelihatan pusing mikir apa sih?" tanya Alisya yang sedari tadi penasaran dengan kegelisahan Putra.


"Ngga ada." Jawab Putra berbohong.


Sebenarnya Putra bukannya ingin merahasiakan nya dari Alisya. Tapi ia tidak mau sang kekasih ikut memikirkan masalah keluarga nya. Ia akan cerita saat waktunya tiba tanpa membebani pikiran sang kekasih.

__ADS_1


"Bohong nih kamu. Cerita aja, ngga apa-apa kok." Bujuk Alisya.


"Benar, ngga ada salah nya lo cerita kok. Toh dia bukan orang lain. Dia kekasih lo, dan kita semua di sini adalah sahabat. Gue denger sedikit sih dari Will kalau lo dan kakak lo itu lagi bingung. Kita ngga bisa bantu, tapi seenggak nya dengan cerita ke kita beban di pikiran lo akan sedikit berkurang." Saut Nikki.


" Duh, pinter banget sih sayang nya gue." Puji Will pada sang kekasih.


Bukannya tersenyum, Nikki malah memandang tajam ke arah William. Ia seolah malu saat di puji di depan semua sahabat nya.


" Heleh, si Will bucin akut. Puji terus calon bini lo!" Kali ini Andre ikut bersuara, tentu saja ia sendiri adalah jomblo di antara yang lain merasa tidak terima melihat tingkah sahabat nya yang menurut nya begitu menjengkelkan.


"Iri bilang bos!" Ucap Will yang tak terima dengan perkataan Andre.


"Udah, stop! Gue mau makan butuh ketenangan." Perintah Mina pada semua sahabat nya yang menurutnya berisik.


Mereka saling pandang. Bukankah ngga masalah kalau Mina yang makan mereka yang berisik? Kecuali kalau Mina mau tidur baru lah jangan berisik.


"Udah, ngga usah protes. Diam kalian semua! Pusing gue lihat kalian kalau keadaan perut kosong. Tunggu gue isi, baru kita lanjutkan berisik nya," Mina kembali menyendokkan nasi ayam gebrek ke mulut nya. Ia pesan level dua puluh yang tingkat pedasnya setara dengan omongan tetangga yang julid.


Putra yang menyadari diamnya Alisya segera menyentuh tangan sang kekasih sambil bertanya." Kenapa?"


"Nanti pulang kuliah gue ceritain semuanya." Akhirnya Putra berniat cerita pada sang kekasih.


"Iya, gue bukannya ingin tahu segalanya tentang lo. Masalah pun ngga bisa bantu, tapi seenggaknya kalau lo cerita bisa sedikit meringankan beban lo."


"Iya sayang," jawab Putra, tangan kanannyq mengusap rambut panjang Alisya.


Sedari tadi ada dua orang hanya diam tanpa saling sapa. Siapa lagi kalau bukan Louis dan Lulu. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing yang entah, hanya mereka berdua yang tahu.


Sementara Andra, Andre, Mina dan Mona hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya.


...----------------...

__ADS_1


Di tempat lain.


"Lo yakin mau ke Singapura?" tanya seseorang pada rekanya yang sesama mahasiswa yang kuliah di jurusan kedokteran.


"Yakin lah, paling juga cuma dua minggu saja. Lagian gue ada kenalan temen di sana." Jawab Atar dengan mantap.


Atar adalah kakak dari Kia yang sedang kuliah di Yogyakarta. Berkat didikan tegas sang bapak ia selalu mempunyai tekad yang bulat. Dia bercita-cita menjadi seorang dokter yang hebat dan ingin bisa membantu banyak orang.


"Siapa bto?" tanya sang teman.


"Namanya Andreas, dia bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Singapura. Karir nya cukup bagus di sana. Dia populer karena wajahnya ganteng, tapi sedikit genit dengan wanita." Jawab Atar yang juga sedikit cerita tantang sahabat nya bernama Andreas.


"Oke deh, hati-hati lo di sana. Jangan lupa oleh-oleh nya,"


"Oleh-oleh nya ilmu bro."


***


Di rumah keluarga Wijaya.


"Sudah sesuai rencana kita kan?" tanya seorang pria tua pada seseorang yang ada di seberang telepon.


"Sudah, tuan. Semua sesuai rencana. Dan sesuai permintaan tuan, anak dari Pak Jamal yang berangkat ke sana."


"Baik, kerja bagus. Terima kasih," panggilan telepon yang berdurasi kurang dari sepuluh menit itu pun berakhir.


"Tunggu saja, siapa yang akan kalah di antara kita. Ternyata nyalimu cukup besar juga sampai mengusik keluarga Wijaya. Iri dan dengki memang selalu menjadi momok dalam hati manusia. Bersiaplah, kali ini akan aku hancurkan dirimu dengan kedua tanganku sendiri." Ucap kakek Wijaya dengan lirih, tangan kanan nya menggenggam erat ponsel yang ia pegang. Rasa marah dan benci yang tak bisa ia pungkiri.


" Kakek, makan malam dulu yuk! " Suara wanita tua yang terdengar lembut menyadarkan sang kakek. Ia adalah sang istri yang sangat di cintai nya.


Sang kakek beberapa menit kemudian tersenyum memandang sang istri. Dia adalah sosok yang tegas dan di takuti beberapa rekan bisnis nya. Tapi ia menjadi sosok suami yang lembut di hadapan sang istri. Cinta lah, yang menjadikan nya seperti ini. Keluarga mereka penuh sayang dan cinta.

__ADS_1


"Iya, yuk kita makan bersama," Kakek berdiri dari kursi kerjanya.


Dua pasangan yang tidak muda lagi sangat terlihat harmonis, membuat siapa saja senang melihatnya. Bukan nya mereka tak pernah berselisih paham, tapi prinsip mereka adalah selalu ada alasan untuk terus bersama selain saling mencintai, rasa nyaman dan aman selalu di berikan keduanya.


__ADS_2