The Time Traveler

The Time Traveler
The Truth


__ADS_3

Raegan dan Janice sudah sampai ke State Of Time, tawa jahat meledak di udara.


 


 


Mereka berdua memasuki semacam portal yang di dalamnya ada banyak sekali jam dan yang paling utama ada jam raksasa.


 


 


Raegan menghampiri jam raksasa tersebut, ia tak membaca petunjuknya dan sok tahu saja. Ia tak tahu kalau jika ia memegang jam yang asli akan mempercepat Terminator.


 


 


Ia meletakkan jam tersebut di sebuah tempat khusus dan berharap jika setelahnya muncul cahaya kelur dari sana dan kemudian kekuatannya bertambah hebat lalu semua aktivitas di dunia dalam genggamannya.


 


 


Namun eksletasinya tak sesuai dengan realitanya, tak ad cahaya yang keluar sama sekali dan ia tak mengalami perubahan apa pun.


 


 


"Sepertinya kau salah melakukannya, tidak seperti itu." Ucap Janice.


 


 


Raegan berjalan kesana kemari memikirkan apa ada yang salah dari caranya atu jamnya yang salah.


 


 


"Ada dua kemungkinan, jam yang rusak atu aku yang salah melakukannya." Ujar Raegan.


 


 


Janice mengambil jam tersebut dari Raegan dan memaatikan apa jam tersebut dapat mengeluarkan sesuatu yang ajaib atau tidak.


 


 


Ia mencoba-coba seluruh fitur jam tersebut, ia sudah mencobanya berkali-kali dan sampailah ia menyadari bahwa jam yang ada di genggamannya itu palsu.


 


 


"Sialan, ini palsu." Ucap Janice melempar jam tersebut.


 


 


Raegan yang mendengarnya sangat marah dan tangannya terkepal, matanya mengisyaratkan bahwa ia sangat marah.


 


 

__ADS_1


Di lain tempat Connor sedang menceritakan bagaimana hal itu dapat terjadi, "Aku sudah membuat jam yang palsu sejak lama, sebagai jaga-jaga saja. Dan jam palsu itu sengaja ku taruh di tas Emely." Jelasnya.


 


 


"Aku sudah was-was tentang hal ini, dan syukurlah ia tak mendapatkan yang asli." Ujarnya.


 


 


Mobil melaju dengan kecepatan sedang melewati pantai yang terhampar pasir putih di sebelah kiri mereka.


 


 


Setidaknya udara kebebasan dapat tercium dan dirasakan sedikit namun mereka tetap mensyukurinya karena bisa merasakannya walau hanya sebentar.


 


 


Burung-burung berterbangan di langit, ombak terpecah di lautan luas. Buih-buih air tercipta di tepi pantai.


 


 


Dimensi lain memiliki cerita lain, kehidupan yang hampir sama dengan di dunia biasa, hal-hal anehnya yang tak pernah disangka dan keindahan yang sangat tak wajar.


 


 


Bryce memandangi keindahan di sekitarnya, hatinya merasa tenang jika ia bisa melihat hal yang menenangkan hati.


 


 


 


 


Banyak sekali kata-kata yang ingin Bryce ucapkan namun tak bisa, ia ingin mengungkapkan semua yang ada di pikirannya.


 


 


Suatu saat nanti aku akan tahu bagimana rasanya dimiliki oleh seseorang seutuhnya, ungkap perasaannya.


 


 


"Terlalu banyak kenegatifan dalam hidup gak sih?" Tanya Bryce tak menunjuk ke siapa.


 


 


Dan akhirnya James yang menjawab, "Tidak juga, kalau kau selalu fokus pada sesuatu yang baik ya tidak. Tapi terkadang kau berhak ragu ya bukan berpikir negatif eh apa itu bukan dua hal yang sama ya?" Tanyanya pada diri sendiri.


 


 


"Lelah untuk fokus pada sesuatu yang baik saat kau terlalu banyak berpikir, rasanya cemas setiap saat." Ungkapnya.

__ADS_1


 


 


James tahu jika seperti ini Bryce susah untuk ditampis opininya atau lebih merujuk pada curhatannya.


 


 


Akhirnya ia diam saja dan membiarkan Bryce meluapkan semua isi hatinya saat itu, agar semuanya lepas.


 


 


"Rasanya lelah menjalani hidup, ini semua bagaikan kau sedang dikejar-kejar ikan hiu dan kau harus terus melanjutkan berenang kalau tidak kau tak akan selamat." Bryce berkata seperti itu sambil memikirkan masa-masa kecilnya.


 


 


"Tapi apa itu bukannya bagian menghindar dalam hidup? Aku yakin kalau kau mau selamat bisa dengan cara lain.


 


 


Membuat rencana bagaimana kelur dari sana, mungkin jika ada perahu lewat san kau bisa kihat dari laut sana lalu kau mengejarnya dan menaiki perahu tersebut bilabg bahwa kau dikejar-kejar hiu saat di laut." Balas James.


 


 


Dan setelahnya ia merasa bodoh sekali karena pasti Bryce sedih oleh ucapan James. Ia tak mau mengacaukannya lagi dan memilih kembali diam, biar Bryce yang berbicara.


 


 


"Ya, mungkin aku yang bodoh terus saja menghindar dari masalah itu tapi aku berusaha menyelesaikan semua masalahku sendiri." Ucap Bryce.


 


 


Dan keheningan kembali melanda mobil, hal yang tak ingin terjadi tetapi terjadi karena tak ada yang memulai percakapan.


 


 


James menyenggol lengan Bryce, "Hey, aku minta maaf." Bryce hanya mengangguk.


 


 


"Tapi tak ada yang harus diminta maafkan James, aku sudah biasa seperti itu." Ucapnya.


 


 


Dan ia lebih memilih terjebak dalam alam pikirannya, semuanya terasa lebih rumit tapi ada sedikit lega di sana.[]


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2