
Ayako menoleh ke arah sumber suara tersebut. "Dasar gila, mau apa lagi kau?"
"Menurut lo?"
"Akhh... Ayako mengaduh saat pergelangan tangan yang luka di tekan dengan kuat oleh sepupunya.
Iya, dia tak lain adalah sepupu Ayako. Yang tega menyekap, menyiksa dan juga memisahkan Ayako dari Brandon. Terkadang musuh paling menakutkan adalah orang terdekat. Seperti halnya yang di alami Ayako saat ini.
"Takuya, lo gila!" Teriak Ayako. Kesabaran Ayako sudah di ambang batas, akhirnya dia menyebut nama asli sepupunya.
Plak... Plak... Plak... Tamparan begitu keras mendarat di pipi mulus Ayako. Takuya, adalah nama sepupunya yang terobsesi dengan Brandon. Nama itu seolah haram di sebut karena Takuya sudah operasi plastik untuk berubah menjadi wanita.
"Panggil gue Melly!" Perintahnya.
"Gue hanya kenal Takuya. Tidak ada nama Melly,"
"Ayako!" Seru Melly dengan frustasi yang nama asli nya di sebut.
"Iya, gue masih di sini. Mau apa? Lo tampar lagi? Hah... Bahkan gue ngga ngerasain sakit."
Pyarr...Piring dan gelas kaca yang ada di meja samping tempat tidur jatuh membentur keramik. Ayako memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam mengurangi rasa terkejutnya karena suara piring dan gelas yang jatuh. Tumbuh bersama keluarga yang baik, serta hampir tak pernah melihat kedua orang tuanya ribut. Bahkan kata umpatan saja tak pernah Ayako dengar sebelumnya. Tapi seolah kali ini Tuhan benar-benar mengujinya.
"Non, telepon nya dari tadi berbunyi terus." Seorang wanita yang hampir separuh baya yang bertugas menjaga Ayako menghentikan aksi gila tuannya. Iya, tangan Melly, hampir mencekik Ayako lagi.
Sambil menarik kembali kedua tangannya, Melly berkata. "Kali ini elu selamat."
Melly melotot menatap nama seseorang yang ada di layar ponsel nya. Buru-buru ia keluar dari ruangan rawat inap Ayako untuk mengangkat telepon misterius itu.
📞" Iya, halo!" Jawab Melly.
__ADS_1
📞" Jangan kau sakiti lagi dia! Atau aku yang akan membunuhmu!" Ancam seseorang dari seberang telepon.
Tut... tut... Panggilan telepon yang berdurasi kurang dari lima menit itu di putus sepihak oleh si penelepon. Melly hanya mendengus kesal. Kali ini ia tak bisa memberikan pelajaran untuk Ayako lagi.
" Sial! Lagian dia juga ngga mati ngapain pakai ancam-ancam gue sih."
Ayako yang ada di dalam ruangan bernapas lega. Ia memandang si bibi lalu melemparkan senyum manis nya. Uhuk, manis kek author ya?
"Arigatou," ucap Ayako sambil sedikit membungkuk.
Andreas dan Atar berjalan di koridor rumah sakit. Beberapa pasang mata memandang takjub ke arah mereka. Tampan, dan terlihat mapan itulah yang di pikir beberapa perawat dan pasien di sana. Kalau Andreas jangan di hanya lagi, dua adalah idola di sana. Kalau Atar karena ini hari pertama ke rumah sakit tentu saja banyak pasang mata yang penasaran. Tak hanya satu dua yang berbisik di belakang mereka mengagumi sosok Atar.
"Elu idola di sini ya?" tanya Atar pada Andreas.
"Kira-kira begitu." Jawab Andreas dengan sombongnya.
"Hem, kira-kira baru separuh nya sih. Masih usaha buat baperin semua cewek di sini."
Andreas menjawab dengan candaan. Lagi pula dia sudah ada gadis pujaan nya di Indonesia.
"Yang gadis waktu itu udah di lupain ya?"
"Em, ngga tahu sih."
"Dasar dudul!"
"Ho'oh. Gara-gara cinta."
"Makan tuh cinta! Enakan juga sendiri asyik."
__ADS_1
Sepanjang jalan mereka hanya mengobrol hal yang ya, ngga terlalu penting.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Titip rindu dan ceritaku untuk mu ya. BF
Cerita senja ku ada sedikit. Rasa sakitku selalu bangkit.
Ah, sial!
Jika hari berganti namamu tak mampu terganti, apakah aku harus ikut pergi?
Bee, di balutan senyum ku terbesit luka
Langkah kaki tak tegak lagi!
Jeritan putus asa meraung di ujung rindu
Air mata hanya simbol sebuah putus asa.
Dalam ruang gelap yang aku sebut kecewa
Ada seorang wanita bersimpuh memelas kasih pada Sang Pencipta
Di gelap nya malam dan di terpa angin dingin menembus kulit menusuk tulang menggetarkan raga yang sudah gersang.
Rapuh, jatuh, patah dan hampir menyerah.
- *Catatan Diandra* -
__ADS_1