
Dengan pelan, Putra membuka kertas yang di lipat berbentuk segitiga tersebut. Hatinya berdebar, jika ini hal baik, ia akan menganggap ibu Kia benar. Tapi, jika ini hal buruk, ia menganggap nya tidak benar.
"Buruan buka!" desak Lou yang tak sabar ingin lihat isi tulisan nya.
"Sebentar!" Bentak Putra.
Dengan pelan, Putra membuka lipatan kertas tersebut. Betapa terkejut nya, saat ia mengetahui isinya. Ia langsung berdiri lalu melempar kartu itu ke sembarang arah.
"Ibu, jangan mempermainkan saya, ya! Maksudnya apa kartu ini. Saya ngga mau main tebak-tebak kan," Putra yang tidak biasanya menggunakan bahasa formal, kini ia berkata dengan tegas. Di setiap kata ia tekankan, bahwa dirinya tidak terima dengan apa yang di lakukan ibu Kia.
"Duduk lah, nak!" pinta ibu Kia dengan nada lembut.
Ibu Kia tahu, Putra sedang marah. Justru ia punya cara tersendiri untuk memecahkan masalah yang di alami saudara Putra.
"Belum tahu, rasanya sedih karena kehilangan ya? Makanya ibu santai, dan seolah masalah ini enteng menurut ibu. Seperti nya salah gue kemari," Putra langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke luar.
"Dia masih hidup, dan sekarang dalam bahaya," ucap ibu Kia dengan lantang.
Putra menghentikan langkah nya. Tanpa menoleh, ia berkata. " Atas dasar apa, gue harus percaya dengan anda!"
"Atas dasar cinta dan kasih sayang yang terjalin di keluarga Wijaya. Benar, kan Putra Hs Wijaya?"
"Katakan dimana dia sekarang! Saya tidak mau mengulur waktu," Putra berbalik menatap ibu Kia dari jarak sekitar tiga meter.
"Duduk, lah dulu! Kau itu tidak sopan sekali bicara dengan orang tua sambil berdiri. Duduk lah! Keluarga Wijaya kenapa bisa punya sifat dan sikap yang sama. Menjengkelkan sekali kalian."
Putra menurut, apa yang di katakan ibu Kia benar. Kurang sopan kalau ia berdiri dari jarak lumayan jauh untuk mengobrol dengan ibu Kia.
" Nah, kalau begini kan enak ibu lihat nya. Sorot mata yang tajam, tidak suka basa-basi lebih suka bertindak dari pada hanya berucap. Kau memang seorang Wijaya."
__ADS_1
"Wih, hebat bener tahu nama Putra, kita saja tidak tahu nama tengah nya, tahunya cuma Wijaya nya aja." Celetuk Andre.
Dengan sifat Andre yang yang kalau ngomong ngga di sarung dulu, dia asal ngomong aja, ngga peduli situasi sedang tegang pun tak peduli dia.
" Hustt! " Dengan mengangkat telunjuk nya, ia letakkan di atas bibir, Andra mengingatkan saudara kembar nya agar tak ikut bersuara lagi.
"Di mana Ayako, bu?" tanya Putra lagi.
Ibu Kia menghela napas panjang. "Dia masih hidup, tapi saat ini sedang dalam bahaya. Entah, aku tak tahu pastinya ini di mana. Hanya yang akan baca dari kartu tarot ini, dia sedang sakit." Jelas ibu Kia yang menunjuk ke sebuah kartu.
"Tapi, keluarga Wijaya bukan kah, keluarga yang hebat. Kenapa tidak bisa menemukan nya?" Ibu Kia merasa heran akan masalah yang di alami Brandon.
Mengingat pengaruh keluarga Wijaya, kenapa bisa tidak ketemu mantu dari keluarga Wijaya. Bahkan sampai hampir satu tahun.
" Kakak sepupu gue tinggal di Jepang, bu. Dan keluarga Wijaya di sana tak sepopuler di Indonesia. Sedangkan yang orang Indonesia adalah Om gue. Kalau dari penyelidikan yang di lakukan polisi dan beberapa detektif kemungkinan besar itu rekan bisnis keluarga kami. Jadi, sama-sama punya kekuasaan. Yang buat gue heran, dia hilang kayak di telan bumi gitu. Dan kakak sepupu gue, selama ngga lihat jenazah istrinya ia akan tetap menganggap kak Ayako masih hidup." Ujar Putra panjang lebar.
" Begitu, ya. Cinta nya tak di ragukan lagi si Brandon. Sebentar, ibu lihat lagi," wanita separuh baya itu pun mengacak kartu tarot nya lagi.
"Ini apa, maksudnya bu?" tunjuk Putra pada kartu tersebut.
Putra melihat ada gambar wanita sedang berbaring.
"Seperti yang ibu bilang tadi, dia sedang dalam bahaya, bisa sakit bisa juga nyawanya sedang di ujung tanduk. Untuk keberadaan nya, ini negara tropis. Yang jelas bukan di Jepang. Jadi, pantas saja keluarga kalian tidak bisa menemukan nya."
"Di sini? Atau mana, Singapura, Malaysia itu adalah negara-negara beriklim tropis."
"Entah lah, ibu tidak tahu pastinya," Ibu Kia membaca arti gambar dari kartu tarot yang ke tiga.
"Akan ada seseorang yang bisa mempertemukan kalian, tidak lama lagi, akan ada titik terang." Lanjutnya.
__ADS_1
"Siapa dia bu?"
"Ibu ngga tahu nak, tapi Brandon akan segera bertemu dengan Ayako. Tenang, pengaruh keluarga Wijaya sangat besar di Asia. Minta tolong lah, pada kakek mu!" Perintah ibu Kia.
"Kayak mau menghadap macan aja, kalau ketemu kakek bu."
"Dia seperti mu! Sudah, pulang lah! Ini sudah malam. Bilang pada kakak sepupu mu, untuk perbanyak berdoa. Istrinya akan segera ketemu. Dan satu lagi, bilang pada kakek dan nenek lu mu. Welase asih Gusti selalu menerangi ( Ini adalah semacam simbol saling sapa untuk satu keanggotaan keluarga. Karena ibu Kia juga mengenal kakek dan nenek nya) Teman lama dari kakek dan nenek Kia. Semoga mereka selalu di berikan kesehatan." Ucap ibu Kia.
" Ibu, siapa sebenarnya?" tanya Putra. Laki-laki muda ini merasa penasaran dengan sosok ibu Kia. Dia tahu segala hal tentang keluarga Wijaya. Karena tidak sembarang orang tahu tentang Wijaya. Dan yang lebih heran ya lagi, wanita yang ada di hadapan nya ini tahu inisial nama tengah nya.
"Sudah, sampaikan saja. Pulang lah! Hati-hati di jalan."
"Ibu, ngusir kita?" tanya Andra yang tidak terima.
"Iya, ibu ngusir kalian," Ibu Kia tertawa mendengar ucapan Andra.
"Yuk, pulang!" Ajak William.
"Ntar aja, gue belum puas memandang wajah Kia. Emang udahan ya, sesi tanya jawab nya?" Lou merasa keberatan saat di ajak pulang. Karena sedari tadi ia hanya memandang wajah Kia, tak sedikitpun Louis mendengarkan obrolan Putra dan ibu Kia.
Namanya saja jatuh cinta, jadinya beginilah ya, yang lain seolah tak kelihatan.
Putra dan teman-teman nya pamit pada Pak Jamal dan istri nya, juga tak lupa ia mengucapkan terima kasih atas petunjuk yang di berikan ibu Kia.
...----------------...
"Lo ngga mau bangun juga ya?" Ucap seseorang yang memandang Ayako dengan tajam.
Kuku panjang nya sudah ia gunakan untuk mencakar bagian lengan Ayako. Ia tidak terima kalau Brandon sudah menjadi milik Ayako.
__ADS_1
"Apa, gue bunuh aja ya?" tangannya berpindah tempat dari tangan naik ke leher lalu mencekik Ayako.