The Random Zodiak

The Random Zodiak
Chapter 39: Kita adalah keluarga.


__ADS_3

Indri, masuk cepat!" Perintah Andra lagi dengan berteriak lebih kencang.


" Ha, gue ngga denger. Gue ngga denger," Indri menutup kedua telinganya karena ketakutan mendengar suara Andra.


Pada akhirnya dirinya ya lah, yang akan kena omelan kedua kakak kembar nya. Tentu saja ada beberapa kesalahan yang ia buat sehingga membuat kakak nya murka.


"Kakak hitung sampai tiga, kalau elu ngga masuk, awas aja ya!" Ancam Andra.


"Bibi, masuk duluan gih! Bawa martabak manis nya. Siapa tahu kakak ngga jadi marah." Perintah Indri pada sang bibi.


"Kok jadi saya non? Salah sendiri non Indri yang suka bandel. Ngga mau ah, takut kalau lihat si kembar marah. Bibi turun ke bawah lagi ya non," pamit nya, ia tak lupa memberikan martabak manis itu pada Indri.


"Satu,"


"Hah... Iya, bawel. Gue masuk, gini amat jadi bontot ngga bisa menang lawan kakak," Indri pun masuk ke dalam kamar dengan pelan menarik napas dan mencoba untuk memasang wajah melas nya.


"Duduk!" Perintah Andra dengan menunjuk sofa panjang yang ada di hadapannya.


Hanya diam dan pasrah Indri duduk atas perintah sang kakak. Bahkan menatap wajah Andra pun ia tak berani. Jika bisanya Andre yang marah, kali ini giliran Andra. Di ujung kasur berukuran 120x200 milik nya, Andre hanya tersenyum menatap sang adik. Kasihan? Oh, tentu tidak. Karena Indri sudah bohong pada mereka berdua. Sebenarnya bukan tak boleh pergi ke pesta ulang tahun teman sekolah nya. Yang jadi masalah adalah tempat di selenggarakan nya pesta. Tentu saja hal itu membuat Andre geram seketika. Bahkan ia tahu saat perjalanan menuju ke pesta dan itu semakin membuatnya marah walaupun tidak ditunjukkan secara terang-terangan. Karena Andre punya cara tersendiri untuk membuat Indri marah dan tidak jadi ke pesta tersebut. Tentu saja caranya berhasil.


"Lo mau jadi apa ha? Ke pesta boleh. Tapi kenapa ngga bilang kalau di klub acaranya?" tanya Andra.


"Kalau bilang, kan ngga boleh ikut Ndra. Ya, mau ngga mau, dia bohong lah." Saut Andre tersenyum sinis ke arah Indri.


"Nah kak Andre pinter," ucap Indri disertai tawa.


"Hem, kakak kelihatan bercanda ya?" tanya Andra dengan nada yang menekan.


Indri langsung menundukkan kepala. Ia salah dan pasti akan ada konsekuensi yang harus ia tanggung. Saat sedang serius jangan di candain. Kalau lagi bercanda juga jangan di anggap serius." Maaf," ucap Indri.


" Tahu salahnya di mana? Besok di ulangi lagi ya! Bilang kakak kalau mau ke klub atau bahkan manja baju seksi."


Indri spontan menggelengkan kepala. "Ngga akan lagi." Ucapnya.


"Sekarang ngga, besok atau lusa siapa yang tahu!" Andre kembali bersuara. Ia juga ikut andil dalam menegur sang adik bungsu.


"Kakak,"


"Napa? Kan bisa jadi, ingat ya! Bebas, tapi tetap berbatas!" Ucap Andre.


"Iya, maaf. Ngga lagi bohong."


"Kalau lo bilang dari awal mungkin kita ngga akan marah. Apa susah nya sih jujur dek? Mau di aduin ke bokap ya? Terus kalau sampai di sana ngga ada yang jaga gimana? Hah, entah ngga bisa bayangin gue," Andra duduk di sebelah sang adik dan


"Ngga,"

__ADS_1


Pertengkaran kecil dan perdebatan sering terjadi di antara saudara. Saling mengingatkan adalah satu bentuk perhatian. Duduk bersama menyelesaikan masalah adalah sebuah solusi. Karena kita saudara.


Indri menunduk, tangan kirinya meremas erat ujung kaos yang ia kenakan. Rasa takut dan menyesal itulah yang ia rasakan. Bahkan air matanya sudah luruh membasahi pipinya yang bulat seperti bakpao.


Iklan guys 😎


R: Thorrrr, pipi bakpao 😳


A: Hem, iya napa 😌


R: Gemoy ya thor 😳🀭, pipinya kayak bakpao πŸ™„


A: Kira² seperti itu, bayangin aja sendiri 😎


 Rambut warna warni bagai gulali, pipi bakpao imut lucu tak terlalu tinggi. Kulit ngga putih gigi kelinci senyum ngga manis sama sekali 😎


R: Lagu itu πŸšΆπŸ»β€β™€οΈ, wes lanjut thor! Kalau up yang banyak jangan dikit sih πŸ™„Semangat september ceria πŸ₯°


A: Okay 😌


Iklan close 😎


Andre melirik sekilas ke arah Andra. Seolah memberikan isyarat bahwa adik bungsunya sedang menangis. Andra yang mengerti langsung menghela napas panjang menatap sang adik. Pada akhirnya amarah mereka reda saat melihat air mata adik perempuan nya. Bukan nasihat mereka yang lemah, tapi karena Indri sudah mengakui kesalahan nya dan mereka rasa semua ngga usah di perpanjangan lagi.


"Hei, udah ngga usah nangis. Maaf kita keterlaluan! Besok jangan di ulangi lagi. Kalau kakak marah itu untuk kebaikan mu sendiri dek," Andre berjongkok di depan Indri. Tangan kanan nya menghapus air mata sang adik kesayangan.


"Ingat jangan di ulangi lagi atau kita akan marah!" Saut Andra.


"Iya kak,"


"Buktikan, ingat kau punya dua satpam yang siap mencincang habis dirimu kalau macam-macam lagi." Ujar Andre.


"Gila, emang gue apaan di cincang anjirrr eh," ucap Indri yang langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


"Hem, belum ada sepuluh menit itu mulut minta di tabok ya!"


"Engga, keseleo dikit nih lidah gue kak. Oh iya, tadi kak Andre beli martabak manis, yuk kita makan! Lapar nih," Indri segera berdiri dan mengambil kantong plastik berisi martabak manis yang sebelumnya ia letakkan di atas meja.


Bukan bontot namanya kalau ngga punya cara jitu untuk mengalihkan perhatian kedua kakak kembar nya.


" Trik lama, dek." Ucap Andre.


" Biarin, dah lah makan lapar, kakak kalau ngga mau yasudah, bodo amat lah." Indri langsung melahap sepotong martabak manis yang baru saja ia ambil dari tempatnya.


Di tempat lain.

__ADS_1


Saat malam minggu beberapa orang sedang menghabiskan malam bersama sang kekasih, istri atau teman. Tapi hal itu tak berlaku untuk Brandon Wijaya. Ia hanya diam di kamar yang sedikit temaram dengan ditemani kepulan asap rokok yang ia hisap dari beberapa menit lalu. Diiringi lagu rindu yang ia putar serta semilir angin yang berhembus dari balkon kamar membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Putus asa? Tentu tidak. Mungkin hanya di titik rapuh yang teramat sangat.


Jika air mata mampu mengungkapkan rindu, tentu Brandon adalah si paling kalah. Jika kesetiaan adalah sebuah penantian yang tak berujung ia adalah pemenangnya. Cinta itu bukan hanya sekedar aku dan kamu jadi cinta. Tapi lebih dari itu. Menerima dan juga menjaga cinta keduanya agar terus bersemi dalam hati tapa lelah sampai akhir hayat.


"Hah, berapa lama lagi aku hidup seperti ini?" Lirih Brandon.


...----------------...


Untuknya


Jika tenang ku itu kamu, apakah dengan merengkuh mu hilang piluku?


Saat ribuan mata memandang hina, hanya sorot matamu menjadi peneduh ku.


Genggaman tangan hangat itu, nyaman.


Bulu mata lentik, hidung mancung, kulit putih serta bibir tipisnya yang selalu terselip senyum.


Aku rindu...


Wahai engkau yang jauh di mata tapi dekat di hati. Dengarkan seruanku!!


Aku rapuh, aku patah, aku lelah dan hampir menyerah.


Lihat piluku, lihat jatuh ku, bahkan ribuan mata hanya memandang sinis atas beberapa kegagalan ku. Dan tangan-tangan justru di angkat untuk memberikan tepuk tangan terkeras nya.


Iya, semesta kadang terlalu kejam.


Tak apa, tetap semangat ya!


Dan tetaplah jadi manusia baik.


- Catatan Diandra -


Catatan author : Hai guys aku menyapa lagi πŸ€—


Yuhu tak terasa sudah bulan september aja nih, september ceria katanya 🀭


okay, aku berharap semoga kita semua selalu diberkahi kebahagiaan setiap hari.


Tak terasa udah beberapa bulan The Random Zodiak menemani kalian. Semoga suka cerita nya ya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like dan komen karena itu adalah salah satu obat semangat untuk ku πŸ₯°. Btw kata di atas itu sedikit terselip kegabutan ku sebagai author kalem yang selalu menghalu 🀭


Kalau mau lihat kegabutan ku lainya. Kuy follow my ig : @indri_diandra


Terima kasih untuk kalian semua yang selalu menyempatkan diri membaca karyaku πŸ™.

__ADS_1


Aku, sayang kalian ❀️


__ADS_2