
Setelah beberapa lama menyusun rencana, mereka semua pergi meninggalkan rumah Mr. Lieberher. Emely memberikan pelukan perpisahan yang cukup lama karena akan rindu sekali pada Kakeknya.
6 hari sebelum Terminator terjadi, Connor akan memberikan 6 hari itu sejarah baginya tak peduli dunia berakhir juga walau ia tahu jika mereka tak berhasil bisa jadi Terminator akan bertambah cepat.
"Bye!" Ucap mereka semua lalu menuju ke mobil, Mr. Lieberher melambaikan tangannya dan tersenyum.
Semuanya pada posisi sebelumnya, "Belakang lagi, eh?" Ucap Connor dan terkekeh.
Lalu mereka berdua tertawa, "6 hari lagi sebelum Terminator..." Gumam Emely yang hanya bisa didengar oleh Connor.
"Ya, memang seperti itu..." Balasnya.
Emely sangat suka perbincangan yang sangat lama, ia tidak suka hanya berbincang jika sebentar apalagi jika topiknya tak pernah berubah.
"Manusia itu aneh, mereka selalu ingin memuaskan hasratnya walau hanya akan bertahan sebentar kenikmatan tersebut." Emely bermonolog.
"Lebih aneh lagi manusia selalu saja menyelam terus ke dasar laut dan tak pernah kembali ke daratan, melakukan hal yang sama terus-menerus dan tak kembali ke tempat asalnya untuk memulai kembali yang baru." Balas Connor.
Mulut Emely membentuk huruf O dan terkekeh, "Bagus." Ucapnya.
"Mau dengar yang lain?" Tanyanya, Emely hanya mengangguk.
"Plato once said, love is a serious mental disease." Ucap Connor menatap mata Emely.
Kemuadian Connor memutus kontak mata tersebut dan berusaha tidur, ia pikir ia ingin beristirahat. Ya, tubuhnya mungkin beristirahat namun pikirannya tidak.
Kimberly dan Kenedy di bangku kedua sedang berbincang, "Ku rasa anak itu sudah akrab, eh?" Bisik Kenedy.
"Begitulah." Balas Kimberly sambil mencomot keripik kentang milik Kenedy.
Lalu mereka berdua diam, dan Emely heran seksligus beesyukur saat orang-orang jahat di depan rumahnya itu mengapa mereka tidak tahu kalau ia juga mempunyai jam itu.
Bryce membuka kotak mobil dan menemukan beberapa kaset, "Hey, kau tak bilang ada kaset Jammie," ia melihat beberapa diantaranya.
"Hey, kau tak bertanya Bruisee." Bryce meninju lengan James pelan.
Ia memilih apa yang akan diputar dan tertuju pada Neutral Milk Hotel lalu memutarnya pada radio tape mobil tua James.
Dan King of Carrot Flowers Pt. 1 terputar, Bryce dan James mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus juga selera musikmu." Kata Bryce.
Musik tersebut membuat Connor susah tidur, ia melihat Emely bergumam mungkin sedang menyanyikan lagu itu tapi tak mau terlalu keras karena Connor sedang tidur menurutnya.
__ADS_1
"And this is the room, one afternoon i knew i could love you!" Teriak James dan Bryce bersamaan menikmati lagunya.
Kimberly kesal dengan mereka bertiga, ditambah Kenedy mungkin juga Emely yang diam-diam ikut bernyanyi.
"Lagu apa ini Ya Tuhan, aku pusing kalian bernyanyi lagu beginian!" Teriaknya.
Bryce menengok ke belakang, "Kau tak punya selera musik, kalau begitu." Cibirnya.
Lagu berganti dengan judul yang sama bagian kedua dan ketiga.
"I love you Jesus Christ!" Teriaknya lagi.
"Jesus Christ i love you, yes i do!" Lanjutnya, lalu mereka bertepuk tangan, mengayunkan tangan tak jelas.
Mereka bernyanyi ria sebelum harus keluar dari mobil karena ban bocor, "Ah, sial." Kutuk James.
"Ini semua karena kalian dan lagu tak jelas itu!" Kimberly menyalahkan 3 orang itu dan lagu Neutral Milk Hotel.
Matahari yang terik menusuk kulit Emely yang baru saja keluar dari mobil, ia menyipitkan matanya karena silaunya.
"Kau ada ban cadangan?" Tanya Bryce.
Ia menggidikkan bahunya, "Itulah ban cadangannya." Menatap ban yang sudah bocor itu.
Bryce dan James saling pandang, memikirkan hal yang sama, mungkin semuanya juga.
Tak lama kemudian mereka mendorong mobil bersama, "Kau suka Neutral Milk Hotel?" Tanya Connor, Emely hanya mengangguk.
Kimberly tetap menggerutu dan memukuli Kenedy tanpa alasan yang jelas, Bryce pergi meninggalkan teman-temannya dan melipir sebentar ke dalam hutan.
Entah dia ingin apa di sana, "Mau kemana kau?" Tanya James agak berteriak.
Bryce menengok sebentar dan menghiraukan, mereka berniat untuk menunggu sampai Bryce kembali.
Karena bosan, Emely mengajak Connor bermain Ayam-ayaman, "Jangan kau letakkan ibu jarimu di atasku, di samping sini." Ia menaruh ibu jari Connor di samping dengan tangan mereka seperti berjabat.
"Cara mainnya, ibu jarimu dan punyaku beradu. Jika ibu jarimu berhasil menjatuhkanku, kau menang." Ucapnya.
Lalu mereka mulai bermain, baru saja Connor ingin mengalahkan Emely, Bryce sudah datang.
"Di sana ada Motel, ayo ke sana," ajaknya, "Tunggu, apa hubungannya Motel dan ban bocor?" Tanya Kimberly.
"Ada tambal ban di sana." Jelasnya, mereka semua mendorong mobil ke Motel yang dibilang Bryce.
__ADS_1
Mereka melewati jalan yang cukup luas untuk mobil dan tetap mendorongnya, "Kira-kira berapa lama lagi?" Tanya James.
"Di depan sana." Jawab Bryce.
Dan sampailah mereka di sebuah motel di tengah hutan, "Ayo cepat, kita tak punya banyak waktu." Suruh James.
Bryce dan James mendorongnya hingga ke tempat penambalan ban sedangkan yang lainnya menunggu.
Emely merasa deja vu saat berada di sekitar motel, seperti ia pernah melihat sesuatu di sini.
"Hey, kenapa?" Connor bertelepati.
"Uh? Tidak apa-apa." Jawab Emely.
"Aku merasa tak baik-baik saja, maksudku ada sesuatu yang mengganjal. Bagaimana dengangmu?" Tanya Connor.
"Entah, aku seperti merasa deja vu." Balasnya.
Connor memutar kedua bola matanya kesal, "Huh, tadi kau bilang tidak apa-apa tetapi saat ku tanyakan lagi kau seperti sedang deja vu. Kenapa perempuan selalu begitu, eh?" Cibirnya.
Ia tertawa kecil yang dihadiahi pukulan pelan di lengan oleh Kimberly, "Kau ini kenapa? Tertawa seperti iyu, jangan membuatku takut Emy!" Omelnya, lalu Emely diam saja.
"Kenapa sih dia selalu protes?" Tanya Connor.
"Sudah bawaan?" Balasnya.
Emely melihat Bryce di sana, ternyata Bryce melihatnya juga dan tersenyum. Emely membalas senyumannya. Ia bingung dengan perasaannya, terkadang ia nyaman bersama Connor namun masih memikirkan Bryce.
Lalu Bryce berbicara padanya dari jauh tanpa bersuara, hal aneh yang sering Bryce lakukan pada Emely. Ia seperti bertanya aa yang Bryce ucapkan, bukannya menjawab Bryce malah tertawa dengan Emely yang kebingungan.
Di sudut pandang lain Connor tengah melihat pemandangan tersebut, sesuatu menghujam jantungnya. Mungkin seharusnya tak ia rasakan namun tiba-tiba datang.
Benar, semua aneh, sungguh aneh. Benaknya berkata demikian.
James lalu menghampiri mereka yang menunggu di dekat motel, "Ayo, sudah selesai." Ucapnya dan yang lain memasuki mobil.
Ini sesak, tidak seperti biasanya. Lagi pula hey aku kan tidak berniat mencari cinta di sini namun kenapa aku berlaga seperti orang yang sedang di mabuk cinta? Pikir James.
Mobil keluar dari area hutan dan berjalan menelusuri jalanan beraspal dengan Matahari yang hangat mengingat sudah sore.[]
__ADS_1