
Malam telah tiba, Connor dan Emely melempar pandangan satu sama lain. Lalu Connor menggunakan kekuatannya untuk melindungi mereka dan mobilnya.
Emely tersenyum, melihat cahaya biru itu. Connor menatapnya dan tersenyum.
Nampaknya Kimberly sudah bisa diam, tapi nasib Kenedy yang mengompol di celana. Ia tak berani bilang bahwa ia mengompol.
"Jadi, sudah rindu Kakekmu atau belum?" Tanyanya.
"Setiap hari aku rindu dirinya," ungkap Emely.
"Juga, orang tuaku." Lanjutnya.
James berhenti sejenak, "Seduh kopi dahulu sebelumnya." Ia mengeluarkan beberapa bungkus untuknya, Bryce, Connor dan Emely karena Kimberly dan Kenedy rak mau.
Setelah selesai mereka meminum kopinya masing-masing. James meminumnya sedikit dan menyisakan untuk nanti dan melanjutkan mengemudi.
Udara malam yang dingin menusuk kulit mereka berdua, Connor melepaskan sweaternya lalu memberikan kepada Emely.
Emely terheran, "Apa?" Connor menyuruhnya untuk memakainya.
lalu ia memakainya sendiri, ia memeluk tubuhnya sendiri.
Lalu mobil memasuki area hutan, Emely ketakutan tetapi Connor bersikap biasa saja. Hanya hutan, ucapnya dalam hati.
Semoga saja hal buruk tak terjadi pada mereka, apalagi sudah malam. Dalam diam, ada yang memerhatikan mereka.
Orang itu berjalan mengikuti mobil mereka, bersembunyi di balik pepohonan yang menjulang tinggi. Dengan masker harap tak ada yang mengenalinya.
Hanya Hutan itu satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai State Of Time, jika ada jalan lain pun mereka sudah mengambil jalan tersebut.
Ia bergerak cepat, penampilannya agak mirip dengan ninja. Pisau-pisau yang ia letakkan di bagian sampingnya. Ia mengincar-ngincar Lelaki bermata sipit itu sejak lama.
Mobil tiba-tiba melaju dengan cepat, ia pun bergerak semakin cepat. Dengan kemampuan berlari cepat ia mengejar mobil tersebut sampai dimana ia tiba-tiba tersandung dan Connor menyadari ada sesuatu yang aneh namun ia memilih tak memikirkan tetapi masih mengusik pikirannya.
Ia bangkit kembali lalu mengejar ketertinggalannya dan berhati-hati takut jika ada yang menyadarinya, ia sudah tak tahan ingin membunuh Lelaki itu.
__ADS_1
Ia terus saja ingin mengambil pisau lalu menggorok tenggorokan Lelaki itu. Jeritannya sudah terbayang-bayang di pikirannya. Sebuah pemandangan yang indah sebelum dunia akan hancur.
Ia terus mendekati mobil yang sudah dekat dari jangkauannya namun Connor telah melihat ada siluet seseorang, lia waspada lalu dengan kekuatannya ia berusaha memindahkan mobil ke luar area hutan.
Dengan tenaga yang cukup terkuras, ia berusaha menyatukan kemamluan telekinesisnya juga kekuatan ajaibnya. Agak susah memang namun ia terus mencoba.
Orang tersebut sudah menunjukkan batang hidungnya, Emely kaget melihatbya dengan pakaian seperti itu dan pisau di tangannya. Ia berteriak yang membuat orang-orang di sana melihat ke arahnya.
Saat orang itu semakin dekat, Connor terus mengerahkan segala tenaganya. Keringat hingga membasahi wajahnya di malam yang dingin ini, hingga ia berhasil memindahkan mereka semua dan mobilnya keluar area Hutan.
Hilangnya mobil tersebut membuat orang itu berdecak kesal, rencanya selalu gagal. Ia merutuki kesialannya.
Lalu mobil sudah di luar area hutan, setidaknya lebih jauh dari hutan dan sari krang yang ingin mencelakakan mereka itu.
Baru kali ini Emely meeasakan ingin muntah, terus-terusan muntah. Semua kegilaan ini, ingin saja ia pulang ke rumah tapi tak bisa.
"Oke, lanjut jalan lagi." James kembali tanca gas dan mengemudi di antara rumah-rumah yang sudah tertutup rapat.
"Sepi ya," ujar Bryce tapi tak ada yang merespon.
Ia lalu terlarut dalam pikirannya sendiri, karena tak ada yang menyahutinya.
Apa mereka tak takut ya hidup seperti ini, banyak penjahat seperti itu. Ah pasti takut, aku ini kenapa sih. Batinnya.
Ia menyisir rambutnya dengan kedua tangannya dan melihat dirinya di kaca spion. Sudah tampan aku ini duh, ucapnya dalam hati.
Ia mengeluarkan pomed lalu memakainya, melihat dirinya di kaca spion kalau sudah rapih atau belum. Lalu membenarkannya kembali.
"Tampan sekali aku ini," Ia masih menyisir rambutnya.
Dan kembali diam, terjebak dalam ruang nostalgia. Kembali pada masa kecilnya, ia teringat Kakeknya kala itu.
Ia jadi rindu Kakeknya yang sudah di Alam Lain itu, teringat saat Natal Kakeknya memberikan hadiah yang paling berkesan yang pernah ia dapat.
__ADS_1
Semua itu menjadi kenangan manis di dalam hidupnya, waktu-waktu yang berharga sebelum Kakeknya meninggalkannya yang meninggalkan kesedihan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena masih terbayang oleh Kakeknya.
Dan teman-temannya, seperti Emely, Kimberly dan Kenedy lah yang selalu ada saat masa itu Bryce dalam kesedihan yang mendalam.
Terlebih perhatian yang diberikan Emely, karena mereka sudah seperti Kakak-Adik pada masanya.
Namun perhatian Emely kala itu hanya sebatas teman saja tak lebih. Perasaannya kini berubah, ia mukai tertarik pada Bryce dan terus berubah, ia mulai nyaman dengan Connor.
Sweater Connor yang dipakainya memberikan kehangatan untuknya, ia perlahan tertidur dan semakin pulas. Cukup untuk hari ini, ia sangat ketakutan oleh hal-hal yang dialami hari ini.
Connor memerhatikan Emely di belakang, ia mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Emely. Lalu ia mengambil selimut satunya lagi untuk dirinya dan mulai terlelap.
Bryce masih terjaga, sedangkan keempat temannya sudah tertidur. Ya, Kimberly dan Kenedy sudah tertidur.
"Keberatan kalau kau yang mengemudi?" Tanya James.
Terlihat dari wajahnya yang sangat lelah, Bryce menggelengkan kepalanya lalu bertukar tempat duduknya.
Dan mulai mengendarai mobil lagi, James menguap lalu mengambil selimutnya.
Aneh juga sih kau minum kopi bukannya terjaga tetaoi kau malah mengantuk, tapi mungkin karena sangat lelah jadi rasa kantuk tak bisa dibendung lagi.
James menguap lagi dan memerhatikan Bryce yang sedang menyetir, James merasa bersalah juga mengacuhkan Bryce selama perjalanan berlangsung namun dirinya tak ingin diajak mengobrol dan semacamnya karena sangat lelah.
"Aku tidur ya Bryce." Yang sedang mengendara hanya mengangguk.
Aku harus tetap terjaga, batinnya.
Ia mencari kopi James yang tersisa, lalu meminumnya. Dan itu pun cukup untuk hari ini. Cukup menegangkan pun melelahkan.[]
__ADS_1