The Time Traveler

The Time Traveler
We Go Down


__ADS_3

Perjalanan sangat melelahkan bagi mereka semua, James bikang mereka akan sampai besok di State Of Mind. Tapi jika tak ada hambatan saja.


 


 


"Kita harus lebih berhati-hati, penyamaran kita juga sepertinya tak mempan ku rasa." James melepas perintilan yang ia pakai seperti e-boy.


 


 


Bryce melihatnya aneh, "Kau ini tidak seru sekali." Ucapnya.


 


 


James tak peduli tetap melepaskannya, "Ini terlihat sangat bodoh, sangat sangat bodoh. Mereka sudah mengetahui kita, liat saja nanti pasti mereka akan mengejar-ngejar kita." Ucapnya.


 


 


"Lebih baik hari ini kita tak usah bermalam, aku tidak yakin kita akan aman di sini." Ujarnya.


 


 


Semua yang di sana diam karena James berbicara sangat kesal, "Maaf." Ucapnya.


 


 


Di lain tempat Janice sedang memasak omlete untuk makan malamnya dengan Raegan.


 


 


"Ah, omlete lagi?" Raegan membaringkan tubuhnya di sofa.


 


 


Janice melemparkan spatula yang masih baru ke arah Raegan, "Bisa diam tidak?" Tanyanya.


 


 


Raegan nampak tak peduli. Di rumah yang cukup besar itu ditempati oleh Janice, Raegan dan Toby. Toby merupakan cucu dari Karen, mereka mendapatkan begiti banyaknya anak buah berkat bantuan Toby.


 


 


"Toby kemana?" Tanyanya.


 


 


"Di luar." Balas Janice ketus.


 


 


Raegan keluar rumah dan mendapati Toby sedang berlatih dengan pisaunya, salah satu atau mungkin satu-satunya benda kesayanganna. Ia selalu membasa pisau miliknya itu kemana-mana. Saat dulu ia di sekolah, atau saat sedang pergi, pokoknya kemana-mana ia bawa.


 


 


"Keren." Ujar Raega.


 


 


Toby meliriknya, badan kekarnya mungkin sangat menarik perhatian kaum hawa namun badannya sangat bau seperti tak pernah mandi padahal ia mandi setiap hari.


 


 


"Kau bertemu si gadis pirang itu, eh?" Toby meminum birnya.


 


 


Ia melemparkan satu birnya pada Raegan, "Ya, seperti itu." Raegan membuka bir tersebut.


 


 


Ia meminumnya, "Kenapa?" Tanyanya.


 


 


"Tidak, hanya bertanya saja." Toby berbalik badan membelakangi Raegan.

__ADS_1


 


 


"Jadi kau pilih apa? Gadis itu atau Pesan Karen?" Tanya Toby membuat Raegan spot jantung.


 


 


Bisa-bisanya seseorang membuatnya spot jantung kalau bukan Toby, setelah bertemu lagi dengannya membuat fokusnya teralihkan.


 


 


Ini semua masalah waktu, biarkan waktu yang mengaturnya. Kata-kata Mr. Lieberher yang ia ucapkan saat Raegan kecil masih terukir jelas dalam memorinya.


 


 


Semuanya waktu, kenapa harus perihal waktu sih? Aku jadi pusing, arghh! Erangnya dalam hati.


 


 


Toby berlalu meninggalkan Raegan dengan tatapan anehnya, ia pun ikut masuk untuk makan omlete.


 


 


Ia mengambil omlete dan menaruhnya di piring, lalu ia beranjak ke meja makan. Ia duduk tepat di depan Janice.


 


 


Janice tampak biasa saja memakan omlete tersebut, Toby tak ada di sana, ia sedang membersihkan dirinya.


 


 


"Aku tak lupa tujuan utama kita." Ujar Raegan yang membuat Janice kebingungan tapi tak ia pikirkan.


 


 


"Hanya memberi tahu saja, jangan kebanyakan berbicara sendiri. Kau jadi gila lama-lama." Ucapnya penuh sarkas.


 


 


 


 


Raegan memikirkan bagaimana cara mereka untuk mendapatkan jam tersebut, bagaimana jika mereka menguasai dunia dan Karen dibangkitkan.


 


 


Namun, ia teringat saat ia kecil. Ia pernah menjadi sahabat dengan Connor, tetapi ia iri karena Mr. Lieberher memberikan jam tersebut kepada Connor, bukan dirinya.


 


 


Dari kejadian tersebut, sifat Raegan  berubah dan puncaknya ketika remaja. Janice akan mengikuti apa yang Raegan lakukan saat itu, mau itu berbahaya atau tidak ia akan tetap melakukannya.


 


 


Tak ada yang angkat bicara, Janice bangkit dari kursi dan beralih ke kamarmya untuk menyusun beberapa rencana yang akan digunakan untuk kedepannya.


 


 


Aku lagi kan yang membuat rencananya, mereka selalu mau enak saja. Dasar Lelaki. Batinnya.


 


 


Beralih pada James dan kawannya, mereka benar-benar tak mencari tempat untuk beristirahat bahkan untuk makan. Gila.


 


 


Oke, mottonya saat itu 'Save the world first' yang membuatnya sangat amat ingin mencapai targer tertentu.


 


 


Tidak seru, itulah yang Bryce rasakan. Kesepian yang melanda mobil, tak ada yang mau angkat bicara. Kenapa sih selalu begini? Tanyanya dalam hati.


 


 

__ADS_1


Baru saja ia ingin berbicara namun tak jadi, ia tahu ini akan canggung. Tak tahu canggung karena apa tapi pasti tak akan ada yang membalas.


 


 


Ia hanya berbicara sendiri, tak bersuara, hanya mulutnya yang bergerak.


 


 


Ia menopang dagunya, membuka laci mobil. Melihat-lihat kaset yang ada, ingin menyetalnya namun ia rasa waktunya tak tepat.


 


 


Lalu ia melihat ke kolong kursinya, tak ada apa-apa. Dan membuka jendela mobil, menghirup udara segar di sana.


 


 


Ia mengecek tas ranselnya, barang-barang miliknya masih ada di sana, juga handphonenya. Kalau ini masih tahun 1980 dan aku punya ponsel pasti keren sekali. Batinnya.


 


 


Ia menaruhnya lagi, lalu ia melihat buku jurnalnya. Ya, siapa kira cowok tak bisa punya buku jurnal? Contohnya Bryce, sebenarnya buku itu diberikan Kakaknya agar ia senang menulis dan sampai sekarang ia masih suka menulis apalagi puisi juga gombalan.


 


 


Bagian Kota Yang Seram, Katanya


-/-/1980 (Karena aku tak tahu tanggal dan bulan tapi jelasnya 5 hari lagi Terminator)


 


 


Di sini sangat gila, sangat sekali. Aku tak pernah merasakan sebelumnya, Semua hal gila terjadi, aku tak leenah menduga akan mengalami hal gila dan hal gila itu tetjadi padaku. Oke, bilang saja aku norak.


 


 


5 hari Tetminator, oke aku hanya mengingatkan oke okeee. Bayangkan saja, 5 hari lagi dunia akan hancur, wah. Tak sabar ingin menyelamatkan dunia, tak sabar untuk menghentikan si D'Anger itu, tapi aku tak memiliki kekuatan apapun.


 


 


Oh iya, Emely lucu juga ya. Hahaha, aku hanya mengaguminya, dan aku hanya mencintainya sebagai teman tidak lebih pasti ia juga mencintaiku seperti itu karena aku sahabat teebaiknya yang pernah ada.


 


 


Sudah sepertinya ini cukup untuk ceritaku selama beberapa hari di dimensi lain, wah. Oke, bye.


 


 


Sir Bryce Maxewell, your favourite boy.


 


 


Ia menaruh kembali buku jurnalnya dan pulpennya ke dalam tas, lalu meletakkannya di bawahnya.


 


 


"Punya jurnal, eh?" Tanya James, Bryce begitu senang ada yang mengajaknya mengobrol.


 


 


Ia tersenyum, "Tentu saja hahaha." Jawabnya dengan tawa.


 


 


Namun hal yang paling mengesalkan yang pernah ada adalah semua tawa yang baru saja ia tawakan berhenti mebjadi keheningan, ya, tak ada yang bersuara lagi. Kenapa orang-orang betah seperti ini? Batinnya.


 


 


Ia saja tak tahu bahwa Connor dan Emely sedang berbincang ringan di belakang, mereka terlihat bahagia terkihat dari senyuman tulus yang mengukir wajah mereka berdua.[]


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2