
Andra! Mau elu apa sih?" Tanya Vi. Napas nya sudah naik turun menahan amarah.
Andra mendekat ke telinga Vi lalu berbisik. "Ayo, kita coba dengan serius!" Ajak Andra.
Spontan Vi mendorong tubuh Andra. Tanpa kata ia langsung pergi meninggalkan laki-laki yang menurut nya kurang ajar tersebut. "Elu, sekarang gila," ucapnya saat sudah di ambang pintu, beberapa menit kemudian bayangan Vi tak terlihat lagi.
Andra tersenyum mendengar penuturan Vi. Ternyata semenyenanhkan ini menjahili perempuan yang ia cinta. Tunggu, cinta? Bukankah sebelum nya bilang sudah tidak ingin lagi menaruh hati pada Vi, tapi pada kenyataannya bibir berkata tidak dan hati masih bilang iya. Andra masih berharap pada sosok perempuan cantik yang sedikit jutek bernama Silvia.
Ia pun ikut keluar kelas, karena dari tadi ponsel nya tak berhenti berdering. Jangan ditanya suasana hati Andra tiba-tiba sudah tak enak saat mengetahui siapa yang terus menelpon dirinya, siapa lagi kalau bukan adik bontot kesayangan nya yang selalu bikin ulah. "Untung gue sayang, kalau ngga, udah gue..." Andra menjeda ucapannya. "Astaga, mau bilang timpuk aja ngga tega. Pengen nya gue jual aja, tapi kagak mungkin laku. Eh, kalau ada yang beli? Enak aja, adik satu-satunya itu jangan lah."
Di sekolah.
"Mana kakak lo? Udah hampir satu jam belum sampai," keluh Delly, teman sekolah Indri.
"Bentar lagi," jawab Indri yang celingukan melihat ke arah jalan.
Jam pulang nya sudah sekitar satu setengah jam yang lalu. Harus nya ini jatah Andre yang jemput. Tapi entah lupa atau di sengaja yang jelas tak bisa di hubungi sejak satu jam yang lalu. Dan mau tak mau ia minta jemput Andra.
"Gue duluan ya! Nyokap dah mau sampai," pamit Delly, yang berjalan menjauh meninggalkan Indri begitu saja.
"Ya, elu tega bener sih jadi teman. Katanyaau ketemu kakak gue," ujar Indri dengan suara yang sedikit keras.
"Lagian yang jemput bukan mas Andre, gue kan maunya ketemu dia." Ucap Delly dengan suara yang tak kalah kencang nya dengan Indri.
"Kan sama saja, wajah mereka juga sama. Tinggi badan pun sama, anggap aja kak Andre." Dengan enteng nya, seperti biasa Indri kalau ngomong ngga di pikir, lancar aja kayak jalan tol yang tanpa hambatan.
"Pokoknya beda. Udah bye," ucap Delly, lalu beberapa menit kemudian ia pun masuk ke dalam mobil sang mama.
__ADS_1
"Kebiasaan mereka suka jemput telat, punya kakak dua ngga ada yang bisa di andalin. Katanya sayang, ck, bohong itu mereka." Dengan perasaan yang kesal Indri berjalan begitu saja tanpa tujuan. Ya, ceritanya dis ngambek gitu deh. Ala-ala mau kabur kayaknya nya ini.
Sudah berjalan sekitar sepuluh menit Indri masih tak tahu arah tujuan nya, mau kabur kok takut. Mau telepon kakak nya Andra kok gengsi. Mau telepon mama Mega malah yang ada dia yang kena marah.
"Gue kemana ya, enak nya. Jajan dulu lah, ke indoapril." Kebetulan ia berada di depan sebuah minimarket tanpa ragu ia masuk dan ingin membeli jajan.
"Selamat datang di Indoapril, selamat belanja," sambutan ramah petugas Indoapril saat kita datang itu menyenangkan, ibarat masuk ke hidup dia yang sambutan nya hangat dan ramah.
"Terima kasih mbak," jawab Indri yang juga mengangguk serta memberikan senyum termanis nya. Ia, manis jangan di tanya kek apa manis nya. Mirip author nya 😎
Yang ia tuju adalah tempat es krim. Rasa vanilla dan es krim nastar yang menjadi favorit nya.
"Eh, itu punya gue !" Seru Indri saat ada seseorang yang menyerobot es krim nastar nya.
"Lo udah pegang yang nastar strawberry, jadi ini buat gue aja. Lagi ngidam nih," jawab laki-laki tersebut.
"Ngga urusan, ini punya gue." Laki-laki itu tetap tidak mau mengalah pada Indri.
"Kak, gue lagi bad mood. Tolong jangan bikin gue jadi makin good mood, eh... Maksudnya badmood."
"Bodoh amat, yang jelas ini milik gue," Laki-laki tersebut langsung menuju kasir untuk membayar es krim nya.
Bukan Indri namanya kalau dia kehabisan akal. Ia meletakkan kembali es krim nya lalu mengikuti laki-laki tersebut. Ia berdiri tepat di belakangnya, seolah sedang ikut mengantri di kasir.
"Ini aja, kak? Ngga mau tambah rotinya beli satu gratis satu. Atau sabun wajah tolak jelek," petugas Indo april tersebut bertanya sekaligus menawari produk lainnya.
"Ngga ini aja, lagian elu nawari sabun anti jelek lu pikir wajah gue kurang ganteng apa!"
__ADS_1
"Ngga mas, ganteng kok. Ini kan cuma nawarin sesuai ikannya aja. Total nya dua puluh ribu mas,"
"Ini!" Laki-laki tersebut mengulurkan sebuah kartu debit kepada kasir indoapril.
"Makasih kakak jelek," Indri langsung mengambil es krim tersebut, dan meletakkan uang dua puluh ribu di atas meja kasir. "Mbak, bayar nya pakai uang ini, makasih ya!" Indri langsung berlari keluar dari minimarket tersebut. Karena ia sering beli, jadi sudah hafal betul dengan harga es krim tersebut.
"Eh, elu kurang aja ya! Jangan lari!
Indri yang sudah di depan indoapril pun hanya menjulurkan lidah nya ke arah laki-laki itu.
" Tunggu saja ya!"
Tak mau kalah dengan Indri ia langsung keluar dari indoapril lalu berteriak." MALING!"
Beberapa orang yang ada di sana terkejut, tak butuh waktu lama orang-orang langsung menuju arah Indri yang sedang di teriaki maling.
"Mana maling nya mas?" tanya seorang wanita yang ingin masuk ke indoapril. Ia ikut mengarahkan pandangan mencari keberadaan maling tersebut.
"Ngga ada bu, udah masuk aja! Silahkan banjar bu!"
"Dasar anak zaman sekarang, ngga jelas. Senang nya ngepruk orang tua. Eh, kok ngepruk. Ngepank maksudnya. Lain kali jangan gitu! Bikin orang panik."
"Iya, bu. Maaf,"
Indri yang mendengar teriakan laki-laki asing itu sontak diam bak manikin. Lidah nya tiba-tiba kelu, tubuhnya pun seolah ikut membeku. Tangan kanan nya mencengkeram erat sebuah es krim. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit wajah nya. Takut, itulah yang ia rasa saat ini. Bukan kah yang salah dari awal adalah laki-laki itu, ini hanya soal es krim lagian dia sudah membayar nya, toh laki-laki itu ngga keluar uang untuk satu buah es krim yang ia pegang saat ini. Mata indahnya sudah tergenang cairan bening.
"Ngga lari lagi? Takut ya?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...