The Time Traveler

The Time Traveler
Watch Out


__ADS_3

"Udara pagi memang yang terbaik." Ucap Bryce duduk di tepi Danau.


 


 


Emely dan Connor ikut keluar, terasa sesak duduk di belakang selama beberapa hari terakhir.


 


 


Mereka semua memutuskan untuk beristirahat pagi sebentar kemudian melanjutkan untuk mencari sarapan.


 


 


Bryce memikirkan kira-kira apa yang akan dimakannya, di pikirannya terbayang-bayang pancake yang sangat lezat.


 


 


"Ayo cari makanan." James masuk ke dalam mobil.


 


 


Kali ini Emely dan Connor sangat masam sekali wajahnya, baru saja keluar sudah harus terperangkap rasa sesak.


 


 


James melajukan mobilnya untuk mencari restoran terdekat, dan yang terdekat adalah restoran Mexico.


 


 


Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam yang tak begitu banyak orang, meja di dekat jendela menjadi pilihan.


 


 


Pelayan menghampiri mereka, "Ingin pesn apa?" dengan muka malasnya ia bertanya.


 


 


"Taco untuk berenam dan air mineral biasa saja." James tersenyum ramah yang dibalas tatapan judes.


 


 


Ia langsung pergi dan mereka menunggu pesanannya untuk datang.


 


 


Taco lagi? Batin Bryce.


 


 


Tak hanya Bryce, Kimberly juga menggerutu dalam hati.


 


 


Sembari menunggu pesanannya, Bryce melamun membayangkan bagaimana jika ia akan tinggal di tahun 1980 saja. Pasti akan menyenangkan menurutnya.


 


 


Pesanan sudah datang dan mereka langsung melahapnya tanpa ba-bi-bu kecuali Bryce masih melamun.


 


 


"Heh, ini makan!" Tegor James menyenggol lengan Bryce yang di sebelahnya.


 


 


Bryce langsung memakannya sambil tersenyum-senyum seperti orang tak waras, Kimberly melihatnya jijik.


 


 


Bryce sedang melamun berdansa dengan gadis 1980 dengan lagu frank sinatra mengalun lembut.


 


 


Hingga ia tak sadar jika Taco di tangannya sudah habis dan ia memakan tangannya sendiri, James menyadarkan Bryce dan ia terkaget.


 


 


"Dasar gila." Cibir Kimberly.


 


 


Bryce hanya tersenyum padanya, "Ayo lanjutkan perjalanan." Ia bangkit dari kursi dan berjalan keluar restoran lalu disusul Kenedy.


 


 


"Semoga kau tak tertular penyakit gila Bryce." Ujar Kimberly pada James.


 


 


James hanya menggidikkan bahunya, "Ih, jangan sampai deh." Ucapnya.


 


 


James ikutan bangkit dan membayar bills lalu keluar disusul yabg lain.


 


 


"Apa kalian berdua tak gila duduk di belakang?" Tanya Kimberly.


 


 


"Aku menjadi sangat gila duduk di belakang! Sangat gila lagi jika kau terus mengoceh seperti itu!" Connor mengeluarkan kata-kata sarkasnya.


 


 


Wajah Kimberly bertambah massm beratusan kali lipat dan berjalan meninggalkan mereka.


 


 

__ADS_1


"Biar saja, huh." Ia tersenyum miring.


 


 


Emely melihatnya ketakutan, jika Connor berubah seperti semula. Connor yang selalu sarkas, senyum miringnya, dan tatapan membunuhnya.


 


 


Connor pun sudah berjalan mendahuluinya, tinggal ia yang tersisa dan oh ada James yang menghampirinya sehabis membayar bills.


 


 


"Ayo, Emy." Ajaknya sambil merangkul Emely.


 


 


Awalnya ia agak risih, James tiba-tiba melepaskan rangkulannya, "Maaf." Ia tersenyum tulus.


 


 


Mereka berdua memasuki mobil, Emely agak kesusahan ya karena di belakang. Untung saja Kenedy belum duduk.


 


 


Semuanya sudah siap dengan perut terisi penuh, "Oke, kita jalan ya." Ucap James.


 


 


James melajukan mobil dengan kecepatan pelan dan menaikkannya saat memasuki jalan raya.


 


 


Burung-burung bertebangan di atas langit yang cerah dengan sedikit awan menghiasinya.


 


 


Pohon-pohon di Hutan menjulang tinggi di tepi jalan, di sana terlihat jalan setapak yang kecil tak muat untuk mobil.


 


 


Tak banyak mobil yang berlalu lalang, hanya ada beberapa mobil yang lewat. Di depan sana ada jalan bercabang, mobil berlaju di jalur kanan.


 


 


Heningnya keadaan di dalam mobil sudah menjadi hal yang lumrah, tak ada yang memulai percakapan karena Bryce masih melamun, Kimberly sangat kesal karena diperlakukan seperti tadi oleh Connor. Yang di belakang pun tak ada komunukasi apapun, telepati pun tidak.


 


 


James fokus mengemudi, wajah seriusnya sangat disukai Bryce. Rasanya ia ingin menyubitnya sekali saja.


 


 


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, semua yang ada di dalam terlonjak kaget apalagi yang di belakang.


 


 


 


 


Baru ini yang dinamakan gila, berdiri di tengah-tengah jalan seperti punya banyak nyawa. Batin Bryce.


 


 


"Beepegangan semuanya!" Teriak James.


 


 


Lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, "Hey apa kau gila?!" Teriak Bryce.


 


 


Kimberly dan Kenedy ketakutan, Connor dan Emely tak tahu apa yang terjadi dan tetap santai saja.


 


 


Saat mobil mendekati orang itu, mobil beserta isinya melayang di udara.


 


 


"Ah, sial!" Pekik James.


 


 


Kimberly berteriak yang hanya Kenedy tatap dengan aneh tetapi ia malah mengompol di celana.


 


 


Connor merasakan ada yang aneh, "Seperti terbang?" Tanyanya, Emely menaikkan bahunya tanda tak tahu.


 


 


Lalu Connor mengintip ke jendela belakang dan tetapi tak terkejut. Ia kembali duduk dengan tenang di samping Emely yang terlihat santai tak seperti Kimberly yang sudah berteriak tak karuan.


 


 


"Lalu apa?" Tanya Emely tak begitu peduli sebenarnya hanya ingin tahu akan terjadi apa.


 


 


Connor hanya menatapnya tanpa arti, mukanya datar namun isi otaknya bertempur memikirkan bagaimana jika mereka akan jatuh dan meninggal lalu jam tersebut di ambil oleh orang itu yang Connor tebak adalah D'Anger.


 


 


Dan segala kemungkinan-kemungkinan lainnya, Connor tetap memikirkan hal-hal tersebut. Seharusnya ia tak memikirkannya namun ia tak bisa.


 


 


"Oke, aku rasa kita akan jatuh selanjutnya." Hal itu membuat Kimberly semakin menjerit dan Connor merasa sesuatu membuatnya semakin tak terkendali.

__ADS_1


 


 


Ia benar-benar tak bisa berpikir jernih, terus saja memikirkan cara mereka bagaimana bisa meninggal di sana juga dan dunia akan hancur secepatnya.


 


 


Gila, ini gila! Aku tahu ini bakal terjadi, aku yakin semuanya akan amtsk baik-baik saja! Batin Connor.


 


 


Tubuhnya kaku, mukanya datar, matanya memiliki tatapan tak berarti, tangannya bergetar, jantungnya berdegup kencang. Itulah yang dirasakan Connor sekarang.


 


 


Semuanya ingin ia muntahkan rasanya, semua yang baru ia makan maupun rasa ketakutannya.


 


 


James membuka jendel dan berusah mengobrol dengan pria berjas cokat itu, "Hey, turunkan kami!" Teriaknya.


 


 


"Tidak semudah itu, serahkan jam tersebut dan kalian akan ku bebaskan." Tawarnya yang pasti akan ditolak oleh James.


 


 


"Diam bodoh, turunkan kami sekarang juga!" Sentaknya lalu menggetok kasar mobilnya.


 


 


D'Anger tersenyum miring, "Oke, baiklah jika itu maumu bocah." Ucapnya seperti menantang karena mengatai James bocah.


 


 


Tak tahu diri, masih saja memanggilku bocah. Aku sudah 40 tahun, sial! Gerutunya kesal dalam hati.


 


 


D'Anger mengarahkan mobil mereka ke tepi jalanan yang mana adalah jurang. Sangat sial sekali.


 


 


James tampak kesal, "Dasar kau sialan!" Ia bersumpah serapah.


 


 


"Serahkan jam tersebut atau kalian ku turunkan ke dalam jurang ini?" Tawarnya sekali lagi, dengan tawaran tak waras menurut James memang sudah tak waras sih.


 


 


"Dengar ya, kami tak akan memberukannya padamu sampai kapan pun. Ingat itu." Ucap James.


 


 


D'Anger malah memainkan mereka semua, mobilnya ia naik turunkan seperti wahana permainan saja.


 


 


Dasar pecundaang kau Connor, lakukan sesuatu! Batin Connor.


 


 


Aku harus apa?! Ayo berpikirlah! Serunya dalam hati.


 


 


Ia sedang memikirkan hal apa yang hrua dilakukan namun ia tak bisa, bayang-bayang mereka akan mati masih tak dapat dilupakannya.


 


 


"Cepatlah Jammie." Ucap D'Anger menunggu kepastian.


 


 


"Kau sudah tahu jawabannya sebelum ku beri tahu, jadi sekarang kau harus turunkan kami, di jalan." Ujarnya.


 


 


D'Anger tertawa seperti orang jahat dan dia adalah orang jahat sesungguhnya.


 


 


"Aku tak akan menunggu lama, 5 menit untuk mengambil keputusan." Ucapnya James labgsung menjawabnya.


 


 


"Tidak! Tidak sudi aku!" Teriak James.


 


 


D'Anger tersenyum miring, "Yasudah, itu maumu." Ucapnya.


 


 


Ia menjatuhkan mobil itu tepat di bawahnya jurang, Kimberly berteriak sangat kencang hingga seisi mobil hanya terdengar teriakannya.


 


 


Aku akan mati, Ya Tuhan aku akan mati. Ucap Connor dalam hati.


 


 


Tak ada yang akan menyelamatkan dunia, pasti D'Anger akan mengambil jam itu segera saat mereka sudah tewas di bawah sana.[]


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2