The Time Traveler

The Time Traveler
Terror In The Library


__ADS_3

Empat sekawan itu--Emely, Kenedy, Bryce dan Kimberly--pergi ke Perpustakaan untuk meminjam buku sejarah Inggris yang sangat tebal, entah berapa banyak jumlah halamannya.


"Hey, kau jadi meminjam buku itu?" Tanya Kimberly kepada Emely agak ketus, entahlah ia memang begitu.


Emely bingung akan pertanyaan Kimberly, "Kan memang Mr. Matthew menyuruh kita meminjam buku tebal ini, bodoh." Jawabnya tak kalah ketus.


Kimberly hanya memutar bola matanya dan dengan ogah mengambil buku terkutuk itu.


Persetan dengan tugas Mr. Matthew, aku tidak akan meminjamnya. Batin Kimberly.


Ia meletakkan kembali buku itu dan menepuk-nepukkan tangannya seperti sedang membersihkan tangannya dari debu dan semacamnya, "Aku tidak ikut." Katanya dengan senyum seperti anak nakal.


Kenedy dan Bryce diam di tempat dan sejenak berpikir, "Aku juga tidak jadi." Ucap mereka berdua lalu bertos ria.


Emely menatap mereka bertiga dengan tatapan aneh, "Hey, apa-apaan ini?!" Tanyanya dengan kesal.


"Kami tidak akan meminjam buku itu dan tidak ikut kelas Mr. Matthew selama sehari." Ucap Kimberly layaknya pemimpin dari mereka bertiga, kecuali Emely.


"Lagi pula, tidak apa kan menjadi nakal hanya untuk sehari?" Tanya Kenedy yang seperti bukan pertanyaan.


"Jangan buang-buang masa mudamu, lakukan hal yang kau mau ayolah. Memang jika kau sudah tua bangka bisa berbuat nakal seperti ini?" Tambah Bryce.


Ya Tuhan Bryce kenapa jadi ikut-ikutan seperti ini sih?! Batinnya tidak terima.


Emely memikirkannya kembali, "Hm, baiklah," katanya lalu tersenyum paksa.


Lalu mereka bertiga tertawa diikuti Emely, dan tiba-tiba terdengar suara benturan yang amat keras. Semua yabg ada di sana bingung sekaligus ketakutan, oh tidak, penjaga Perpustakaan terlihat biasa saja.


Semua orang telah meninggalkan Perpustakaan, kecuali empat sekawan dan penjaga Perpustakaan. Mereka bukannya lari namun melihat darimana asal suara tersebut, aneh.


Emely berjalan ke arah jendala di dekat Perpustakaan dan dikejutkan oleh orang bertopeng seperti memakai masker oksigen atau apa itu ia tidak tahu.


"YA TUHAN SIAPA SI JELEK DI DEPANKU INI?!" Teriaknya dengan ejekan untuk orang bertopeng masker oksigen.


Suatu pukulan mendarat mulus di wajah orang bertopeng masker oksigen, setelahnya mereka berkelahi.


"Dengarkan aku!" Entah darimana James muncul dan seperti memberi perintah untuk mendekat ke arahnya.


"Ini mungkin gila, tapi aku tidak bisa menjelaskannya-" ucapannya terpotong.


"Ini semua apa?!" bentak Kimberly.


"Diam dulu Kim!" Omel Kenedy dengan mimik yang tak dapat diartikan.


"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi kumohon ayo keluar dari sini, segera." Ucapnya lumayan tenang dari sebelumnya.

__ADS_1


Penjaga Perpustakaan terlihat takut dan segera keluar dari Perpustakaan setelah mejanya ditembakkan sesuatu oleh orang bertopeng lainnya.


James langsung menghajarnya, "Segera!" lalu mereka berempat meninggalkan Perpustakaan dengan lari secepat mungkin.


Di luar Perpustakaan mereka bertemu Mr. Matthew yang menanyakan kemana buku sejarahnya, "Dengarkan aku Mr. Matthew, di Perpustakaan ada orang aneh jadi kami tidak jadi meminjam buku." Ucap Emely, terdengar konyol bagi Mr. Matthew.


Ketiga temannya menatap Emely aneh, seperti-ini-sangat bodoh-emely-padanya.


James dan Connor lari ke arah mereka tergesa-gesa, "Kita harus pergi dari sini, sekarang!" Ucap James.


Mr. Mathhew menatap mereka semua aneh dan kebingungan, "Hey, ada apa ini sebenarnya?!" Tanyanya kepada James saat ia ingin lari.


"Sangat sulit ku jelaskan, namun aku pikir kalian semua yang berada di Sekolah cepat pulang jika tak mau mati mengenaskan di sini!" Lalu ia lari keluar Sekolah disusul yang lainnya.


Dengan cepat mungkin Mr. Matthew menyuruh mengumumkan untuk pulangkan saja semua murid jika tak ingin mati mengenaskan, terlalu mengerikan sekali pengumumannya.


Sialnya, Emely jatuh karena tak kuat untuk berlari. Dan seseorang mengulurkan tangannya, bukan tangan Bryce saat ia melihatnya.


"Cepat! Kau tak punya banyak waktu!" Ia menyentak Emely membuatnya takut, namun ia tetap meraih tangannya.


Gila, ini gila. Rasanya kemarin saja aku baru terkena musibah lalu sekarang ada yang meneror Perpustakaan, mungkin juga Sekolah ini. Batinnya menggerutu.


Connor merasakan seeuatu yang aneh ketika menggengam tangan Emely, tak bisa ia artikan sama sekali.


"Ayo cepat masuk!" Suruh James untuk memasuki mobilnya.


Connor diam dengan wajah datarnya, Emely dengan ketakutannya. Emely heran mengapa ia tetap saja datar tanpa ekspresi seperti itu, kalau tidak datar ya wajah marah.


Ada ya orang yang hanya memiliki dua mimik, datar dan marah, aneh sekali. Batinnya.


Mereka meninggalkan Sekolah dengan agak lega dari ketakutan, keheningan memenuhi suasan mobil.


Sampai Kimberly angkat bicara, "Tunggu, kalau misalnya mereka akan menyerang sekolah juga kenapa kalian mengajak kami? Maksudku, apa tujuan kalian? Lalu kami akan dibawa kemana? Pulang ke rumah?" Tanyanya bertubi-tubi.


"Karena temanmu." Ucap Connor singkat, padat, namun tidak jelas.


"Maksudmu?" Tanya Kimberly menengok ke belakang.


James menarik nafas panjang, "Mereka menginginkan jam yang Connor punya, yang bisa menjelajah waktu. Mereka adalah tangan kanan De'Anger."


Mereka malah terdiam, "Lalu apa maksud dia, temanmu?" Tanya Kimberly.


"Setelah ku teliti, ternyata yang mempunyai jam tersebut bukan hanya Connor. Namun Emely pun punya." Emely nampak kaget tak percaya.


"Lalu apa maksud semua ini?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Mereka ingin mengambil jam itu, tentu saja."


Emely kembali mengingat jam apa itu, lalu ia teringat saat kecil Kakeknya pernah memberikan jam kuno bertuliskan angka 8 di sisinya.


"Dimana jam-mu Emy?" Tanya James.


"Aku menyimpannya di rumah, di antara tumpukkan bajuku." Jawabnya.


Selanjutnya keheningan kembali menyelimuti mereka.


"Lalu?" Tanya Kimberly lagi.


"Kita akan ke rumah Emely dan mengambil jam itu, sebelum mereka mengambilnya terlebih dahulu." Ucap James.


"Selain jam, apa Kakekmu pernah meninggalkan hal lain untukmu Em?" Tanya James sedikit menengok ke belakang.


Ia berusaha mengingat kembali, itu sudah sangat lama sekali saat ia berumur 7 tahun.


Namun ia masih mengingat kalau Kakeknya meninggalkan jam dan peta yang sudah terbelab menjadi dua namun hanya satu yang ia punya.


"Ia pernah memberikanku peta yang sudah terbelah namun aku hanya memiliki satu bagiannya saja." Jelasnya berharap mereka semua mengerti apa maksudnya.


"Apa kau membawanya?" Tanya Connor.


Ia membuka tasnya dan mengeluarkannya dari novel, "Selalu kujadikan pembatas buku." Ucapnya.


Ia membuka lipatan-lipatan selama bertahun-tahun itu, ajaibnya peta itu belum hilang tulisannya.


Connor mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, bagian peta yang sama. Ia menyodorkan petanya untuk disatukan, seolah ada magnet peta itu kembali utuh menjadi satu.


"Kau berdua ada di pihak kami kan?" Tanya Kenedy.


James mengangguk, "Dan kau Connor?" Ia belum melihat Connor mengangguk. Ia anggukkan kepalanya namun dengan malas.


Mereka menuju rumah Emely yang berjarak 200 meter lagi, semuanya diam saja setelahnya.[]



 


 


"Ya Tuhan aku lebih rela di kejar oleh Shawn Mendes daripada orang-orang jelek itu."


- Emely Lieberher -

__ADS_1


 


 


__ADS_2