
Bebas boleh, tapi tetap harus berbatas.
Woi, ini apa-apa an sih!" Andre menahan tangan kanan sang adik yang sudah mencengkeram erat kerah bajunya.
"Alasan lo ngga masuk akal anjirrr. Dia juga punya kehidupan sendiri biar puasin masa mudanya. Gue suka berantem sama dia, tapi ngga pernah larang-larang dia untuk lakukan hal-hal yang dia mau ataupun yang di suka. Ingat, Indri sudah besar jangan terlalu mengekang dia. Kita aja bisa keluar malam dia ngga boleh. Lo mikir ngga sih!" Teriak Andra tepat di depan wajah sang kakak.
Andre hanya diam, sambil memutar bola matanya malas. Jika Andra tahu alasan yang sebenarnya, tentu saja ia juga akan mengambil tindakan yang sama.
" Lo itu emang ngeselin ya!" Seru Andra.
" Emang, dari lahir gue ngeselin. Baru nyadar ya?"
Dua saudara kembar itu kembali bersitegang. Diantara keduanya tak ada yang mau mengalah. Andra dengan sikap nya yang diam tapi perhatian, tapi jangan di tanya kalau dia marah. Sedangkan Andre yang usil dan semaunya sendiri, dan saat marah pun tak kalah menakutkan. Saat hampir sepuluh menit keduanya diam. Andre memulai percakapan lebih dulu. Iya, mereka saudara walaupun Andra di selimuti emosi ia tak akan tega memukul saudara kembar nya sendiri. Begitupun dengan Andre dia paham atas apa yang di lakukan sang adik, jadi sedikitpun ia tak tersulut emosi.
"Duduk! Gue kasih tahu sesuatu," pinta Andre.
Andra tak langsung menurut. Justru ia memandang sinis ke arah saudara kembar nya.
__ADS_1
"Lo kira gue ngga sayang sama Indri? Justru gue kayak gini demi dia. Bener apa yang lo bilang. Papa dan mama ngasih kita kebebasan tapi tidak dengan Indri. Pulang malam, nongkrong pergi kemana-mana juga kita ngga di larang. Asal, kita izin ke mama dan papa. Gue tanya, misal Indri pergi ke klub malam apakah bokap ngizinin? Gue yang paling tua ya, walaupun beberapa menit dari elu sih. Jadi kalian tanggung jawab gue-" Andre menjeda ucapannya karena di potong oleh Andra.
"Ngga usah muter kalau ngomong. Intinya aja, anjirrr." Andra yang masih di selimuti emosi tak mau mendengarkan perkataan Andre yang menurutnya lebih ke ceramah yang tidak berfaedah.
"Elu kakak sejati," Andre bangkit dari duduk nya dan menepuk pundak sang adik.
"Kalau ngomong tunjep poin aja, jangan bertele-tele gue ngga suka." Celetuk Andra.
Andre menghela napa sejenak. Susah memang kau ngomong sama orang yang sedang emosi.
"Acara pesta nya di klub malam. Lo mau so bontot datang ke sana? Dan ini lihat baju yang tadi mau di pakai adik kesayangan lo. Eh, kesayangan gue juga sih walaupun banyakan elu," Andre menunjukkan foto sang adik saat berpakaian yang menurutnya terlalu seksi.
"Iya, satu lagi. Bibir nya udah kayak ikan lohan merah nya kayak habis makan darah."
Sementara itu di luar kamar Indri mondar-mandir. Dan sesekali menguping pembicaraan kedua kakak nya.
"Kira-kira menang ngga ya, kak Andra? Kalau kalah pun, udah biasa sih. Ngga adil banget, adik dimana-mana jadi kalahan." Ucap Indri pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Non, ngapain di situ?" tanya sang bibi yang baru datang membawa kantong plastik warna putih.
"Bibi ngagetin aja sih, itu kakak lagi berantem di dalam. Udah, diem dulu, gue mau nguping."
"Hah... Berantem? Waduh, di pisah dong non!" Bibi pun ikut kaget mendengar ucapan Indri.
"Iya, berantem. Udah kita diem aja Bi," Indri berusaha mendengar percakapan kedua kakak nya tapi tak berhasil.
"Kalau mau denger, masuk aja non!" Usul sang bibi.
"Ngapain, kagak lah, bisa habis aku sama mereka di omelin."
"Indri, woiiiii.... Masuk sini lo! Ngapain nguping?" Teriak Andra.
"Eh, kok jadi gue? Bibi denger tadi kak Andra teriak manggil namaku?" tanya Indri pada si bibi.
"Iya, non."
__ADS_1
"Indri, masuk cepat!" Perintah Andra lagi dengan berteriak lebih kencang.