The Time Traveler

The Time Traveler
The City


__ADS_3

Mobil sampai di sebuah kota, kota tempat dulu James dan Connor tinggal, kota kenangan. Kondisinya cukup ramai, banyak aktivitas di sana.


 


 


BUG!!!


 


 


Hampir saja mobil mereka menabrak truk ayam yang berlawanan arah, memang dasar manusia.


 


 


Itu mungkin saja hal terkonyol dan mengerikan, hanya si bodoh yang akan melaju lawan arah dan hampir saja menabrak mobil yang berisikan anak-anak muda yang akan menyelamatkan dunia.


 


 


"Jika kalian berharap untuk menginap di motel, nyatanya tidak. Kita harus bergerak cepat." Ucap James dan yang lain hanya bergumam.


 


 


Emely tertidur pulas di belakang sana, Connor melamun sedangkan Kimberly dan Kenedy tengah beradu argumen.


 


 


"Hampir saja ya tadi..." Ucap Bryce meminum minuman kalengnya.


 


 


James hanya tersenyum karena bingung harus menjawab apa, "Kau...pernah ke sini sebelumnya? Maksudku kota ini." Tanya Bryce.


 


 


"Dulu aku tinggal di sini, lihat itu." Ia menunjuk gedung berlantai ratusan mungkin, "Percaya atau tidak aku dulu bekerja di sana." Katanya.


 


 


Bryce tentu saja menggeleng, "Asal kau tahu saja aku sudah 40 tahun." James tersenyum tetapi Bryce memuntahkan minumannya yang sudah ia minum.


 


 


"Apa kau gila?!" Serunya, James menggeleng.


 


 


"Panjang ceritanya, ku ceritakan nanti saja." Ucapnya.


 


 


Bryce terheran, umurnya sudah 40 tahun namun terlihat seperti anak remaja. Dunia benar-benar gila, pikirnya.


 


 


"Kau bagaimana?" Tanyanya James, Bryce heran menunjuk dirinya dan James mengangguk.


 


 


"Aku bagaimana? Aku itu jago Karatte, bisa memasak, melukis, apa lagi ya..." Pikirnya sejenak.


 


 


"Tapi kau tak bisa mendapatkan kekasih, eh?" Ejek James lalu tertawa, Bryce menatapnya sinis.


 


 


"Segera, saat aku sudah menyelesaikan misi menyelamatkan dunia ini." Ucapnya dan memikirkan Emely, senyumannya, bagaimana ia tertawa dan wajah bangun tidurnya.


 


 


Hangatnya matahari sore menyentuh lengan Bryce, ia melihat ke sekelilingnya banyak para pedagang, pejalan kaki dan orang-orang kantor yang baru saja selesai bekerja.


 


 


Ternyata sama saja hanya berbeda dimensi, batin Bryce.


 


 


"Kau memikul beratnya beban dunia dan kau lupa hal baik yang ada di dalamnya." Bryce bermonolog.

__ADS_1


 


 


"Sesuatu akan lebih sulit jika kau memikirkannya, jadi jangan pikirkan itu dan kerjakan seperti air yang mengalir." Ucapnya lagi.


 


 


James menggelengkan kepalanya, "Wah, apa kau melihatnya dari internet?" Tanyanya.


 


 


"Siapa itu internet? Aku hanya mengenal Sir Bryce Maxwell." Ia membusungkan dada dan menepuknya, lagi Thomas menggeleng.


 


 


Mungkin itu cukup untuk mengakhiri suara di dalam mobil, selanjutnya tak ada yang berbicara hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


 


 


James berniat untuk mengunjungi Orang Tuanya sebentar, ia membelokkan setir ke kanan menuju rumahnya. Dan 20 meter lagi menuju rumah lalu berhenti.


 


 


"Tidak begitu ramai, masih ada pepohonan." James mematikan mesin mobil lalu beranjak dari kursi kemudi.


 


 


Disusul temannya keluar mobil, James berdiri di depan pintu. Ibu, Ayah, aku pulang ke rumah namun tak akan lama karena aku hanya singgah sebentar. Ia menghela napas panjang.


 


 


James menekan bel dan tak lama kemudian wanita yang sudah berumur 60 tahunan itu membuka pintu dan memeluk James. Connor berlari ke arah Ibunya dan ikut berpelukan.


 


 


"Ayah dimana?" Tanya James, "Ibu tak bisa mengatakannya sekarang, Nak." Ia mengelus rambut putranya.


 


 


Lalu Connor kembali memeluk Ibunya karena rindu berat, beberapa hari yang serasa sudah bertahun-tahun ia lalui tanpa Ibunya. Berperang setiap hari dengan kata-kata yang tak dapat diucapkan dan terbengkalai tinggal di dalam kepalanya, memenuhinya dan sesak di sana.


 


 


 


 


Sudah gila memang orang itu, padahal Ayahnya tak memiliki kekuatan apa pun. Namun ia tak mau cepat menyimpulkan seperti itu.


 


 


"Bu...maaf aku hanya kemari sebentar saja, aku janji aku akan pulang ke rumah jika kondisi sudah baik. Pegang itu Bu, aku selalu menyayangimu." James menatap mata Ibunya.


 


 


Connor susah untuk mengucapkan sesuatu, "Aku menyayangimu lebih dari isi dunia ini, maaf aku tak bisa mengatakan apa pun lagi." Ia mencium kening Ibunya.


 


 


Setelah itu mereka semua kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan, sehabis ini mereka harus melewati rintangan yang lumayan mungkin.


 


 


"Sehabis dari kota akan kemana?" Tanya Emely.


 


 


"Kita akan keluar kota, ke kota yang lebih kecil kau tahu?" Emely mengangguk, "Ya, di sana sebagian wilayahnya telah dikuasai D'Anger. Kita harus berhati-hati." Ucapnya.


 


 


Emely kembali terdiam, ia memaikan rambutnya. Dan diam-diam Connor curi pandangan, menurutnya itu sangat lucu.


 


 


Bryce melihat kembali kaset-kasetnya, "Awas saja kalau kau menyalakannya lagi, terakhir kali ban mobil ini bocor karena kau menyalakan kaset tahu!" Omel Kimberly.


 


 

__ADS_1


Bryce menoleh ke belakang lalu mulutnya menirukan gaya Kimberly mengomel, "Kau tahu? Aku sama sekali tak peduli hahaha!" Balasnya, cubitan bertubi-tubi dirasakan oleh Bryce setelahnya.


 


 


"Hey, apa tak mau menyamar agar tak ketahuan?" Tawar Kenedy.


 


 


James memikirkannya kembali, "Hm, tak begitu buruk kecuali mereka punya alat yang bisa mengenali bahwa itu dirimu." Jawab James.


 


 


"Kenedy, tolong kau ambil box di bawah." Pinta James.


 


 


Ia mengambil box tersebut dan banyak sekali baju juga aksesoris lainnya, "Hm, sepertinya aku akan berdandan ala Paul McCartney saja." Bryce mengambil beberapa pakaian lalu memakainya juga kacamata hitam.


 


 


"Tapi ku pikir terlalu klasik tidak sig menyamar memakai kacamata hitam?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.


 


 


"Ah, lebih baik kau dan Connot saja yang memakai kacamatanya. Aku kan hanya ikut saja dan juga Emely, aku takut jika mereka tahu kau memiliki jam eh atau arloji? Sama saja, eh?" Ia membuat dirinya sendiri kebingungan.


 


 


Emely mengambil jogger pants dan kemeja putih pendek, sedangkan Connor mengambil kemeja panjang dan sweater juga celana jeans.


 


 


Namun penyamaran ini seperti tempat untuk kontes busana, mirip saja jika dilihat-lihat.


 


 


Mereka kuar mencari toilet terdekat untuk berganti pakaian, namun apa gunanya menyamar jika kau masih terlihat sama seperti sebelumnya? Seperti penyamaran James yang sangat tak bagus itu.


 


 


Bryce mengambilkan kaos putih, kemeja, sabuk dan jeans, "Cepat ganti menjadi seperti e-boy!" Ia mendorong bahu James, ia kebingungan masa ia berubah menjadi e-boy sih?


 


 


Mereka semua memandangi Bryce uang nampak agak beda dari sebelumnya, "Ada apa sih kalian melihatku seperti itu?" Tanyanya seperti terintimidasi.


 


 


Namun, saat James selesai mengganti bajunya kini ialah yang menjadi sorotan teman-temannya.


 


 


"Nah, ini dia pemenang kontes busana kita! James McDoughlas dengan outfit e-boynya!" Seru Bryce yang lain hanya menggelengkan kepala.


 


 


"Sudahlah, ayo cepat kembali ke tempat kalian masing-masing." Suruhnya.


 


 


James merasa tidak nyaman memakai pakaiannya tersebut, ingin ia mencopotnya dan menggantinya dengan kaus biasa. Ya, tapi semoga saja jika telah berpakaian seperti itu meminimalisir tertangkapnya mereka atau diserang atau diapakanlah.


 


 


Emely dan Connor terlihat seperti Summer dan Tom pada film 500 days of Summer.


 


 


"Selera musikmu bagus, eh?" Ucap Emely menirukan yang Summer ucapkan saat di Lift.


 


 


Lalu mereka berdua tertawa, menghapus beban sementara.[]


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2