The Time Traveler

The Time Traveler
Break The Time (2)


__ADS_3

Connor bangun dari tidurnya dan melihat Emely tertidur pulas di pundaknya, senyuman tipis terukir di bibir merah mudanya.


 


 


"Hey, kalian yang di belakang!" Ujar James mengarah ke Connor dan Emely, "Apa baik-baik saja tidur di belakang sana?" Tanyanya.


 


 


Connor hanya menganggukkan kepala dan sedikit mendongak ke depan arah James. Ia kembali pada tempatnya dan melihat Emely perlahan bangun.


 


 


"Mimpi indah, eh?" Tanya Connor kepada Emely yang baru saja sadar dari tidur nyenyaknya.


 


 


Yang ditanya hanya tertawa kecil, ia mengusap matanya dan sedikit menguap. Mungkin masih sedikit mengantuk, pikir Connor.


 


 


"Perjalanan ke rumah Mr. Lieberher sekitar 2 jam lagi, makan beberapa makanan yang sudah kubungkus tadi.


 


 


Perjalanan ke dimensi lain cukup membuatmu lelah, asal kalian tahu." Jelas James.


 


 


Kimberly mengoper makanannya dari James dan diserahkan pada mereka yang di belakang. Burrito? Sejak kapan ia mrmbelinya? Batin Emely namun ia tak peduli dan memakan Burrito tersebut.


 


 


"Jadi, bagaimana dengan umurmu dan fisikmu yang bisa berbeda itu?" Emely angkat bicara untuk memecah keheningan di antara keduanya dan Connor sudah mungkin, ya, bisa dibilang teman untuk mengobrol.


 


 


Ia terkekeh sejenak, "Sebenarnya James pun begitu hanya beda setahun lebih tua dariku," ia terdiam dan melanjutkannya, "Pertumbuhsn kami berhenti saat aku beranjak 17 yahun dan James 18 tahun,


 


 


setelah beberapa tahun kami baru menyadarinya. Aku tahu apa penyebabnya, Ibuku adalah The Keeper-Penjaga Waktu-di dalam DNA Ibuku entah ada sesuatu yang membuat anaknya bisa berhenti pertumbuhannya. Itu lah yang terjadi padaku dan James." Jelasnya dengan mata lurus ke depan.


 


 


"Kakekmu seorang Creator, orang yang membuat jam tersebut. Dulu aku sering menjelajahi waktu bersamanya, membuat teori-teori tentang waktu dan masih banyak lagi." Ia menghela napas panjang.


 


 


Emely menundukkan kepalanya lalu mendongak kembali, "Orang tuamu bagaimana?" Tanyanya.


 


 


Connor menatap Emely sebentar dan mulai bercerita kembali, "Aku dengar mereka baik-baik saja  namun masih diselimuti ketakutan dan kehawatiran. Kota tempat tinggalku sudah dilindungi  oleh sesuatu yang dibuat ibuku." Ceritanya.


 


 


"Oh ya, Ibuku Korea-Amerika dan Ayahku Amerika tulen. Wajah James turun dari Ayah dan aku dari Ibuku. Hm, jika kau heran saja." Kekehnya di akhir ucapan.


 


 


Selama  perjalanan yang ditempuh, mereka berdua larut akan obrolan yang semakin jauh namun semakin dekat mereka.


 


 


"Oke, teman-teman. Bersiaplah untuk menembus waktu!" Seru James seperti pembawa acara televisi saja.


 


 


Tidak ada hal-hal aneh yang terjadi, hanya saja energi mereka terasa terkuras sedikit, "Kalau kalian belum makan pasti akan pingsan," tutur James.


 


 


"Hm, maksudmu seperti Kenedy?" Tanya Kimberly melihat Kenedy pingsan di sampingnya. James menepuk kepalanya yang disambut tawa oleh teman-temannya.


 


 


Mereka sampai di Hutan dan James menuju satu-satunya rumah di sana, Kaeknya Emely, "Apa yang kau rindukan dari sini Emy?" Untuk pertama kalinya James memanggil Emely dengan sebutan itu.


 


 


"Hm, aku rindu aroma alam seperti angin yang menyatu dengan air dari sungai, entah tapi aku sangat suka dan menyejukkan." Ia terkekeh.

__ADS_1


 


 


"Rumah Kakekmu sekarang sudah dilindungi kok, jadi tenang saja. D'Anger sekarang susah memasuki kawasan kota dan rumah Kakekmu walau dulu ia sempat mengambil alih kendalinya." Ujar Connor.


 


 


Lalu mobil berhenti dan mereka bergantian keluar dari mobil. Udara segar menyambut kedatangan mereka dan suara dari lonceng angin yang terbuat dari bambu yang menenangkan.


 


 


Mereka semua menuju rumah Mr. Lieberher. Emely agak ragu, sudah bertahun-tahun ia tak mengunjungi rumah Kakeknya dan sekarang harus datang untuk menyelamatkan dunia, katanya.


 


 


Seorang pria paruh baya keluar dari rumah tersebut, ia tersenyum kepada Emely yang dibalas senyuman ragu olehnya.


 


 


Emely berlari menghampiri sosok yang sudah lama ia tak jumpai, yang sudah dibilang tiada oleh kedua orang tuanya. Ia memeluk Kakeknya erat, bulir-bulir air mata turun membasahi pipinya.


 


 


"Sekarang kau tahu, Emy," bisik Kakeknya lembut.


 


 


Lalu ia melepas pelukannya, "Kau sudah tumbuh ya." Ia tersenyum kembali.


 


 


Teman-temannya hanya diam menyaksikan pertemuan antar Kakek dan Cucunya yang bertahun-tahun tidak bertemu, yang Cucunya anggap sudah tiada karena omong kosong tersebut.


 


 


"Hm..." Gumam James lalu tersenyum.


 


 


Mr. Lieberher mengalihkan pandangan kepada James, "Hi, what's happened son?" Ucapnya dengan aksen British yang kental.


 


 


 


 


Ia duduk di kursi kayu, "Ya, aku tahu." Ucapnya.


 


 


"Aku dan um mengajak mereka kemari untuk meminta bantuanmu, untuk menuju ke State Of The Time." Ujarnya gugup.


 


 


"Kau tahu, tidak mudah untuk ke sana. Tapi aku tahu kalian bisa, aku akan pinjamkan beberapa bukuku. Dan...Emely dan kau Connor ikut denganku sebentar." Suruh Mr. Lieberher.


 


 


Mereka di ajak ke tepi Danau, tidak ada yang berubah seperti beberapa tahun yang lalu. Suasana yang sama juga udara segar seperti dahulu.


 


 


"Hm, aku akan menghubungkan pikiran kalian berdua." Emely tampak kaget namun tidak dengan Connor.


 


 


"M-maksudmu?" Tanyanya terbata, "Telepati." Kata Connor.


 


 


Telepati? Aku dan Connor? Batin Emely, mungkin akan terlihat keren namun Connor bisa tahu apa yang ada di pikirannya begitu sebaliknya.


 


 


Mr. Lieberher memegang salah satu dari tangan Connor dan Emely, "Siap?" Tanyanya.


 


 


Connor mengangguk dan Emely mengangguk dengan sedikit ragu, dan setelah itu Emely merasakan ada sesuatu yang mendenging di telinganya begitu pun dengan Connor.


 


 

__ADS_1


Rasanya seperti di restoran kala itu, Batin Emely.


 


 


Setelah beberapa menit, Mr. Lieberher melepaskan tangan mereka. Emely dan Connor saling pandang lalu Emely merasakan ada yang memanggilnya, suara Connor dari dalam kepalanya.


 


 


Lalu Mr. Lieberher meninggalkan mereka berdua, "Emy..." Panggil Connor saat berjalan mendekati Danau dan duduk di sana.


 


 


"Sebelumnya maaf, saat di restoran aku berusaha bertelepati denganmu." Ucapnya disusul Emely duduk di sampingnya.


 


 


Emely hanya tersenyum dan mengangguk, "Jadi...?" Tanya Emely.


 


 


"Apa?" Balas Connnor yang berupa pertanyaan juga.


 


 


Lalu keduanya tertawa, diam-diam Connor memerhatikan cara Emely tertawa yang menurutnya lucu.


 


 


"Aku ingin dengar teori tentang waktumu itu." Ujar Emely sesudah tertawa.


 


 


Connor menghadap ke samping, "Bagaimana jika sesungguhnya tidak ada jam, tidak ada menit maupun detik. Terdengar konyol? Tentu." Ucapnya.


 


 


Emely kebingungan, "Maksudmu tak ada jam, menit dan detik?" Tanyanya.


 


 


"Coba pikirkan, kita hanya mengenal waktu pagi, siang dan malam. Bagaimana?" Ia malah bertanya kepada Emely.


 


 


"Aku tak mengerti maksudmu," ucapnya.


 


 


"Ya itu maksudku, tidak ada jam, menit dan detik." Jelasnya.


 


 


Emely makin kebingungan, "Tapi nyatanya ada, eh?" Balasnya.


 


 


"Sudahlah, hanya teori lama." Connor bangkit dari duduknya dan memandangin Danau dengan Bebek yang ada di sana.


 


 


"Ada satu teori lagi, bukan tentang waktu. Teorinya mengatakan bahwa kau bisa saja menemukan cinta dalam perjalanan yang tak terduga." Lalu ia tersenyum.


 


 


Emely merasakan jantungnya berdegup kencang dan ikut tersenyum.[]


 


 


 


 


"Ku rasa aku tahu siapa cintaku tersebut."


 


 


Connor McDoughlas


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2