The Random Zodiak

The Random Zodiak
Chapter 43: Kita kawan.


__ADS_3

Yang di maksud Putra di sini adalah dua sifat Brandon yang berbeda. Ia angkuh, terlihat gagah saat siang bertemu banyak orang. Tapi saat gelap di sunyi nya malam ia lemah. Bahkan Brandon yang dulu ceria tak ada lagi.


"Hem, tunggu gue balik semangat lagi. Ngga tahu kapan." Ucap Brandon.


Putra membuang napas kasar. Bukankah percuma memberikan semangat untuk orang yang sudah hilang semangat.


"Terserah kaka saja, siksa diri kakak sepuasnya."


Setelah mengucapkan kata itu, Putra keluar dari kamar sang kakak dan menutup pintu kamar Brandon dengan kencang.


"Kenapa remaja sekarang sering tersulut emosi." Ujar Brandon.


Beberapa hari kemudian.


Atar sudah tiba di Singapura. Di sebuah restoran cepat saji ia mengisi perutnya yang sudah protes minta di isi. Sambil menikmati makan siang nya, ia sesekali melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Jangan tanya dia janjian kencan atau apalah, kan Atar jomblo jadi ngga mungkin lah nunggu pacar.


Seorang laki-laki berusia di atas Atar kira-kira lima atau enam tahun lebih tua berjalan ke arah nya sambil tersenyum manis. Ya, ini ngga muda ngga tua gitu lah lah, sedang gitulah. "Hai, lama menunggu ya?" tanya Andreas pada Atar.

__ADS_1


iya, laki-laki itu adalah Andreas kaka kelas Atar. Selama di Singapura Atar akan tinggal bersamanya. Hanya tinggal satu atap ngga satu ranjang lo ya. Eh, tapi kalau mereka mau satu ranjang ngga apa-apa juga.


" Hilih pak dokter, sudah tahu nanya."


"Sorry, tadi ada pasien kecelakaan harus segera di tangani makanya gue telat."


"Loh, kok lo yang tanggung jawab? Pacar nya mana? Emang dasar anak muda zaman sekarang gitu, maunya coba-coba tahunya berhasil nah kan udah terjadi ngga mau mengakui malah di tinggal melarikan diri. Jadinya tuh ceweknya sakit sendiri menanggung malu tiada henti."


"Wkwkw, lo itu kalau ngomong suka bener sih. Anjirrr."


"Inilah contoh dokter yang tak boleh di jadikan panutan. Kata-kata nya, beehhh kasar bener. Astagfirullah," Atar mengelus dadanya yang rata.


"Betul, ngga usah sopan sama gue. Lagian gue ngga suka elu yang sok jaim gitu njirr."


"Oke ngga sungkan lagi deh sekarang."


"Sejak kapan elu sungkan cok?"

__ADS_1


"Ngga pernah sih,"


Bwhaha... Mereka berdua pun tertawa bersama. Kedekatan keduanya tak usah di ragukan lagi. Tak ada yang sakit hati walaupun sedikit kata kasar terlontar dari bibir keduanya. Iya, tak ada kata sungkan karena mereka berkawan. Atar pun menghabiskan makannya. Setelah kenyang ia ikut pulang ke apartemen Andreas. Ya, masa ke kost, kan orang kaya ke apartemen gitu lo. Kalau ada yang gratis numpang kenapa harus bayar kan? Tentu saja hanya berlaku bagi yang dekat-dekat saja. Iya dekat seperti jarak kita, iya kamu, yang baca ini.


Di rumah sakit.


Lamunanku masih sama, di ruang rindu yang aku tak tahu kapan habisnya. Seolah semesta punya cara untuk mengungkit, hembusan angin menari membawa pesan yang tak kunjung sampai kepada sang pemilik. Iya, kuat ku hanya kata sebenarnya hati tak ada daya. Aku ingin menyerah.


Brak!


Ayako menoleh ke arah sumber suara tersebut. "Dasar gila, mau apa lagi kau?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ



...

__ADS_1



Alisya


__ADS_2