
Seorang pemuda mondar-mandir tidak jelas. Dirinya di buat penasaran dengan sosok Alisya yang ternyata sudah melupakan dirinya.
"Masa iya sih, dia lupa sama gue. Atau cuma pura-pura aja ya?" Fahmi terus berucap hal sama setelah pertemuannya dengan Alisya beberapa hari lalu. "Ah, laki-laki yang pe'uh pesona di lupain! Sial," umpatnya.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Fahmi pun tak ada waktu lagi untuk merenungi hidupnya yang ternyata di lupakan oleh Alisya ia segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus. Mending cari ilmu buat masa depan.
Di kampus.
"Astaga, kenapa gue bisa kesiangan sih. Ini dosen nya pak Jamal lagi, duh mampus gue. Mama sih, ngga bangunin." Vi terus berlari menuju kelasnya sambil terus mengoceh tanpa melihat kanan dan kiri atas ataupun bawah.
Hal yang biasa di lakukan seorang anak, kadang menyalahkan orang tua nya. Padahal dirinya yang sudah di bangunin tapi tetap saja asyik pelukan dengan guling. Hayo, siapa yang kayak gini?
Bruk...
"Akhh, lo jalan ngga pakai mata ya!" bentak Vi. Ia belum menyadari siapa yang ia tabrak. Padahal dia yang jalan buru-buru malah nyalain orang yang ia tabrak.
"Hem, yang salah elu, malah nyalahain gue. Sekarang yang jatuh siapa?" tanya Andra.
Yang di tabrak Vi adalah Andra, laki-laki yang mencintai dirinya tapi tak kunjung juga dapat balasan. Mencintai tapi tidak dicintai. Kasian kan?
Karena Vi kehilangan keseimbangannya saat hendak berjalan, tiba-tiba ia terjatuh.
Bruk...
"Vi, Andra..." Teriak beberapa teman sekelasnya.
Mata Vi membola, posisi nya saat ini berada di atas tubuh kekar Andra. Dan yang lebih membuat nya syok adalah bibir keduanya bersentuhan. Dengan cepat Vi menarik tubuhnya, lalu ia bangkit dari tubuh Andra.
" Elu sengaja ya!" Bentak Vi, matanya memerah, tangan kanan nya terkepal erat.
Andra mengusap bibir nya, sedetik kemudian bibir atas nya terangkat. Iya, laki-laki itu tersenyum. Bahkan ia tak mempedulikan teriakan Vi.
"Andra, brengsekk!" Setelah mengucapkan kata itu, Vi keluar dari kelas. Tentu saja ia malu, karena banyak mata yang melihat peristiwa yang menurutnya memalukan.
__ADS_1
Alisya dan Mona berdiri dari tempat duduknya, ia segera mengejar Vi unyul. memastikan sahabat nya itu baik-baik saja.
"Eh, urusan kita belum selesai ya!" Ucap Alisya, tangan kanan nya memukul pundak Andra.
Tak kalah sengit, Mona memandang Andra dengan tatapan tajam. Mereka berdua tak terima atas apa yang di lakukan Andra, padahal juga bukan salah Andra. Ini murni kesalahan author kalem yang membuat adegan seperti ini. Betul, apa betul?
"Ah, harusnya tadi nempelnya lebih lama pasti enak." Celetuk Andra.
Ia tak berniat mengejar Vi. Dengan cuek nya Andra berjalan ke tempat duduknya.
"Elu ngga ngejar dia?" tanya Putra.
"Siapa, Vi? Buat apa gue kejar. Lagian gue yang kesakitan nahan tubuh dia."
"Lo yang nahan, lo yang ke enakan malah lo yang ngga mau tanggung jawab gitu? Lo ngga lihat anak orang udah mau nangis gitu." Celetuk Andre.
"Eh, memang dia nangis tadi ya?"
"Ngga," jawab Andre dengan nada ketus.
"Mau balas gimana? Tadi itu elu yang salah, jalan ngga hati-hati jadinya nabrak. Pakai ada adegan ala-ala film bollywood lagi," celetuk Alisya.
"Udah, jangan saling menyalahkan lagi. Kalian berdua sama-sama salah. Lagian ciuman nya cuma nempel doang ngga sampai saling memagut kan?" Goda Mona.
"Kalian ini ya! Sahabat gue buka sih?"
"Elu pikir aja sendiri," jawab Alisya dan Mona serempak.
Vi yang masih kesal segera keluar dari toilet, meninggalkan kedua sahabat nya begitu saja. Iya, saat ini dia butuh di hibur mungkin sekedar tepukan di pundak lebih baik dari pada beberapa kata yang malah membuat nya semakin malu. Dan apa yang di ucapkan Alisya dan Mona seperti memojokkan dirinya.
"Eh, Vi kita kan bercanda jangan pergi dong!" Ucap Mona dengan berteriak.
"Candaan kalian ngga lucu." Jawab Vi.
__ADS_1
Alisya dan Mona saling pandang. Kalau dirinya ngga peduli dengan Vi tentu saja tak mungkin mereka meninggalkan kelas demi melihat sahabatnya bukan? Seperti ini lah, yang terjadi pada suatu hubungan persahabatan ngga ada yang berjalan rukun terus tentu saja akan ada sedikit salah paham di dalamnya.
Di dalam kelas Vi tak mau bicara separah katapun. Hem, macam puasa ngomong gitu lah. Maklum lagi ngambek dia kan. Diam-diam Andra memperhatikan perubahan Vi. Lalu terbesit ide yang lebih gila di otaknya. Menunggu sekitar dua puluh menit lagi saat kelas selesai ia akan segera menjalankan aksinya.
"Vi dari tadi diam aja sih?" tanya Lulu yang menoleh ke arah tempat duduk Vi.
"Ho'oh. Lagi ngambek dia. Biarin aja, ntar kalau udah bosen juga baikan lagi." Jawab Mona yang mendengar Lulu. Kebetulan jarak tempat duduk mereka dekat. Iya dekat macam aku dan kamu, iya kamu antara jempol dan keyboard.
"Soal yang tadi ya? Hadeh, lagian juga elu pakai candain dia kayak gitu. Malu lah pasti dia di lihat banyak orang. Lain kali kalian ngga boleh gitu! Ntar minta maaf gih kalau selesai kelas." Ucap Lulu yang memberi nasihat pada sahabatnya.
"Siap, jeng Lulu yang tumben banget bijaksana bijaksini."
Kelas pun usai. Vi masih sibuk dengan benda pipih nya. Beberapa menit lalu ia menolak ajakan geng scorpio untuk pulang bersama. Karena beralasan akan di jemput oleh sang mama. Kelas pun sepi, tinggallah Vi sendiri dan seorang laki-laki yang dari tadi sudah duduk di belakang nya.
"Elu, ngga pulang?" tanya Andra. Laki-laki yang duduk di belakang Vi adalah Andra. Ia ingin minta maaf atas kejadian yang mengenakkan beberapa waktu lalu. Anggaplah untuk Andra enak, tapi tidak untuk Vi. Kan kadang laki-laki suka cari kesempatan.
"Hah... Elu ngagetin gue ya! Ngga,"
"Pulang bareng yuk! Ajak Andra. Tentu saja sebagai laki-laki sejati ia menawarkan diri untuk mengantar Vi.
"Ngga," Lagi-lagi jawaban Vi ketus.
Andra yang sudah hafal betul sikap Vi hanya menghela napas panjang. Tak banyak yang ia lakukan selain mengiyakan keinginan seorang Vi. "Oke deh, em..." Andra menjeda kalimat nya. "Duh bingung ngomong nya."
"Aneh,"
"Gue minta maaf ya! Tadi ngga sengaja, lagian elu sih pakai acara hilang keseimbangan gitu. Jadinya kan kita pura-pura ciuman." Ucap Andra.
"Stop! Jangan elu ungkit masalah yang tadi ya, Ndra!"
"Yaelah, lagian bibir nempel doang. Kan gue udah minta maaf."
"Andra! Mau elu apa sih?" Tanya Vi. Napas nya sudah naik turun menahan amarah.
__ADS_1
Andra mendekat ke telinga Vi lalu berbisik. "Ayo, kita coba dengan serius!" Ajak Andra.