The Random Zodiak

The Random Zodiak
Chapter 37: Perdebatan si kembar.


__ADS_3

Sembarangan, gitu-gitu adik berisik, gue juga sayang. Tapi usul lo boleh lah. Gue pertimbangkan lagi. Kalau bisa gue buang ke Antartika sekalian dia." Ucap Andra disertai dengan candaan.


📞"Napa dek? Udah pulang?" tanya Andra.


📞"Udah, kakak di mana?"


📞"Lagi nongkrong sama temen-temen. Eh, tunggu lo nangis ya?"


📞"Ngga,"


Indri langsung mematikan ponselnya. Ia kembali menenggelamkan kepala nya di atas bantal.


***


"Guys, gue cabut dulu ya!" pamit Andra pada teman-teman nya.


"Mau kemana sih, lo buru-buru cabut?" tanya Lou.


"Mau balik ke rumah," Andra langsung mengambil kunci mobil yang ada di meja, ia langsung berlari tanpa menjawab pertanyaan Lou.


"Siapa lagi kalau bukan si biang onar. Untung gue ngga punya adik cewek," ucap William.


"Udah-udah, makan gih! Ngomongin adik cewek gue juga punya tapi ngga kayak adiknya si kembar. Kayaknya itu versi ceweknya si Andre deh." Ujar Putra.

__ADS_1


"Namanya saja saudara, pasti sedikit banyak ada kesamaan sifat dan sikap karena mereka di didik dengan orang tua yang sama." Ujar Lou.


"Bener juga itu, udah yuk kita makan!" Ajak Alisya.


Mereka pun menyantap hidangan tanpa membicarakan Andra, Andre dan juga Indri.


***


📞 "Lo apain bontot?" tanya Andra pada sang kakak di sambungan telepon.


Saking tidak sabar nya, Andra langsung menelepon sang kakak untuk menanyakan sebab Indri menangis. Ya, begitulah nasib nya jadi bontot, di lindungi sana dan sini.


📞"Kagak gue apa-apain lah. Cuma tadi ngga jadi ke pesta ulang tahun teman nya aja sih. Dia udah ngadu sama lo?" Andre menjawab dengan santai pertanyaan saudara kembar nya. Sebagai kakak tentu saja ia tahu apa yang terbaik untuk sang adik.


Tentu saja ia belum tahu seluk beluk masalah sang adik. Tapi ia juga tahu bahwa menghadiri pesta malam ini adalah keinginan adiknya. Karena Indri hampir tidak pernah keluar malam sendiri, selain dengan kedua orang tua atau kedua kakak nya.


📞"Gue tunggu lo, di rumah!"


Andre langsung memutus begitu saja sambungan telepon sang adik. Karena menurutnya sia-sia debat di telepon.


Tok... tok...Saat di depan kamar sang adik, Andre tiba-tiba kepikiran untuk membelikan martabak manis kesukaan saudara nya itu.


"Dek, mau mau martabak manis yang apa?" tanya Andre dari balik pintu kamar Indri.

__ADS_1


Dua menit, lima menit tak ada jawaban dari pemilik kamar tersebut. Bukan Andre namanya kalau ia ngga cuek.


"Oke, lah. Lanjutin aja nangis nya ya! Jangan lupa ntar sarung bantal nya di ganti. Kakak ke kamar dulu, ngantuk mau tidur!" Ujar Andre. Ia segera pergi menuju kamar yang bersebelahan dengan sang adik.


Andre tetap memesan martabak manis kesukaan Indri lewat aplikasi warna hijau di ponsel pintar nya. Ia memesan martabak manis dengan toping keju dan coklat kesukaan sang adik.


"Andre, dimana lo!" Teriak Andra yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Den, udah pulang? Den Andre di kamar nya." Jawab sang bibi asisten rumah tangga keluarga mereka.


"Oh, oke. Makasih bi," Andra segara berlari menuju lantai dua di mana terdapat kamar mereka.


Brak... Suara pintu yang membentur tembok begitu menusuk telinga.


"Anjirrr, lo ngagetin gue!" Andre yang sedang tiduran di atas kasur empuknya seketika terbangun karena kaget.


"Lo, apain si bontot? Mikir ngga sih, ini itu acara ulang tahun temennya, kan dia juga pengen pergi ke sana. Pakai acara batal, apa alasannya?" tanya Andra dengan napas yang sudah naik turun karena menahan emosi.


"Biar ngga pulang malam aja sih," jawab Andre dengan santai.


Mendengar jawaban Andre. Sang adik langsung mendekat ke arah sang kakak, ia menarik kerah baju Andre.


"Woi, ini apa-apa an sih!" Andre menahan tangan kanan sang adik yang sudah mencengkeram erat kerah bajunya.

__ADS_1


__ADS_2