
Laki-laki yang tadi meneriaki Indri semakin mendekat. "Ngga mau lari, ya?" Ia pandang Indri dari atas sampai bawah. "Nyali nya lumayan juga, " Lanjutnya.
"Kakak mau apa? Bikin malu, kan ini udah gue bayar kenapa harus teriak segala sih," tanya Indri, perlahan ia mundur karena laki-laki itu semakin mendekat kearahanya.
"Nama elu siapa?" bukannya menjawab laki-laki itu malah bertanya balik.
"Nih, gue kembaliin sama bonus uang dua puluh ribu buat beli es krim lagi kak," Indri segera berlari meninggalkan laki-laki itu karena dia ketakutan.
"Woi, mau lari kemana! Enak aja, gue di kasih jajan sama bocil. Untung cewek, kalau kagak udah gue pites. Ini penghinaan namanya, lagian tadi juga niatnya mau ngerjain dia, malah gue yang kena," Loius melihat uang dua puluh ribu yang di berikan Indri tadi dengan perasaan kesal.
Indri berbalik, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Louis.
" Malah ngejek lagi, awas aja lu ya!" Ancam Lou yang semakin di buat jengkel oleh Indri.
__ADS_1
Sebenarnya dari awal Louis yang salah. Indri sudah mencari es krim nastar keju di antara tumpukan es krim lainnya dan saat hendak. mengambil Loius langsung menyerobot duluan. Dia pikir Indri akan mengalah begitu saja, ternyata ia malah mengambil es krim itu saat berada di kasir. Tentu saja, adegan seperti ini hanya berlaku di dalam novel kalau di dunia nyata ntar biar di coba dulu sama author nya. Yang ada kena damprat, bener ngga sih?
Andra yang sudah sampai di depan gerbang sekolah. Seperti yang ia duga, sudah sepi dan adik kesayangan nya tak terlihat. Ia pun menghela napas. "Minggat kemana itu bontot ya?" ucapnya.
Andra mengambil benda pipih yang ada dalam saku celananya. Hal pertama uang yang ia lakukan adalah menghubungi orang rumah. "Halo, bi! Indri sudah pulang belum?" tanya Andra saat panggilan telepon sudah terhubung pada salah satu asisten rumah tangganya.
📞"Belum mas. Ini mas Andre juga nanyain barusan."
📞"Sudah, mas."
📞"Oke deh bi, makasih ya!"
Panggilan telepon pun, berakhir. Andra keluar dari mobil, ia mencari ke sekitar sekolah. Jarak yang kurang dari seratus meter ada indoapril tempat Indri bisanya jajan saat ia menunggu jemputan. Tak lupa ia mengenakan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari agar tak silau di mata.
__ADS_1
Baru melangkah beberapa jengkal. Ia lihat sosok adik kesayangan nya, yang berjalan sambil bersenandung. "Seperti biasa, ngga nyadar kalau bikin orang khawatir. Dasar ngga peka!" Ucap Andra.
"Eh, kakak sudah datang?" Indri tersenyum dengan tangan kanan melambai ke arah Andra.
"Belum," jawab Andra dengan ekspresi wajah yang di buat kesal.
"Kok gitu, sih. Tadi aku ketemu cowok nyebelin banget kak. Mana di teriakin maling lagi gue. Asal aja tuh orang kalau ngomong..." Sambil bersender di mobil Indri mengadukan semua kejadian yang menimpa dirinya beberapa menit lalu.
"Terus, elu ngga di gebukin tadi?" Nada suara Andra naik satu oktaf. Dari sudut pandang nya, dalam hal ini sang adik lah yang salah. Tentu saja Andra sudah sekuat tenaga menahan amarah. Kalau saja merehab tidak di tempat umum. Pasti ia sudah menegur sang adik habis-habisan.
Indri menakutkan alisnya. Bukan dapat pembelaan dari sang kakak, malah sepertinya ia akan kena marah. " Lo, kok tanya gitu kak?"
Andra menarik napas sejenak, lalu berkata. "Dek, elu nyadar ngga apa salah lu?"
__ADS_1