The Time Traveler

The Time Traveler
Running Low


__ADS_3

Bryce menguap, dirinya sangat lelah mengemudi selama 10 jam, tetapi pasti James lebih lelah darinya. Pasalnya dari berangkat, ialah yang mengemudi.


 


 


James terbangun dari tidur nyenyaknya, angin di pagi hari menerpa kulitnya karena jendela dibuka.


 


 


Mentari belum menampakkan kegagahannya, langit masih hitam kebiruan, "Ku rasa sore atau malam kita sampai." Ucapnya, Bryce hanya mengangguk.


 


 


"Apa tak ingin makan dulu?" Tanya Bryce, James menyingkap selimutnya.


 


 


Ia melihat keluar jendela, "Tidak ku rasa." Ucapnya membuat Bryce menghembuskan napas malas.


 


 


Karena resto di daerah itu sudah tutup semua, tak ada tempat makan, semua penghuni di Kota tersebut sudah berpindah tempat tinggal ke Desa jauh dari D'Anger berada.


 


 


"Makan makanan yang ada dulu saja." Kata James.


 


 


Oke, yang tersisa hanya sisa roti yang tak kulanjutkan makan karena sadar itu telah kaduarsa. Batin Bryce.


 


 


Bryce memikirkan apa yang akan ia makan, apa ia akan meninggal duluan dari teman-temannya karena kelaparan.


 


 


"Rotiku sudah basi." Ucapnya, dan James bilang ia punya 2 roti lagi..


 


 


James mengambil roti di tasnya san memberikannya kepada Bryce, ia tersenyum tulus. Senyuman Bryce yang dapat menular, seperti yang terjadi pada James saat ini.


 


 


"Mau dengar cerita?" Tanya James, Bryce mengangguk.


 


 


"Um, oh ya. Ini masih ada hubungannya jelas dengan ini, kau tahu D'Anger kan yang kemarin membuat mobil ini terangkat?" Bryce hanya mengangguk.


 


 


"Dulu ia sahabatku tahu, ia juga anak um asuh mungkin, Mr. Lieberher mengasuhnya hingga ia remaja. Saat menginjak remaja ia dan teman perempuannya yang diasuh pun memberontak." Ujarnya.


 


 


Bryce suka ketika James sedang bercerita, muka seriusnya sangat ia sukai.


 


 


Beda dengan James, ia suka senyuman tulus Bryce. Wajah bayinya yang menggrmaskan dan orang-orang akan mengira ia masih di sekolah junior.


 


 


Tidak, James tidak suka sesama jenis begitupun Bryce. Sukanya mereka itu dalam arti kagum akan sesuatu hal dari dirinya.


 


 


"Sangat tak ku sangka ya." Balas Bryce, James hanya terkekeh.


 

__ADS_1


 


"Banyak hal yang tak akan kau sangka di luar sana, Nak." Ujar Bryce seperti seorang Ayah kepada anaknya.


 


 


"Oh, kau ingin menandingi Sir Bryce Maxwell ya rupanya." Is menyenggol lengan James.


 


 


James meregangkan tubuhnya, badannya terasa nyeri. Ah, sangat melelahkan sekali dan menyiksaku. Batinnya.


 


 


Bisepnya terlihat oleh Bryce, "Wah kau punya bisep juga ya." Ujarnya.


 


 


James terkekeh, "latihan." Ucapnya.


 


 


Bryce membuka bungkus roti tersebut dan memakannya. Ia memakannya sambil mengendarai mobil yang akan keluar dari kota.


 


 


"Kalau kita sudah keluar kota, kita akan melewati padang rumput, lalu yang lebih parah itu desa Penyihir!" Ujar James membuat-buat ekspresi saat menyebutkan Penyihir.


 


 


Hal itu membuat Bryce sedikit takut, "Tapi tenang, di desa tersebut ada Penyihir jahat dan baik. Semoga saja kita dibantu oleh yang baik." Ucapnya lalu memakan rotinya.


 


 


"Setelah itu kita akan melewati tanah tandus, baru lah sampai di State Of Time. Di sana ada dua batu besar yang menjulan tinggi yang di atasnya ada jam besar. Tapi itu sebuah portal, seperti pintu masuk ke puncak State Of Time." Jelas James panjang lebar.


 


 


 


 


"Omong-omong maaf ya aku menghabiskan kopimu," Bryce memegang tangan James, bermaksud meminta maaf.


 


 


Namun Kimberly yang baru bangun dan salah tangkap malah menjerit, "Bryce kau ada apa?! Kau ini homo ya?!" Ucapnya.


 


 


Tiba-tiba James menyahut, "Kalau iya kenapa? Kau cemburu Bryce lebih memilihku ketimbang kau?" Ucapnya.


 


 


Kimberly langsung terdiam, "Hanya bercanda hey, jangan anggap serius." Seharusnya hal itu mudah dicerna sih.


 


 


"Tak apa Bryce, kau juga pasti kelelahan dan butuh kopi lagi. Aku tahu itu." Ia menepuk pundak Bryce.


 


 


"Aku ingin dengar kata-kata bijak darimu lagi, boleh?" Bryce mengangguk.


 


 


Ia berdehem sebentar, "Tuhan itu adil, namun kau yang membuat ketidakadilan tersebut." Lalu ia tersenyum.


 


 


Itu sebuah teori yang ia ciptakan, sebenarnya manusia yang membuat suatu tindakan ketidakadilan dan memang benar kenyataannya. Tuhan tak pernah tak adil tetapi manusia yang menciptakan suatu ketidakadilan tersebut.


 

__ADS_1


 


"Oh ya ada lagi," ia berdehem dan melanjutkannya, "Tak peduli berapa banyak followers instagrammu, yang terpenting itu bukan suatu pertimbangan kau akan masuk Surga atau tidak HAHHAHA apa sih aku ini." Bryce tertawa lalu disusul James.


 


 


"Benar sih HAHAHAHA." Tawa James meledak.


 


 


Di belakang sana ada Connor yang baru saja bangun karena tawa James dan Emely yang masih tertidur.


 


 


Connor mengecek sisa roti yang ia bawa, tersisa 2 roti lagi di dalam tasnya. Mungkin jika roti Emely sudah habis ia akan memberikan satu rotinya.


 


 


Ia membuka roti tersebut dan memakannya karena tahu tak mungkin akan mencari tempat makan di daerah itu dan bersamaan dengan Emely yang baru bangun tidur.


 


 


Ia menguap dan menyingkap selimutnya, Connor langsung menyodorkan satu rotinya. Emely yang baru bangun hanya diam saja memandangi roti tersebut.


 


 


Connor meletakkannya kembali, ia pikir Emely masih sedikit mengantuk dan belum sepenuhny sadar karena ya ia baru bangun tidur.


 


 


"Ada satu roti untukmu." Connor mengisyaratkan roti di dekat Emely yang tak direspon.


 


 


Bryce membelokkan stir mobil ke kanan, ia sedang fokus sekali mengemudi. Setelah beberapa menit, ia sampai di depan gerbang bertuliskan 'HATI-HATI DI JALAN, SANGAT BERBAHAYA' kira-kira seperti itu, Bryce melirik James yang meliriknya juga.


 


 


James mengisyaratkan untuk masuk saja, di dalam sana ternyata ada semacam kebun strawberry yang tak begitu luas di pinggir jalanan.


 


 


Awalnya terlihat biasa saja, namun kelamaan ada sesuatu yang aneh. Strawberry-strawberry di sana berubah menjadi besar dan hidup memiliki taring. Aneh tapi nyata.


 


 


"Kenapa kau tak bilang sih?!" Omel Bryce saat ada Strawberry yang menyerang mobil mereka.


 


 


"Aku tak tahu, yang hanya ku tahu hanya ladang saja!" Balasnya.


 


 


Bryce lalu mengebut, di belakang Connor sedang bertaring dengan Strawberry itu dengan Emely yang ketakutan.


 


 


Bryce masih ngebut hingga sampai di padang rumput yang menguning, dan Strawberry tersebut berubah menjadi seperti Strawberry biasa.


 


 


Gila, gila, gila. Ucap Bryce dalam hati.


 


 


Dan ternyata di depan sana rumput-rumput di sekeliling mereka makin tinggi hingga tak bisa melihat sekitar hanya jalanan di depan.[]


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2