
Esok harinya saat mentari terbit, mereka menyempatkan waktu untuk mempelajari hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai State Of Time dan menyusun strategi untuk menggagalkan rencana D'Anger.
James dan Connor sedang melatih kemampuannya, Bryce dan Kenedy berlatih Karate mereka yang sudah tidak ditekuni setahun terakhir. Sedangkan Emely dan Kimberly membaca buku yang dipinjamkan Kakeknya Emely.
"Kau tahu?" Tanya Kimberly tidak mengalihkan perhatiannya dari buku.
Emely mendongak dan bergumam, "Apa?" Tanyanya.
"Ku rasa ini keren sekaligus menyeramkan di waktu yang sama, aku takut jika bertemu orang-orang jelek seperti di Perustakaan lagi." Tuturnya sambil bergidik ngeri.
Selanjutnya tak ada omong-omong lagi, hanya suara dari lonceng bambulah yang mengisi keheningan itu.
"Emely!" ia merasa ada yang memanggilnya lewat pikiran, ah iya dia ingat ia bisa bertelepati dengan Connor.
"Apa?" Balasnya.
"Bisa temani aku ke tepi Danau sebentar?" Tanyanya.
"Oke." Jawab Emely.
Lalu ia beranjak dari kursi, "Ingin kemana kau?" Tanya Kimberly memerhatikan Emely.
Ia menunjuk tepi Danau dan segera meninggalkan Kimberly dan buku yang ia baca.
Emely sedikit gugup karena kata-kata yang diucapkan Connor kemarin sebelum mereka meninggalkan tempat tersebut.
"Bagaimana?" Tanya Connor, Emely tidak mengerti.
"Telepatinya?" Tanyanya lagi, "Ah, bagus kok," jawabnya.
Lalu keduanya duduk di tepi Danau, Emely memerhatikan keadaan sekitar. Kicauan burung di pagi hari, ia bisa mendengar suara aliran sungai yang tak jauh dari sana.
Beda dengan Connor, ia menatap air Danau dan terlintas kenangan tentang Ibunya. Saat ia makan sushi bersama Ibunya, saat ia sakit Ibunya selalu berada di sisinya dan saat ia menangis pundak Ibunya yang menjadi sandaran.
"Apa kau bisa mengetahui isi pikiranku?" Tanya Emely.
__ADS_1
Connor menatapnya, "Hm, bisa saja. Tapi itu tingkatnya lebih susah dari bertelepati." Jelasnya.
Jadi kita tidak bisa membaca isi pikiran satu sama lain ya? Batin Emely.
Kimberly meneriaki dua orang yang sedsng duduk santai di tepi Danau itu untuk sarapan, mereka bangkit dan menuju ke rumah.
"Dasar dua kasmaran, apa tidak lapar duduk di sana saja daritadi?" Cibir Kimberly.
"Hanya berbincang sebentar saja, ayolah." Emely meminum segelas air karena haus.
"Kenapa dia sangat bawel sih?" Tanya Connor bertelepati.
Emely tertawa kecil lalu menatap orang yang berada di sampingnya, Connor, "Baru tahu, eh?" Balasnya.
Connor memutar kedua bola matanya malas. Itu sangat lucu, pikir Emely.
"Ekhem, semuanya tolong perhatikan aku." James angkat suara.
"Kita akan melanjutkan perjalanan siang nanti, pastikan bawa bekal secukupnya dan jangan terlalu memforsir tenaga kalian, oke?" Ucapnya ditutup dengan dahi mengkerut dan wajah lumayan seriusnya yang lucu.
Mereka semua memakan pancake buatan Mr. Lieberher, ya memang ia jagi memasak. Saat Emely kecil ia selalu membuatkan pancake untuknya saat sarapan.
Ingin rasanya ia memuntahkan segala isi kepalanya, ia terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting dan yang seharusnya tak ia pikirkan namun ia lakukan kedua itu. Memang, manusia itu sungguh aneh.
Beda dengan Connor, jantungnya berdegup kencang, kepalanya seperti berputar-putar dan di perutnya seperti ada ribuan gajah yang baru saja keluar dari Kebun Binatang. Semuanya tak dapat diartikan dan tidak harus diartikan. Terkadang begitu dan seperti adanya.
Mr. Lieberher melihat mereka dari pintu dan meikirkan apa yang akan terjadi juga tak hentinya ia berdoa terlebih pada Emely.
Lindungilah Emely Ya Tuhan, juga semua teman-temannya. Semoga mereka bisa menggagalkan rencana D'Anger, Tuhan memberkati kalian selalu. Batinnya.
Sarapan sudah selesai, mereka kembali melanjutkan aktivitasnya kecuali Connor. Ia melamun melihat piring kosong di hadapannya.
Semuanya tak mudah, ini semua sulit. Aku tak sanggup namun aku harus, tanpa Ibu ini semua terasa tak berarti namun Ibu bilang setiap momen dalam hidupku berarti.
Aku terkadang merasa seperti terjebak, hilang dalam lamunan, sesak yang mendekap, memenuhi keinginan mereka dan bukan yang ku mau.
__ADS_1
Berat untuk menerima, semua beban dipanggul, sebuah topeng untuk menutupi semuanya, semua ini kebohongan. Batinnya.
Emely memerhatikan Connor sebentar lalu melanjutkan membaca bukunya. Sebaiknya nanti saja, aku tak ingin mengacau. Batinnya.
Namun Emely tak bisa fokus, pikirannya kemana-mana. Melihat Connor begitu ia menjadi heran, juga gelisah pada orang tuanya. Ia takut, mungkin lebih dari takut.
Sekarang ia sedang terjebak dalam ruang waktu yang membawanya kembali dimana ia masih kecil, saat ia berangkat ke sekolah diantar oleh Ibunya. Bubur gandum buatan Ibunya, wangi rumahnya kala itu. Semua teman kecilnya, pesta ulang tahunnya yang ke-6 banyak orang di sana dan Bryce yang sudah menjadi cinta pertamanya sejak kecil, namun sekarang entah perasaan Emely mungkin bisa saja berubah.
Omong-omong dengan perasaan ia melihat di pikirannya saat pertama kali bertemu Connor dan ia yang ketus dan berubah menjadi baik terhadapnya merupakan sebuah keajaiban.
"Knock knock!" Seru Kimberly dengan tidak sabaran.
Emely terkejut dan menepuk lengan Kimberly, "Daritadi aku panggil kau tidak menyahut." Kesalnya.
Emely mengusap wajahnya, "Oke, aku minta maaf hanya sedang memikirkan sesuatu saja tadi." Ia melihat ke sekitar dan Connor sudah tak ada di tempat ia melihatnya.
"Main knock knock saja yuk," ajak Kimberly, "Ayo saja." Balas Emely.
"Knock knick!" Ucap Kimberly.
"Siapa di sana?" Tanya Emely.
"Will di sini," balasnya, "Will siapa?" Tanya Emely.
"Will you marry me?" Lalu mereka berdua tertawa bersama, dan semua pikiran Emely lepas begitu saja bak balon yang diterbangkan.
Connor yang sedang duduk di tepi Danau merasa kesepian, ia masih memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Aku ini kenapa? Kenapa diriku tidak bisa dimengerti oleh diriku sendiri? Kebapa semuanya sulit diartikan? Batinnya.
Ia memeluk kakinya, "Entahlah." Ucapnga pelan.
Ia menutup matanya, hembusan angin dan udara yang menyejukkan, suara tupai melompat dari pohon ke pohon, aliran sungai. Semua itu berhasil mengurangi rasa gelisah dan pikirannya yang berkecamuk.
Memang susah melupakan semua masa-masa itu, mungkin tak akan pernah. Aku pernah berada di posisi terbawah dalam hidupku, penuh dengan stress dan depresi juga mengetahui saat itu aku pindah ke kota baru sangat berat bagiku untuk memulai yang baru. Sekarang aku siap memulainya, mengambil tantangan dan menerima risiko yang ada.
__ADS_1
Membuat sejarah baru yang mungkin akan berarti bagiku, tak masalah akan buruk atau seperti apa. Aku membuat sesuatu yang berarti bagiku.
Dan yang pernah terjadi sebelumnya seperti menyelam ke lautan yang sangat dalam dan bukannya aku kembali ke daratan aku malah semakin ke dasarnya, sekarang aku akan kembali ke mana aku berada.[]